1

1326 Kata
Judulnya: Raja vs Jana's Fairy Godmother. Dah, gitu aja pembukaannya wkwkwk... . . . . Begitu pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Soekarno Hatta, gadis dengan pakaian serba hitam tersebut memastikan topi yang dia kenakan menutupi seluruh wajahnya. Dia tidak kabur untuk langsung ketahuan tentu saja. Hal paling penting yang harus dia lakukan saat ini adalah menemukan orang yang sepupu jauhnya tugaskan untuk menjemputnya. Gadis itu tidak akan mencari seseorang yang membawa papan bertuliskan namanya melainkan nama sang Kakak sepupu. Masalahnya saat ini hanya satu. Terlepas dari apakah orang rumah sudah menyadari dirinya menghilang atau tidak, tetap saja dia sedang menginjakkan kaki di pulau di mana keluarga Ayahnya berada. Siapa yang tau jika seseorang di antara mereka kebetulan berada di bandara. Apalagi salah satu Abangnya adalah orang yang paling sering lalu lalang di Bandara, Bang Ammar yang hidupnya terlalu sempurna sehingga Jana mengutuknya beberapa kali. Makanya, Jana harus berhati-hati dan juga berusaha secepat mungkin untuk mencari orang yang akan mengantarkannya pada sang Kakak. “Iya, Nenek.. Sabar dong, Nek! Nenek kira bandara kaya lapangan bola yang isinya cuma dua puluh tiga orang?” gerutu pria yang kebertulan berpapasan dengannya. Jana menyatukan kedua alisnya. Sedang berpikir kenapa di lapangan bola hanya ada dua puluh tiga orang saja. Jana langsung meraih ponselnya dan mencari kontak Shadiq Mahavir Esham hanya untuk mengirimkan pesan suara. “Diq! tanyo ciek.” (Diq! Mau nanya). Kemudian Jana menanyakan pertanyaan yang tidak penting sama sekali. Tidak penting karena pertanyaan barusan muncul dari orang yang tidak sengaja ia curi dengar obrolannya. “Ciek lai wasit, Cor! Ngang!” (Satunya Wasit, bodoh!) balas Shadiq setelah Jana menjelaskan bahwa dia hanya mengetahui bahwa satu tim beranggotakan sebelas orang dan dua tim berarti dua puluh dua orang. Sisa satu orang lagi yang dia tidak ketahui adalah wasit. *Cor maksudnya Bocor dan *Ngang maksudnya Bangang, keduanya sama-sama berarti bodoh. Jana berhenti hanya untuk memutar ulang pesan suara barusan. Ulang lagi dan ulang lagi, sampai matanya memanas. Kalau ada orang yang dia rindukan saat ini Shadiq adalah salah satunya, selain Ibu kandungnya tentu saja. Sialnya adalah tidak ada satupun di antara mereka yang bisa Jana temui dalam waktu dekat. Shadiq sedang di Hamburg sedangkan Ibu kandungnya.. Jana tidak tau. Memukul wajahnya sendiri, Jana kemudian kembali mencoba melihat orang-orang yang sekiranya datang untuk menjempunya. Sayang sekali pria tadi benar. Orang-orang di bandara ini terlalu banyak yang mana hal itu menyulitkannya. Tapi sial bagi Jana karena dua setengah jam kemudian, dia masih berada di bandara. Kakinya juga sudah mulai pegal. Bukan berarti Puti Jana Aretha Shaima Jebat tidak terbiasa berjalan jauh. Jana bahkan lihai sekali memanjat pohon. Hanya pohon pepaya saja yang belum penah dipanjatnya. Yang membuat sang Puteri Sumatera lelah adalah barang bawaannya. “Ya, Halo,” jawab Jana setelah duduk pada salah satu kursi yang kalau dia punya mata, pasti sudah pusing melihat Jana mondar mandir di sekitarnya sejak satu jam yang lalu. “Ga ada, Pa! Ga ada Nenek-nenek peyot yang keluar dari tadi. Aku ga buta, Pa! Sejak awal juga aku ga mau jemputin leluhurku ini,” dengus pria yang duduk tepat di belakang Jana. “Kalo misalkan Kakak keberatan aku numpang di rumah kalian, ga apa-apa. Mumpung masih di bandara, aku bisa langsung ke tempat Kakekku walaupun aku lupa nama negaranya. Entah Belanda, entah Amerika atau justru di Afrika sana. Aku punya fotonya kok, nanti minta tolong aja sama orang-orang baik di luar sana biar mereka bantu nyariin alamat Kakekku. Ya.. maksudku, aku bisa sih langsung ngadu ke Kakekku, tanya alamat beliau langsung. Takutnya beliau langsung lapor orang tuaku atau kena serangan jantung dan mati sendirian di luar negeri sana,” ucap Jana yang sangat tau apa yang dia inginkan. Tujuannya hanya Kak Siti Jamilah atau tidak sama sekali. Tapi dia tidak bisa menunjukkan maksud hatinya terlalu jelas atau Kakak yang tidak pernah ia temui ini tidak mau menerimanya. Kamu pikir Jana sudah selesai? Belum. “Ini kalau Makdang Ramdan tau, aku pasti kena rotan. Tau gini mending minum baygon yang ada di kamarku aja. Ga ngabisin duit ke Jakarta sendirian kaya gini.” “Aku janji ga banyak tingkah kok, Kak. Aku bisa bantu bersihin rumah tapi ga janji bisa bantuin masak. Aku juga bisa bantu jaga anak Kakak. Yang paling penting aku ga bakal godain suami Kakak. Aku anak baik-baik.” Pria yang duduk tepat di belakang Jana menoleh hanya untuk melihat seseorang yang bicara begitu mengiba. Mana barusan terisak pula. Pria itu bahkan mengabaikan Papanya yang berteriak memanggilnya di seberang sana. “Raja? Kamu dengar Papa?” “Raja! Nenekmu nekat mau ke Bandara. Ini yang kamu mau? Tega kamu sama Mama Papa?” pekik Papanya bisa didengar begitu baik oleh pria yang ternyata bernama Raja. Hanya saja Raja sedang sibuk menguping gadis yang sedang menangis. Gadis yang sama yang beberapa saat lalu menyesal tidak jadi bunuh diri. “Oh Kakak udah ga punya anak kecil?” tanya Jana pada Kakak yang entah sengaja menelantarkannya atau tidak. “...” “Ooh.. adanya cucu. Ga apa-apa aku bisa ngasuh cucu Kakak dua puluh empat jam. Nilam aku yang asuh dari kecil, bisa aku ngadepin anak-anak. Cucu Kakak cucuku juga.” “...” “Eh?! Jadi cucu kita ini lah yang jemput aku?” “Ngaco,” gumam Raja. Kalau gadis ini sudah punya cucu, Raja jadi penasaran umur berapa dulu Neneknya menikah. “Bisa sejauh itu jarak umur mereka adik-kakak,” ucapnya geleng-geleng kepala. Menghembuskan napas panjang, Raja kemudian bangkit untuk mencari Nenek barunya. Meninggalkan wanita yang sepertinya punya orang tua yang terlalu produktif. Kali ini Raja sengaja mengabaikan telfon semua anggota keluarganya yang tampak kurang kerjaan sekali hari ini. Tau begitu harusnya tadi mereka saja yang menjemput adik Nenek. >>> “Raja!” seru Mama begitu Raja menjawab panggilan telfonnya. Raja tau Mama bukan bermaksud Marah. Mama pasti hanya khawatir padanya karena saat ini suami beliau lah yang sedang marah besar. Kalau bukan gara-gara Nenek yang selalu mengancam lebih memilih mati dari pada cucu semata wayangnya keluar dari rumah, sudah dari dulu Raja cabut dari rumah pria Maha benar tersebut. “Aku masih nyari, Mama. Belum ketemu-ketemu juga. Ini Neneknya bener ngambil penerbangan Padang-Jakarta, ‘kan? Bukan Padang-Alam baka?” “Udah ketemu. Kamu dimana? Hayuk pulang bareng.” “Aku pulang entar aja lah,” rengek pria dengan tinggi seratus delapan puluh tersebut. Sudah pasti dia akan mendapat amukan Papanya. Apalagi ini si Nenek baru adalah Nenek dari pihak Papa. Wah, pastinya makin semena-mena beliau. Sayang sekali ponsel Mama langsung disambar oleh Nenek. Dengan nada lembutnya itu, mana bisa Raja menolak. Kadang Raja curiga bahwa sebenarnya Nenek membencinya. Memang tidak pernah sekalipun Nenek bicara dengan nada tinggi tapi anak kesayangan beliau lah yang selalu memastikan Raja mendapat hardikan atau kalau perlu pukulan untuk tiap kesalahan yang dibuatnya. Setelah mengetahui di mana Mama, Nenek dan juga algojo kesayangan mereka berada, Raja langsung kesana hanya untuk menemukan tidak ada Nenek-nenek lain di antara ketiga orang tersebut. Alih-alih wanita paruh baya, justru gadis yang Raja yakin sekali adalah gadis yang sama yang ia curi dengar obrolannya satu jam yang lalu. “Apa-apaan ini?!” ucapnya membatin sambil terus mendekat. Kemudian obrolan tadi menjadi masuk akal. Orang yang bicara di telfon dengannya juga mengatakan bahwa gadis itu dijemput oleh cucu Kakaknya. Tapi masa iya ada Nenek semuda ini? “Lo.. Nenek gue?” tanya Raja setelah menarik lengan wanita yang beberapa saat yang lalu memeluk Neneknya. Raja juga sengaja membuka topi gadis itu untuk memastikan apakah dirinya sedang dikerjai karena ini adalah hari ulang tahunnya atau justru Nenek-nenek Zaman sekarang juga gencar melakukan perawatan. Hanya saja kejadiannya begitu cepat. Secepat topi tersebut berpindah dari kepala gadis itu ke tangannya, secepat itu pula dia menutupi wajah dengan kedua tangannya dan secepat itu pula gamparan Papa mengenai wajahnya. “Oh.. ini bukan kejutan ulang tahun sama sekali,” ucap batin pria itu sambil menatap nyalang pada algojo kesayangan Mama dan juga Neneknya. “Gue pasti anak pungut!” gumamnya sambil menahan perih dan juga malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN