24 — Painful Memories

2178 Kata
Jakarta, 2016. Masa SMA menjadi masa yang begitu bergemilang bagi Daru. Inilah awal langkahnya menuju remaja, dan yang paling menyenangkan adalah ada eskul teater di sana. Eskul yang sudah ia dambakan sejak SD, hingga ia tidak sabar untuk jadi dewasa. Hari ini adalah masa orientasi siswa. Daru duduk di antara teman-temannya yang mendengarkan sosialisasi eskul, hari adalah hari terakhir masa orientasi. Kakak kelas yang menjadi pemateri sosialisasi nampak sedikit salah tingkah ketika Daru memandangnya tidak berkedip. Bahkan ketika ia menjelaskan tentang teater, Daru sering bertanya. Siapa yang tidak salah tingkah dipandangi terus menerus oleh pemuda tampan. Ya! Daru sedikit populer di kalangan angkatannya karena ia nampak paling berkilau dia antara lainnya. Selesai sosialisasi, kakak kelas itu mendekati Daru. “Hai, kamu yang tertarik ikut eskul ini ya.” Daru yang masih polos, begitu bersemangat melihat seniornya di teater menyapanya, bahkan nampak sudah begitu akrab. “I-iya kak! Kapan pendaftarannya?” “Sekarang juga bisa, ohya, boleh nggak aku minta nomor kamu buat kontak.” Senior itu tersenyum nakal. Sasaran empuk, sudah ganteng, polos lagi. Tanpa ba-bi-bu Daru menyerahkan selembar kertas berisi nomor ponselnya. Ketika masa orientasi, siswa baru dilarang membawa ponsel dengan alasan keefektifan acara. Namun Daru yang tidak terlalu butuh ponsel merasa tidak kesulitan dengan peraturan itu. “Thanks! Namaku Chelsea.” Chelsea menjabat tangan Daru dengan cepat. “Daru.” Daru membalasnya dengan semangat pula. Sejak mula itu, Daru semakin terkenal dan nampak selalu dekat dengan Chelsea, cewek populer di teater yang menjadi awal masa depan Daru. Masa depan yang nampak begitu menyakitkan. Semua itu awalnya baik-baik saja. Daru yang pandai memainkan karakter apa saja langsung menjadi pusat perhatian. Ia dielu-elukan bahkan menjadikan kesenjangan perhatian untuk anggota baru lainnya. Mereka menganggap itu berlebihan.  Meskipun Daru memiliki sisi positif dan menjadi pusat perhatian, banyak juga orang yang tidak suka bagaimana ia dirajakan. Wajah Daru yang begitu tampan menjadi perebutan perhatian. Kini, keahlian Daru yang pandai acting mendadak hilang, tidak diakui oleh siswa-siswa. Awal dari perploncoan itu ketika Daru hendak masuk ke ruang teater, namun karena kebelet pipis, ia mampir ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, sudah ada beberapa anak yang bersiap diri memberi peringatan ke Daru. Saat itu Daru sedang buang air kecil, Calvin berdiri di sampingnya. “Wih, ada anak emas nih.” siswa seangkatan Daru, namanya Calvin, sama-sama anak teater. “Hai. Vin.” Daru yang saat itu masih polos hanya menganggapi sapaan Calvin sebagai lelucon. Calvin yang melihat tingkah Daru sok polos langsung memberi senyum miring. “Gimana, rasanya jadi gebetannya Chelsea?” “Gebetan? Emang kapan pacarannya?” Daru menutup resletingnya, ia hendak segera pergi namun Calvin menahannya. “Lah, lo nggak tahu, Chelsea naksir lo?” ejek Calvin kemudian di susul dengan tawa. Daru menggeleng. Selain Daru orang yang introvert, ia juga orang yang polos. Kesehariannya hanyalah sibuk menonton film untuk mendalami actingnya. Namun ketika ia sudah masuk SMA dan ingin mengembangkan bakatnya, semuanya berantakan, menjadi kesalahpahaman di mata teman-temannya. “Kenapa sih lo, jadi orang polos banget.” Calvin membenarkan resletingnya. Calvin mengangkat botol berisi air kencingnya ke udara. Belum sempat Daru kebingungan, tanpa aba-aba, Calvin menumpahkan cairan berwarna kuning di kepala Daru. Cairan itu merembes melewati wajah Daru dan jatuh