"Ya. Kau benar, Nathan. Aku tidak tuli bahkan aku mendengarnya dengan jelas." Ucap Chika dengan menekankan semua ucapannya.
"Baguslah kalau begitu." Ungkap Jonathan sambil mengelus-elus puncak rambut Daisy. Mata Chika semakin memanas, mengapa semua pemandangan buruk ini harus terjadi tepat di depan matanya. Mengapa tidak di tempat lain saja, di cafe, di tempat wisata atau di tempat mana saja agar dia tidak melihat dengan mata telanjangnya sendiri.
"Baik. Jika itu yang kamu mau, saya akan memutuskan keputusannya sekarang, tuan Jonathan." Ucap Chika sambil menekankan kata di akhir kalimatnya. Sedangkan Jonathan tersenyum sinis, apalagi setelah melihat kini Chika yang sedang mati-matian menahan amarah dihadapannya.
"Silahkan" Ucap Jonathan.
Chika tidak bisa berkata apapun, selain dia harus menahan rasa nyeri dan juga sesak di dadanya.
"Jadi, apa keputusan yang sudah kau pilih, Chika." Lanjut Jonathan yang sedari tadi melihat Chika yang hanya diam saja.
Chika menarik nafas berat, kemudian menatap Daisy dengan penuh amarah, namun sebisa mungkin ia tetap harus menahannya.
"Saya tidak membenci kamu, Daisy. Saya juga tidak menyalahkan kamu karena sudah masuk dan mengusik kebahagiaan juga rumah tangga saya bersama, Jonathan. Saya ikhlas kamu mengambilnya dari pelukan saya," Chika menggantungkan ucapannya karena rasa sesak di dadanya semakin terasa. "Saya juga tidak membencimu, Jonathan. Hanya saja saya tidak menyangka, engkau seorang makhluk ciptaan Tuhan yang sudah berani mengucapkan janji suci di hadapan semua para saksi juga di hadapan Tuhan sekaligus, ternyata bisa berkhianat karena makhluk yang sama atas ciptaannya juga." Lanjut Chika dengan suara parau.
Jonathan berdehem kecil sambil tersenyum sinis.
"Sayangnya itu dulu, Chika Amanda" Ucap Jonathan dengan menekankan nama Chika.
"Jadi cepatlah pilih keputusanmu, sebelum aku yang memutuskan." Lanjutnya.
Chika tersenyum getir, tidak ada lagi yang harus chika lakukan selain berbicara tentang keputusan yang akan dia ambil dengan pilihan yang Jonathan berikan kepadanya.
"Baik, saya akan pergi dari rumah ini dan," Chika menjeda pembicaraannya, mulutnya begitu terasa kaku untuk membicarakan semua ini. Cucuran air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya yang cantik dan sayu. Namun setelah beberapa menit Chika menyerahkan rasa sakitnya lewat air mata, kemudian Chika berusaha untuk memberhentikan air matanya agar tidak kembali membasahi pipinya.
"Saya akan meninggalkan, Ona." Lanjut Chika dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Air matanya begitu cukup membendung di pelupuk matanya.
Dewi benar-benar terkejut mendengar akhir keputusan yang diambil Chika.
"Nyonya, bisakah anda pikir-pikir lagi tentang keputusan itu?" Dewi menjeda ucapannya sambil mengatur nafasnya.
"Ona masih gadis kecil, nyonya. yang pastinya masih sangat butuh kasih sayang dari seorang ibu. Cobalah untuk tidak egois, nyonya." Lanjut Dewi mengingatkan. Sedangkan Chika menundukan kepalanya mencerna setiap kata yang diucapkan Dewi kepadanya.
"Ini pilihan saya, Dewi. Saya yakin ini yang terbaik untuk akhir kisah rumah tangga saya dengan Jonathan. Saya juga percaya bahwa Daisy bisa menjadi ibu tiri yang baik untuk anak saya, Ona." Ucap Chika lalu tersenyum getir. Setelah itu Chika pergi meninggalkan mereka di ruang tamu, karena Chika merasa sudah cukup pembicaraan nya kali ini. Chika beranjak pergi dari hadapan mereka berniat untuk menemui dulu putri Cantiknya sebelum ia benar-benar enyah dari rumah nya.
