“Sayang ayo masuk, terus tutup lagi,” ajak Tan Mey.
Tan cantik itu sudah biasa memanggil para brondong dengan embel-embel sayang.
“Masuk ke mana dulu ini,” jawab nakal Sag.
“Ya kedalam situ. Apa kamu mau masuk ke dalam yang selain itu,” jawab Tan Mey. Ia menunjuk ke dalam kamar, lalu menunduk dan berkedip ke arah kue bakpao miliknya. Montok dan tentu saja masih terawat dengan baik. Maklumlah Tan Mey masih jomblo. Perempuan yang berusia 39 tahun tapi memilih untuk hidup santai tanpa ada suami yang mengekangnya.
“Wao.”
Ucap Sag dengan tersenyum.
“Heh, aduhhhh deh. Kamu ini apa mau ngobrol sambil berdiri. Kan gak enak Sag. Kecuali ngobrolin yang seru, basah sambil berdiri gak apa-apa. Uhh mantap deh. Tan suka.”
“Siap Tan,” sahut Sag.
Ia segera masuk dan di susul Sag yang berjalan dengan gagahnya. Senyuman manis dari bibirnya yang tipis. Kulit putih dan masih mulus seperti anak angsa baru menetas.
“Duduk dulu ya,” ucap Tan Mey.
“Ok Tan.”
Sag duduk di sofa warna merah. Sofa empuk yang menjadi tempat Tan Mey beristirahat.
Tan Mey membuka lemari dan mengambil baju sexi berwarna cream, serta meraih tisu.
“Tan ganti baju ya,”
Tan Mey masuk ke dalam kamar mandi. Melepaskan baju yang dari pagi dipakai. Sepertinya Tan Mey tidak nyaman jika memakai pakaian yang sudah kena keringat. Apalagi di Cafetaria terlihat ramai pengunjung, sudah pasti bau dari parfum orang-orang pun bercampur. Itu membuat Tan Mey risih. Biasa wanita cantik meskipun usianya sudah matang tetap Tan Mey masih dagangan, buat para calon suami yang mencari jodohnya.
“Ehmmm,” jawab Sag sambil mengangguk pelan.
Sag yang tidak memperhatikan Tan Mey justru terlihat santai merebahkan tubuhnya di sofa merah. Sag mengambil handphonenya di saku dan membuka chat dari temannya. Sambil menunggu Tan Mey yang sedang berganti baju.
“Tan, masih lama gak?” tanya Sag.
“Udah gak tahan ini.”
“Haa!”
“Usstt, duh buruan Tan ....”
“Kamu ini belum juga pemanasan global, kok dah gak tahan sih.”
“Makanya Tan keluar dong. Kenapa lama-lama di situ.”
“Gimana mau keluar, belum juga apa-apa.”
“Kok lama.”
“Tergantung.”
“Tergantung apa Tan?” Tanya Sag.
“Siapa lawannya ....”
“Lawan?”
Sag berpikir diam, lalu berpikir jika tante Mey sudah ngelantur.
“Iya dong Sag, kalau lawannya hebat pasti bisa lama. Tapi kalau lawannya lemah, ya malas. Masa baru naik sudah muncrat air kerannya.”
“Oh air kran. Kirain apaan.”
“ Tapi kran yang bisa otomatis. Buka tutup sendiri. Kan enak Sag.”
“Ada ya keran air yang bisa buka tutup sendiri.”
“Ada dong, tinggal kipas in tangan tuh air bisa menyembur sendiri. Hangat pula, tapi kalau mau dingin bisa sih, asal jangan dalam-dalam.”
“Jangan dalam-dalam?”
“Enak yang dalem Tan. Bisa ke celup semuanya. Enak berenang bisa pakai gaya apa saja. Jadi gak masalah kalau airnya dingin.”
“Ho' oh Sag. Enak yang dalem ternyata. Masuknya emang agak seret, lama-lama bless begitu ....”
“Bless? Nyemplung apa tancep Tan?”
“Dua-duanya Sag.”
“Basah kuyup Tan,” sambung Sag.
“Dari pada nanggung , dah kecemplung. Ya udah deh, mandi sekalian. Enak bareng mandi tuh,” sahut Tante Mey dari kamar mandi.
“Pantes di kamar mandi lama, ternyata sekalian. Sekalian mandi, pis dan bab.”
“Iya sekalian, jelas lama. Apa lagi kalau kamar mandinya bersih, nyaman ada kacanya. Tan suka.”
“Sambil ngaca Tan?”
“Iya Sag, berasa jadi artis kamar mandi. Makanya kamar mandi ini Tante rehab."
“Kapan?”
“Seminggu yang lalu, pas kamu gak ke sini.”
“Duh jadi penasaran. Pastinya cantik kayak yang punya.”
“Jelas dong.”
“Buruan dong, ayokkkk keluar.”
“Sabar Sag, harus keset dulu.”
“Jangan keset-keset, bikin susah masuk.”
“Keset di awal, habis itu licin alami Sag. Biasakan kalau karpet kamar mandi kalau kena air kran jadi licin. Jadi harus rajin di sikat," sahut Tan Mey.
