Wanita misterius itu tetap bersikeras, "Tidak ada kesalahpahaman. Saya hanya muak melihat orang-orang seperti kalian, merasa hebat hanya karena bisa bernyanyi dan bermain sandiwara!" Queeny, yang sudah bersih dari air minum, mencoba mengambil kendali situasi. Ia berdiri. "Maafkan kami jika membuatmu tidak nyaman. Setiap orang punya cara masing-masing dalam mengekspresikan diri, dan seni adalah salah satu caranya. Tapi kalau memang kamu tidak suka, itu hakmu. Mari kita hormati perbedaan." Wanita misterius itu membiarkan senyum sinis merayap di bibirnya, "Hormati perbedaan? Kata-kata indah yang tak lebih dari retorika kosong. Saya tahu betul, di balik senyum manis itu, kalian semua hanya manusia biasa dengan keegoisan masing-masing." Reza, yang merasa semakin terusik dengan sikap wanita