Chika berjalan di antara anak tangga dengan tubuh yang begitu lesu. " Haruskah semuanya berakhir sampai disini Tuhan." Batin Chika dengan air mata yang bercucuran membasahi pipinya. Setelah berjalan menaiki anak tangga, akhirnya Chika sampai di depan pintu kamar gadis kecilnya.
Chika menghela nafas berat, sulit rasanya untuk mengambil keputusan ini. Namun apa boleh buat, jika Chika memilih untuk tinggal disini pun yang ada hanya sebuah rasa sakit saja yang akan Chika rasakan setiap harinya. Mungkin ini satu-satunya jalan yang harus Chika lakukan, terlihat egois memang namun bagaimana lagi, bingung yang dirasakan Chika saat ini bahkan ini menjadi kedua pilihan yang sangat buruk baginya.
Chika memberanikan diri kemudian masuk ke dalam kamar Ona. Rasanya ingin menjerit sekeras-kerasnya, ketika Chika melihat gadis kecil nya yang tengah tertidur pulas dengan balutan selimut pemberiannya. Tanpa pikir panjang, Chika langsung berjalan menuju ranjang Ona dan duduk tepat di sampingnya. Chika mengelus rambut panjang gadis kecilnya dengan tetesan air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya yang tampaknya enggan sekali untuk berhenti, bahkan ditahan pun Chika tak sanggup membendung nya.
"Hai gadis mama, maaf ya akhir-akhir ini mama jarang nemenin Ona tidur dan sekarang mama harus ninggalin Ona disini. Tante Daisy yang akan menggantikan mama disini, Ona harus percaya tante Daisy baik kok," Chika menjeda ucapannya. Mengapa rasa sesak di dadanya semakin terasa sakit ketika Chika terus mengucapkan kata perpisahannya.
"Ona harus jadi anak yang baik, nurut sama tante Daisy, jangan nakal ya cantik. Maafin mama udah egois,mama lebih memilih perasaan mama sendiri ketimbang, Ona. Mama harus pergi sekarang, semoga suatu saat nanti Tuhan kembali mempertemukan kita, bertemu untuk bahagia bukan lagi tentang duka. Sekali lagi mama minta maaf." Lanjut Chika lalu mencium kening Ona dengan lembut. Setelah puas mencium jidatnya, Chika kemudian beranjak berdiri dari atas ranjangnya Ona. Pelupuk matanya terus menerus berkaca-kaca, seakan air mata nya saja sudah memperlihatkan bagaimana sulitnya Chika meninggalkan gadis kecilnya ini.
Ona sama sekali tidak merasa terganggu, mungkin tidurnya terlalu nyenyak sehingga ia sampai tidak menyadarinya bahwa saat ini sedang ada Chika, wanita satu-satunya yang selalu Ona tunggu.
Chika keluar kamar Ona, lagi-lagi tatapannya terlihat kosong menatap ke arah pintu kamar Ona yang sudah tertutup dengan rapat. Setelah beberapa menit menatap pintu kamar milik gadis kecilnya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sedang berjalan ke arahnya.
Setelah mengetahui siapa yang ada di hadapannya, Chika memberhentikan langkahnya kemudian tersenyum sambil melihat tepat Ke arah seseorang di hadapannya itu.
"Saya titipkan Ona kepada kamu, Dewi. Jaga dia, jangan biarkan siapapun menyakitinya meski itu Jonathan sekalipun," Chika menggantung ucapannya, bibirnya yang semula tersenyum merekah kini berubah menjadi senyuman getir menahan tangis.
"Katakan saja padanya, jika saya pergi bekerja untuk sementara. Suatu saat nanti saya akan menjemputnya bersamamu." Lanjut Chika dengan suara parau. Tak tahan melihat nyonya besarnya merasakan rasa sakit sendirian, Dewi kemudian memeluk Chika dengan erat. Deraian air mata Dewi pun ikut bercucuran ketika Chika membalas pelukan hangatnya.
"Maafkan saya nyonya, maaf saya karena tidak bisa membantu apapun untuk hal ini," Ucap Dewi yang sudah dibanjiri air mata. "Tapi saya janji saya akan menjaga Ona dengan baik, memperlakukan nya sebagaimana anak saya sendiri. Dan jangan lupa cepatlah jemput Ona dan saya nanti, Nyonya. Saya akan sangat berharap tentang itu." Lanjut Dewi sesenggukan.
Chika melonggarkan pelukannya dan menatap Dewi dengan mata sayunya.
"Semoga saja Tuhan memberikan jalan untuk saya agar saya bisa menjemputmu dengan Ona nanti. Jaga dirimu bersama, Ona disini. Rawat Ona dengan baik beri dia perhatian yang tulus." Ujar Chika yang langsung mendapat anggukan dari Dewi.
"Ucapan yang sama kembali dari saya, Nyonya." Sahut Dewi.
Chika mengangguk sambil tersenyum sendu.
"Baik, Terima kasih, Dewi." Ucapnya kemudian Chika berlalu pergi dari hadapan Dewi. Berniat untuk pergi ke kamarnya mengambil semua barang yang akan dibawa dan mungkin semuanya.
Chika mengambil satu koper besar dari atas lemari nya, dan mulai menata satu persatu baju yang akan dia bawa untuk pergi.Tak butuh waktu lama untuk membereskan semuanya, akhirnya Chika selesai membereskan semua barang miliknya kemudian ia beranjak pergi ke dekat ranjangnya untuk menelpon taksi online yang akan dia tumpangi malam ini.
Setelah selesai memesan taksi online, Chika melihat sebuah foto dirinya dengan Jonathan yang terlihat seperti pasangan suami istri yang bahagia. Chika tersenyum getir, dia tidak menyangka bahwa hidupnya bersama Jonathan berakhir dengan luka.
"Tuhan, jangan sampai semua rasa sakit ini membuat aku berkata bahwa dirimu tidaklah adil." Batin Chika penuh harap.
Sudah hampir setengah jam Chika memandangi foto itu, hingga pada akhirnya Chika sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Chika berjalan menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumahnya, terkenang satu persatu dari ruangan itu Chika memiliki banyak peristiwa yang menyenangkan bersama Jonathan.
Hingga pada saat Chika berjalan di ruangan terakhir, Chika melihat Jonathan yang masih dengan posisi yang sama. Daisy yang ada di samping Jonathan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Jonathan hanya diam bahkan tidak berpaling sama sekali ke arah Chika yang berada di hadapannya.
Chika tidak menampilkan ekspresi benci juga tidak dengan wajah yang ramah, hanya saja datar. Tak ingin hatinya semakin teriris, dengan cepat Chika melanjutkan kembali langkahnya untuk segera enyah dari rumah ini. Rasa nya kini muak melihat dua manusia itu berada di hadapannya, dan kebetulan ketika Chika sudah berada di luar rumah tak lama setelah itu taksi yang dipesan nya pun datang dengan cepat.
Tak banyak basa basi lagi, Chika segera masuk ke dalam taksi itu dan mulai berlalu pergi dari halaman rumahnya.
"Ini pilihan ku, apapun konsekuensinya nanti aku harus siap." Batin Chika sambil menghela nafasnya berat. Chika menatap tangannya, disana ternyata dia sedang menggenggam satu buah foto dirinya dengan Ona.
Batin Chika kembali teriris. Apa sebenarnya rencana Tuhan sehingga bisa menimpakan rasa sakit sedalam ini kepada Chika. Dan sebenarnya bukan berpisah dengan Jonathan yang Chika tangisi, melainkan perpisahannya dengan Ona, putri satu-satunya yang selama ini dia miliki.
Chika membuka jendela mobil taksi itu untuk menghirup udara di malam hari, berharap perasaan yang sedang berkecamuknya sedikit agak tenang. Namun ternyata setelah melakukan itu, hanya sedikit perasaannya yang bisa ia tenangkan mungkin hanya seperempat saja, selebihnya masih tetap sama saja.
"Permisi mbak perjalanan kita sebentar lagi akan segera sampai." Ucap sopir taksi itu.
Chika melihat jam di ponsel nya, ternyata malam ini sudah menunjukan pukul sebelas malam.
"Oh iya pak." Sahutnya sambil kembali mengembalikan ponselnya ke dalam tas nya.
Chika turun dari taksi itu setelah beberapa menit dinyatakan sampai. Dia berhenti tepat di halaman rumah temannya, Della. untung saja tadi sebelum Chika berangkat dari rumahnya, Chika sempat menelepon Della bahwa dia akan pergi ke rumahnya malam ini. Akhirnya Chika segera mengetuk pintu depan rumah Della, berharap Della akan segera membukakan nya karena malam ini sudah benar-benar larut.