“Bisa gitu ya, Sag baru tahu, kalau kran bisa keset, bisa licin di karpet."
“Ya kalau keset kan rajin di bersihin. Terus kalau licin kan ....”
“Apa Tan?”
“Kepleset,” setelah beberapa saat diam, akhirnya Tan Mey menjawab.
“Itu sudah pasti. Licin bikin tergelincir, kepleset nyungsep.”
“Iya emang gitu. Tapi Sag.”
“Tapi apa Tan?”
“Kalau nyungsep di sini enak.”
“Enaknya kenapa Tan?”
“Empuk.”
“Memangnya pakai ganjel ....”
“Tan sudah bilang tadi, asli.”
“Mana Sag tahu.”
“Kamu ini, gak ke sini seminggu sudah meragukan keasliannya.”
“Siapa tahu ada baru kok.”
“Memang ada yang baru Sag. Jacuzzi!”
“Waoo, Tan.”
“Uhhh, bisa berendam dan mandi uap sambil menikmati lilin aromaterapi dalam waktu yang lama.”
“Siapa yang sudah nyobain?”
“Tan doang, kan juga baru seminggu.”
“Kirain sudah.”
“Belum Sag!”
“Bisa untuk dobel kan?”
“Tentu bisa Sag. Kokoh banget ini. Aman, kok. Whirlpool bathtub, emang nyaman di pakai. Itu loh, seger karena ada uap-uap air bertekanan tinggi.”
“Bisa untuk menenangkan syaraf Tan?”
“Tentu saja. Whirlpool bathtub ini cocok untuk desain interior kamar mandi mewah dan berkelas. Seperti tempat Tan ini.”
“Cocok, harganya juga cocok.”
“Biasa kalau menurut ukuran kantong Tan.”
“Tapi awas, licin.”
“Sag! Supaya tidak licin, karpet berbulu tebal bisa dipakai mengelilingi tepi whirlpool bathtub kok.
“Ok, sip. Bisa betah ini.”
“Kamu penasaran, kan?”
“Tan ini, banyak kata.”
“Tunggu! Nanggung ini, mau basuh dulu.”
“Bukannya tadi udah.”
“Udah tapi licin lagi. Ya udah akhirnya basuh lagi, biar wangi Sag. Kan kalau baunya harum enak Sag.”
“Enak? Harum? Kayak kue bakpao dong.”
“Menurut Tan bukan Cuma kue bakpao. Pizza.”
“Ukuran apa kalau pizza?”
“Xl Sag.”
“Mantap.”
Sag memegang handphone. Berbaring di sofa sambil menaikkan kaki kirinya ke kaki kanan yang bersedeku.
Hening sesaat, Sag menerima pesan dari temannya. Sepertinya temannya itu tidak bisa datang tepat waktu. Sang membalas pesan dengan santai. Sesaat ia menghentikan percakapan dengan Tan Mey.
“Sag tolong!” ucap Tan Mey.
Sag menoleh ke arah kamar mandi yang tidak tertutup sempurna. “Apa sih Tan? Aku lagi chat teman.”
“Pceecchhchhh, huhh,” mengecap kesal.
Sag menggerutu.
“Sag taruh dululah handphone kamu.”
Wajah Tan Mey melongok keluar. Leher ke bawah masih bersembunyi di balik pintu kamar mandi.
“Habisnya Sag kesel banget sama Tan,”
“Loh kenapa? Apa kamu marah pas Tan suruh sabar, gak tahan tadi kan.”
“Iya tadi gak tahan banget. Lama-lama ilang sendiri, dah gak berasa lagi. Ngobrol tadi bikin ilang fokus.”
“Kamu ini, sukanya buru-buru.”
“Kok buru-buru! Kan emang kebelet tadi, gak tahan.”
“Ya udah deh. Sekarang tolongin Tan. Nolak, awas! Gak Tan jamu, biar kosong tuh atm kamu.”
“Kosong Tan, seminggu ini. Gak enak banget, jadi pingin ngisi.”
“Di isi juga keluar lagi,” celetuk Tan Mey.
“Memang sudah seharusnya seperti itu. Kalau isi penuh terus gak di keluarin, gak enak. Gak bisa menikmati keindahan surga dunia.”
“Huh, buruan tolong!”
“Iya-iya, apa?” Sag menaruh handphone lalu bangun dan berjalan menuju Tan Mey.
“Buruan.”
“Apa?”
Berhenti di depan pintu kamar mandi.
“Tolong ambilkan bra Tante!” pinta Tan Mey.
“Oh ....”
Sag menelan ludah, sambil menatap wajah tante Mey yang putih mulus seperti hati pohon pisang.
“Heh! Malah bengong. Heran ya, seminggu gak kesini.”
“Heran sih gak tapi memang Sag pingin bengong kok.”
“Ngeles loh.”
“Bukan. Hanya menikmati ciptaan Tuhan. Sayang gak dipandang.”
Sag yang asyik bercanda dengan Tan Mey. Mengikuti setiap obrolan dengan santai. Sag yang tadinya kebelet pis seketika mampet karena terlalu lama menunggu giliran ke kamar mandi. Keinginannya untuk buang air musnah seketika.