sempurna membasahi baju seragamnya. Disaat bersamaan, aroma pesing semerbak di toilet. Calvin hanya tertawa melihat hal itu. Daru menahan air matanya, siapa yang menyangka akan melakukan hal ini ke arahnya. Dan ditempat yang sepi itu, Daru kehilangan kepercayaannya bahwa masa remaja itu menyenangkan. Daru masih memaku, sedangkan Calvin berlalu dengan angkuh, membuang botol itu dengan sembarang. Aroma pesing membaur dengan kepedihannya. Beberapa siswa yang masuk ke dalam toilet tidak menolongnya, hanya menatap heran dan jijik dengan aroma yang ada di tubuh Daru. Daru berlari ke dalam bilik kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan jet washer, berharap aroma pesing itu hilang. Daru menangis dengan suaranya yang tertahan. Mengapa sulit sekali untuk membaur di lingkungan. Sifat Daru yang penutup semakin penutup, ia tidak ingin hidup bersosial dan berharap kepedihan itu segera berakhir. ••• “Sasan nggak pengen sekolah! Sasan benci sekolah!” setelah tragedi itu, Daru menjadi mogok sekolah. Di hadapan Ayahnya dan Kak Hana, ia menangis karena dipaksa sekolah. “Kenapa?” Ayah yang melihat putranya tantrum masih meladeninya dengan sabar. “Ada yang jailin kamu?” Ayah masih tak henti-hentinya bertanya. Daru semakin menangis ketika mendengar kata itu. Ia memeluk tubuhnya semakin erat dan mengentak-entakan kakinya. “Yaaah, aku pengen homeschooling.” Daru menatap nanar ayahnya. Mungkin itu satu-satunya harapan untuk tidak berinteraksi dengan siapapun, termasuk teman-temannya yang nakal. “Tapi homeschooling itu mahal San!” Hana yang sejak tadi pendiam kini ikut campur. Sebenarnya, ia juga begitu sebal melihat adiknya yang harusnya sudah dewasa kini malah bersikap kekanak-kanakan. “Bukannya kamu pengen jadi pemain teater. Kalau kamu nggak sekolah mau jadi apa? Sampai kapan kamu mau jadi manusia yang nggak punya jiwa sosial San!” Hana masih belum selesai berpendapat. Tangis Daru semakin hebat, bungsu itu semakin kehilangan kontrol. Ia membuang tas ranselnya ke arah Hana. Sejak kecil mereka sering bertengkar, alasannya memang karena kepribadian mereka yang berbeda. Sasan yang manja, dan Hana yang begitu mandiri dan keras kepala. Ayah menatap Hana, manik matanya seakan mengatakan untuk tetap diam. “Sasan pengen homeschooling?” Ayah menanyakan itu lagi. Sasan mengangguk, ia masih sesenggukan. “Tapi Sasan kan pengen jadi artis, gimana dong? Sasan mau ngapain untuk meraih mimpi Sasan?” tanya Ayah tanpa memojokkan Daru. Daru saat itu langsung mengangkat wajahnya, air matanya berhenti menetes. “Apa boleh, Sasan ikut kelas acting? Sasan yakin, Sasan bakal jadi aktor nomor satu di Indonesia!” “Sasan!” hardik Hana yang mendengar perkataan Daru. “Homeschooling udah mahal! Sekarang kamu mau ikut kelas artis!” “Nggak papa, nanti Ayah pake tabungan Ayah kok.” masih dengan perasaan lembutnya. Ayah sama sekali tidak memarahi kedua anaknya. “Iya, tapi janji ya, nanti Sasan harus kuliah. Minimal S1 ya.” Daru mengangguk meski tidak tahu bagaimana nanti akhirnya. Disitulah dimulai, mimpi-mimpi Daru yang akan dapat dipijak satu persatu. Mimpi untuk menjadi yang terbaik sesuai harapan ayahnya. “Yah, tapi kan Ayah juga perlu uang. Apa nggak sayang uang sebanyak itu untuk sekolahin Sasan.” Hana sedikit melunak, namun ia juga menatap ayahnya khawatir. Bagaimanapun ayahnya hanyalah seorang karyawan kantor biasa. Single parent dan pasti itu menyita waktu ayahnya habis-habisan. “Yakin sama Ayah. Ayah kerja juga buat kalian. Untuk Hana, kalau mau nikah? Nggak usah khawatir, ayah bisa cari uang lagi.” pria 50 tahun itu menatap teduh putri pertamanya. Gadis berusia 22 tahun yang nampak sudah begitu dewasa. “Udah punya pacar belum? Jangan pacaran dulu ya… skripsinya belum selesaikan?” Hana menoleh, namun ia juga tersenyum malu mendengar pertanyaan itu dari ayahnya. “Jaga diri anak ayah ini ya, biar bisa jadi benteng buat Sasan.” “Gak mau ah, Sasan manja!” tolak Hana dengan cepat. ia “Justru itu. Sasan butuh Kak Hana yang sekuat baja.” ledek Ayah akhirnya. Membuat Hana langsung merengek manja. ••• Kehidupan mereka kembali normal. Daru mulai memijakkan langkah barunya di dunia acting. Hana disibukkan dengan skripsinya yang mulai terasa memusingkan. Sungguh seperti kutukan melihat siapa yang menjadi dosen pembimbingnya, Bu Arina. Dosen paling mematikan yang bisa membunuh mental mahasiswa bimbingannya. Semoga saja, mental Hana tetap membaik meskipun mendapatkan jutaan hardik. “Kamu, berkali-kali bimbingan tapi nggak pernah ada kemajuan! Lihat, kamu bisa parafrase nggak sih!” Bu Arina membuang jilidan itu di depan Hana. Kertas-kertasnya sudah tidak bersih lagi, kini di isi coretan warna merah di halaman pertama. Bab satunya ditolak keras. Hana meninggalkan ruangan Bu Arina dengan bersungut-sungut. Meskipun itu kesalahan, tapi bukan berarti dosen itu bisa membentaknya tanpa perasaan. Ya emang, Hana pengen cepat-cepat lulus, tapi kan ia juga punya perasaan dan harus butuh banyak effort untuk mengerjakan skripsi. “Kenapa? Kusut banget.” tanya seseorang di belakang Hana. Hana sontak kaget dan terlonjak melihat kakak tingkatnya sudah berdiri di belakangnya. “Eh, Kak Topan,” “Dosbingnya pasti Bu Arina?” Hana langsung menampakkan wajah melasnya. “Iyaaa, ditolak lagi.” “Sabaaar, aku semester 9 aja proposal masih ditolak terus.” just information, Topan juga mahasiswa bimbingan Bu Arina. Bedanya ia setahun di atas Hana. “Kalau kamu ada masalah, atau kendala… aku bisa bantu.” Topan mengelus kepala Hana. Membuat gadis itu langsung menegang dan begitu salah tingkah. Ini untuk pertama kalinya, laki-laki selain ayahnya yang memperlakukannya dengan manis. “Kenalin, aku Topan…” Topan menyodorkan tangannya. “Hana.” jawab Hana lembut. Ia begitu senang ada seseorang yang mengerti bahwa hidupnya juga berat. Memiliki seseorang untuk bersandar itu adalah salah satu hal yang menyenangkan. Apalagi di kondisinya yang sedang butuh support yang besar dalam mengerjakan skripsi. Ayahnya juga sibuk memperhatikan kerja dan sekolah Daru yang semakin banyak. Maka, ketika mengenal Topan, Hana seperti melihat pegangan yang luar biasa. Mereka sering terlihat bersama, baik di kampus maupun ketika jalan-jalan keluar. Hana sering pulang telat dan terlambat menjemput Daru kelas acting. Semuanya nampak mulai terbengkalai namun Hana mencoba untuk tidak peduli. Ia rasa, apa salahnya untuk sedikit egois. “Aku mau jadi pacar kamu.” ucap Hana di depan Topan yang memberinya seikat bunga. Mereka memulai masa asmara mereka yang nampak begitu indah. Kebersamaan mereka yang awalnya mengerjakan skripsi bersama mendadak jadi berubah dan melupakan segalak apa Bu Arina di kepala mereka. Hana semakin melakukan banyak kelalaian dan mengabaikan pesan-pesan ayahnya. Ia melupakan mimpinya mengerjakan skripsinya dengan cepat dan persetan dengan semuanya. Ia membebaskan dirinya melakukan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Ayah yang sibuk bekerja dan Daru yang sibuk dengan dunia teaternya, seperti membiarkan Hana untuk semakin bebas. Malam itu, ketika hujan deras, awal di mana Hana mulai tidak bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk. “Yang, ini ujan.” Hana melihat guyuran hujan semakin memutih. “Gimana kalau kamu nginep aja.” Topan menawarkan. Kini mereka berada di depan tempat karaoke, mereka telah bersenang-senang dengan menyanyikan banyak lagu. “Emang boleh?” “Nanti aku bikin alasan aja buat ibuku. Bapakku juga lagi keluar kota.” Topan meyakinkan Hana. Hana berpikir lama, namun kemudian ia mengangguk. Toh apa salahnya, kan cuma nginep. Ketika sampai rumah, ibu Topan bertanya alasan Hana menginap. Mereka beralasan mengerjakan skripsi, meski sebenarnya mereka hanya bersenang-senang, menonton film dan menikmati malam yang semakin larut. Hana menyandarkan kepalanya di bahu topan. Tangan topan juga memeluk Hana. Keromantisan itu semakin membuat mereka menikmati malam. “Na…” tiba-tiba Topan menoleh ke arah Hana yang fokus menonton film. “Apa?” “Kita kan udah pacaran,” Hana mengangguk pelan. “Terus?” “Boleh nggak aku…” Topan menghentikan ucapannya. Ia menatap Hana dengan seksama, bahkan kini tangan kanannya menyentuh pipi Hana. Telepon Hana berdering, dari Papanya. Namun Hana enggan mengangkat karena takut akan dimarahi. Maka ia membuang ponselnya jauh-jauh, membuat dering itu mati dengan sendirinya. Kini ia fokus ke arah Topan yang menatapnya dengan tatapan memikat. “Tapi aku takut…” lirih Hana. “Percaya, ketakutanmu itu salah.” Topan segera mengecup Hana. Meski secara lisan Hana menolak, namun ia sama sekali tidak bergerak dan memulai malam yang akan berbeda dengan malam lainnya. Menikmati hasrat masa muda mereka tanpa memikirkan hal lainnya. Mereka melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka. Kesalahan yang tidak akan Hana lupakan sampai kapanpun. Mereka menikmati malam itu tanpa perasaan lain yang mengisi pikiran mereka berdua. Kemudian mereka tertidur dengan perasaan puas satu sama lain. Pagi-pagi sekali. Telepon Hana kembali berdering, membangunkan mereka berdua yang terlelap. Hana mengangkat wajahnya, ia mencari sumber keberisikan yang mengganggu tidur paginya. Telepon itu berada di bawah meja yang jaraknya lima meter darinya. Hana segera merangkak meraih ponsel itu. Tertulis nama Sasan di sana. “Hallo, San.” Suara Hana serak. “Kak Hana di mana?” suara Daru di seberang nampak serak. Hana membuka matanya lebih lebar, mencoba  mengenali tempat bangun tidurnya. Ia menatap Topan yang masih terlelap di sofa. “Kak Hana lagi tidur di rumah temen. Ada apa San?” Daru terdengar menangis, namun ia juga berusaha mengatakan kalimatnya. “Kak Hana cepetan pulang ya….” “Kenapa? Inikan masih jam empat subuh.” Hana melihat jam dinding yang ada di dinding rumah Topan. “A- Ayah jatuh di kamar mandi… Kayaknya ayah meninggal Kak.” nada suara Daru bergetar. Ia bahkan terdengar sesegukan sejak awal mereka berteleponan. “Kamu jangan bercanda deh San!” sahut Hana cepat. Mana mungkin, ayahnya saja kemarin sehat wal afiat. “Kaaaaak, mana ada Sasan bercandaa!” suara Daru semakin bergetar. Hana yang saat itu masih mengantuk, langsung terpaku mendengar suara adiknya yang nampak ketakutan. Hana menitikkan air mata, dadanya langsung bergemuruh memikirkan jika itu benar-benar terjadi. Orang yang menjadi pegangan satu-satunya kini pergi. Lalu siapa yang akan menghidupi kehidupan mereka berdua? Ayah yang selalu kuat itu, kini sudah pergi. Air matanya semakin terjun bebas setelah melihat bajunya berada di atas meja, bertumpukkan dengan baju kekasihnya. Itu artinya, ia sudah melepas segala hal-hal baik dalam dirinya. Mahkotanya, serta kepercayaan ayahnya yang sudah ia pegang sejak dulu. Subuh itu, Hana menangis dalam diam. Ia memakai bajunya dengan segera dan membangunkan Topan. “Pan, bangun… Ayahku meninggal…”  •••  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN