Canggung. Itulah yang kini terasa di dalam rumah Agni. Bagaimana tidak, Kirana yang biasanya banyak bicara pun kini hanya diam dan menundukkan kepalanya. Malu. Itu sudah pasti, tetapi kejadian itu sudah berlalu. Kirana bisa apa? “Kalian kenapa diam saja seperti ini? Dan kamu Agni. Kenapa malah gelap-gelapan di dalam kamar, bukannya kerja?” kata yang terlontar dari mulut Galuh Ageng seakan menghakimi sang anak dan menantunya. “Malu, ma.” cicit Kirana. “Kenapa harus malu? Aku pun juga pernah sama mas Bima,” ucap polos Melati yang hanya membuat Kirana melotot. “Pernah ketanggep basah juga sama mama?” tanya Kirana polos. “Ya tidak, tapi begituan sama mas Bima,” senyum lugu pun diperlihatkan oleh Melati. Ide jahil pun muncul di otak Agni. “Apa kak Bima yang kaku

