Bab 2. ego

700 Kata
"Selamat pagi, Dokter Elara." "Pagi." Elara Pramesti membalas sapaan para perawat dengan anggukan singkat. Jas putihnya berkibar mengikuti langkah yang cepat menuju nurse station. Wajahnya masih menyisakan sisa kekesalan sejak insiden pagi tadi. Belum sempat duduk, ia sudah meraih tumpukan rekam medis pasien. "Pagi-pagi mukanya udah ditekuk begitu. Siapa lagi yang bikin kesel?" tanya Dokter Siska sambil menyeruput kopi. Elara mendengus. "Hama kompleks." Siska terkekeh. "Dokter Keanu?" "Selain dia memang ada?" "Kalian itu lucu." "Apa lucunya?" "Di luar rumah kayak Tom sama Jerry. Begitu masuk rumah sakit, semua orang nganggap kalian pasangan dokter paling hebat." Elara langsung mengangkat wajah. "Pasangan?" "Iya. Residen baru semalam ngobrolin kalian." "Apa katanya?" tanya Elara memperbaiki rekam medis diatas mejanya. "Katanya kalau lihat kalian jalan di koridor, auranya cocok." Elara memutar bola mata. "Cocok buat saling bunuh." Siska tertawa lebih keras. "Ra, sampai kapan sih kalian mau perang?" "Sampai dia sadar kalau nyebelin itu ada batasnya." "Kamu masih yakin dia yang bikin beasiswa Jerman kamu gagal?" Elara menutup berkas di tangannya sedikit lebih keras. "Yakin," jawab Elara. "Ada buktinya? Ra?" "Nggak ada. "Nah." "Tapi firasat gue nggak pernah salah." Siska hanya menggeleng pelan, ia mengenal Keanu cukup lama. Pria itu memang dingin dan sulit ditebak, tetapi entah mengapa Siska tidak pernah percaya Keanu akan menjatuhkan Elara. Justru yang sering ia lihat, tatapan Keanu kepada Elara selalu terlalu lama untuk disebut benci. Belum sempat percakapan berlanjut, suara alarm menggema dari seluruh penjuru rumah sakit. "Code Blue. IGD. Code Blue. IGD." Suasana koridor berubah seketika, perawat berlarian, Residen saling memanggil. Telepon di meja nurse station berbunyi hampir bersamaan. "Dokter Elara, kecelakaan beruntun. Korban banyak!" seru seorang perawat. Elara langsung mengenakan masker. "Sis, nanti lanjut." "Oke." Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju Instalasi Gawat Darurat. Begitu pintu otomatis terbuka, pemandangan di dalam membuat siapa pun yang melihat langsung memahami betapa buruk situasinya. Beberapa pasien memenuhi brankar. Tangisan keluarga bercampur suara monitor jantung. Bau darah memenuhi udara. "Dokter Elara!" panggil seorang residen bedah. Elara segera menghampiri. "Laporan." "Pria lima puluh dua tahun. Korban kecelakaan beruntun. Trauma tumpul abdomen. Tekanan darah tujuh puluh per empat puluh. Nadi seratus empat puluh. Abdomen distensi, diduga perdarahan intraabdomen." Elara langsung memeriksa pasien. "FAST?" "Positif, Dok." "Crossmatch darah?" "Sudah." "Siapkan empat kantong PRC." "Siap." Elara menatap seluruh tim. "Kita bawa ke ruang operasi. Kemungkinan ruptur limpa atau hati. Kita nggak punya banyak waktu." "Baik, Dok." Brankar mulai didorong. "Tunggu." Suara berat itu membuat semua orang spontan menoleh. Dokter Keanu Veyron berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Dokter Keanu," sapa salah seorang residen. Keanu tidak langsung menjawab, ia memeriksa pupil pasien menggunakan penlight. Kemudian meraba respons nyeri dan mengamati pola napas pasien. "Anisokor," gumamnya. Elara menatapnya. "Ada masalah?" Keanu mengangkat pandangan. "Pasien ini bukan hanya mengalami shock hemoragik." "Maksud Anda?" "Pupil kanan melebar. Respons cahaya melambat." Elara kembali melihat kondisi pasien. "Perdarahan di abdomen jauh lebih mengancam." "Saya setuju." "Lalu?" "Tapi, saya curiga ada cedera otak berat." Ruangan mendadak lebih sunyi, Keanu melanjutkan. "Kemungkinan epidural hematoma atau subdural hematoma. GCS-nya juga turun." Elara menyilangkan tangan. "Dokter Keanu, tekanan darahnya terus turun. Kalau perdarahan di perut tidak dihentikan sekarang, pasien kehilangan kesempatan hidup." Keanu mengangguk. "Benar." "Karena itu kami harus segera laparotomi." "Saya juga tidak menolak operasi." "Lalu kenapa menghentikan kami?" tanya Elara mulai emosi lagi. Keanu menatap monitor pasien. "Karena induksi anestesi bisa memperburuk tekanan intrakranial." Elara terdiam sesaat. Keanu kembali berbicara dengan nada tetap tenang. "Kalau benar ada perdarahan intrakranial masif, pasien bisa mengalami herniasi otak saat induksi." Salah seorang residen menelan ludah. "D-dok... lalu bagaimana?" Elara dan Keanu saling berpandangan, tidak ada kebencian dalam tatapan mereka. Yang ada hanyalah dua dokter spesialis dengan pertimbangan berbeda, sama-sama berusaha menyelamatkan satu nyawa. Elara membuka suara lebih dulu. "Usulan Anda?" "CT Scan kepala secepatnya sambil tim anestesi melakukan resusitasi agresif. Kalau kondisi memungkinkan, kita koordinasi operasi damage control dan bersiap bila tindakan bedah saraf harus dilakukan segera." "CT Scan butuh waktu." "Benar." "Pasien ini juga tidak punya banyak waktu." "Saya tahu." Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Semua mata kini tertuju kepada dua dokter spesialis terbaik Rumah Sakit Medika Utama. Mereka bukan sedang mempertahankan ego. Mereka sedang mempertaruhkan keputusan yang akan menentukan hidup atau mati seseorang. Dan, dalam dunia medis, satu keputusan yang salah bisa menjadi penyesalan seumur hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN