14 — Ketika Libur Kuliah

2021 Kata
Setelah dibangunkan Mama tanpa perasaan, Yara cukup keki dan sulit untuk tidur. Ia juga merasa untuk menyambut kuliah yang akan ada satu jam lagi. Ia harus terjaga karena jika ia tertidur lagi, ia tidak mungkin bisa bangun tepat waktu. Yara membuka ponselnya yang kini bergetar di atas nakas. Yara meraihnya dan melihat pesan-pesan yang menyembul di layar kunci. Yara membuka pesan, banyak pesan dari grup. Braga: hallo, selamat pagi! Kelas bahasa Indonesia pagi ini libur. Dosennya lagi ada seminar di bandung. "Senangnya kuliah libur." Seperti doa yang langsung terkabul. Yara merasa inilah saatnya untuk menikmati liburan. Libur kuliah dadakan yang perlu dirayakan. Yara menaruh hpnya dengan sembarang di kasur. Matanya memejam lagi, dan tandanya tidur akan diperpanjang. Bahkan bisa sampai nanti sore. Maka setelah membaca pesan itu, Yara memejamkan matanya lagi. Menuju mimpi yang tertunda. Mentang-mentang kuliahnya libur, dengan seenaknya Yara membuka mata pukul 11.00. Di mana matahari sudah membakar penuh kulit-kulit manusia, di saat baju jemuran sudah mulai kering setengah dan di saat debu sudah mulai meningkat mengisi siang yang teriknya menyilaukan. Seperti ratu, ia membuka pintu kamar dengan santai. Rambutnya berantakan, ada kotoran mata yang mengisi kedua pelupuk matanya dan yang pasti wajah yang masih bengkak karena bangun tidur. Itulah wajah Yara di rumah, seperti tidak terawat. Membuat Mamanya selalu marah-marah melihat tingkah putrinya yang tidak ada bedanya dengan Junet. Ini benar-benar surga, mana ada libur kuliah yang langka seperti ini. Semoga saja tidak ada kelas ganti yang akan membuat Yara merasa harus kehilangan waktunya yang lain. "Coba aja Daru lihat, pasti dia enggak mau temenan sama kamu." Sindir Mama yang sedang menyiapkan makan siang. Gila kan, bisa-bisanya seorang gadis bisa bangun ketika mamanya sudah menyiapkan makan siang. Yara hanya melirik mamanya, kemudian ia masuk ke kamar mandi. Nongkrong paling tidak satu jam untuk buang air besar dan sisanya, entahlah, mungkin dia merakit resep sabun baru. "Coba aja Papa kamu nggak kerja di Surabaya, bisa kena marah kamu bangun siang-siang gini." Mama adalah tipikal orang yang cerewet. Baginya, Yara selalu punya hal minus yang menjadi sindirian-memang minusnya banyak sekali jadi bisa dicela sebanyak mungkin. Yara bergeming, Papa bisa diajak bekerja sama. Berbeda dengan Mamanya yang ribut kayak ayam mau bertelur. Sebenarnya Yara bangun siang juga karena sebal dikerjain sama mamanya tadi pagi. Masak diprank kalau ada Daru datang ke sini. Kan jadi keki. Di rumah yang lain, ada perasaan yang berbeda. Jika Yara party dengan tidur karena kuliah libur. Daru senewen karena sudah bersiap-siap. Ia sudah mandi dan begitu bersemangat namun akhirnya gagal. Daru terduduk dan menaruh ponselnya di meja. "Kenapa?" tanya Mbak Desi. "Kuliahnya libur." jawab Daru tak bersemangat. "Tidur aja udah. Kan tadi kamu bangun subuh." Kak Hana menatap Daru. Padahal tadi Daru sudah menyiapkan jajanan agar bisa dimakan bersama teman-temannya. Sebagai tanda ucapan terima kasih karena membantunya dalam bersosial. Kak Hana akhirnya meminta Daru untuk tidur lebih dulu dari pada waktu tiga jam berlalu sia-sia. Jika dulu ketika libur kuliah Daru akan begitu bahagia, namun entah kenapa hari ini berbeda. Daru merasa bahwa kuliah menjadi hal yang menarik baginya dan harus berangkat. Namun apalah daya, dosen mata kuliahnya meliburkan. Semenjak Daru membaca pesan di grup kelasnya, wajah Daru langsung cemberut. Ia langsung menjadi tidak mood tanpa alasan yang jelas. Teman-temannya senang karena libur, sedangkan ia tidak. "Tidur aja San, nanti kakak bangunin." Kak Hana memandangi Daru, yang masih tidak mood. Daru sebenarnya kurang tidur. Dan sebenarnya juga ada untungnya kuliah diliburkan, ia bisa tidur. Syuting pukul satu siang, sedangkan ini masih jam 9 pagi. Daru merebahkan badannya di sofa kamar. Ia merasa begitu dikecewakan oleh ekspektasinya bisa bersenang-senang di kampus. Bertemu dengan teman-temannya termasuk Yara. Seperti perasaan rindu karena pertemuan menyenangkan kemarin. Akhirnya Daru terpejam sendirinya karena terlalu lelah. Tertidur dengan perasaan yang nanti sembuh sendiri. ••• Ada hal yang perlu disyukuri karena libur kuliah. Hari ini entah kenapa cuaca sedang ngajak bercanda. Matahari memberikan terik yang luar biasa sampai membakar kulit. Mita sejak tadi menggosok-gosok lengannya yang terasa begitu perih karena cahaya matahari yang ekstrim. Mita berlari untuk meneduh di bawah pohon akasia raksana di dekat gedung fakultas. "Yara kemana ya? Biasanya jam segini sudah nongol." Mita menatap jam di ponselnya. Sudah pukul 12 siang, waktunya mahasiswa keluar dari kelas untuk istirahat. Termasuk Mita yang seperti cecunguk di bawah pohon akasia. Seperti Yara, temannya hanyalah seorang saja. Meski juga banyak kenalan di kelasnya, ia selalu tetap nyaman untuk menikmati istirahat di kantin bersama Yara. Mencurahkan segala keluh kesah kuliah dan selalu saja ada hal yang menjadi pembahasan. Mita menelpon Yara. Berdering. "Hallo, di mana lo! Buruan ke sini! Panas nih." tanpa basa-basi, Mita langsung mengatakan maksudnya. "Ngapain? Di mana?" jawab Yara dengan suara malasnya. "Ke kantin lah. Buruaan yaa!" Telepon mati. Mita mengipas-ngibas wajahnya yang mulai terasa gerah. Ia benar-benar menyesal kuliah menggunakan lengan pendek di musim kemarau ini. Ia pikir ia akan kegerahan karena cuaca panas, namun kulitnya juga terbakar. "Awas aja Rayi. Kelar lo sibuk, gue bakal minta dibeliin jaket!" gerutu Mita. Mita menoleh ke arah kanan dan kiri. Menunggu Yara yang tidak lekas datang. "Ini Yara kuliah di kelas apa sih? Nggak dateng-dateng deh." Kling. Ada pesan masuk. Dari Yara. Gue hari ini enggak ada kuliah. Jadi ngapain lo nyuruh gue ke kantin. Mita mendengus, percuma ia menunggu Yara di panas yang begitu terik. Tau gitu tadi dia di kelas aja sampai ada kuliah masuk. Jadi kan dia enggak perlu jadi orang gila. "Kurang ajar emang si Yara, mentang-mentang abis jalan sama artis langsung sombong banget." Kemarin Yara memang bercerita pada Mita tentang toko buku, bahkan Yara juga bercerita tentang bagaimana mereka mengobrol dengan hangat di tempat makan. Benar-benar bikin Mita gemes mendadak karena dua manusia itu. Dan disaat Mita ingin menagih cerita itu. Yara malah libur. Benar-benar bikin orang mati penasaran. "Apa gue ajak Yara nongkrong aja ya, gabut gue. Kan kemarin katanya dia juga mau traktir gue." Mita punya ide. Meski baru kenal selama satu bulan, Mita tetap tidak bisa satu hari tida bertemu Yara-bawaannya kangen terus-hal ini melihatkan bahwa untuk akrab dan nyaman enggak perlu waktu lama. Lo katanya mau traktir gue, yok nanti sore ketemu di depan kampus ya! Mita tersenyum nakal mengetik dan mengirim pesan itu. Memang menyenangkan mengganggu orang yang sedang bersenang-senang atas liburan dadakan. Mita memasukkan ponselnya di tas, kemudian berlari ke kantin untuk membeli segelas es teh yang nikmat di siang yang terik ini. ••• "San, bangun." Kak Hana menyentuh lengan Daru yang tertidur di sofa. Sejak ketiduran tadi, ia masih teronggok di sana. Sampai Kak Hana membangunkannya pukul 11.30. Satu jam sebelum ia pergi syuting . Karena Daru tipikal orang yang mudah bangun, ketika Kak Hana menyentuhnya. Kesadarannya langsung menyembul. "Mandi terus makan, Mbak Desi udah masakin nih." tambah Kak Hana. Daru mulai bangun. Ia mengerjap-erjapkan matanya untuk membiasakan cahaya yang begitu terang di siang hari. Tidur beberapa jam ternyata juga dapat memulihkan perasaannya. Daru bersiap-siap untuk pergi ke tempat syuting. Kemudian makan dan sholat. Singkat namun dilakukannya dengan rapi. Karena baginya ini hanyalah mengulang apa yang biasa ia lalukan. Tanpa kesadaran pun, ia dapat melakukan ini. Kak Hana memanaskan mobil di garasi. Mbak Desi membantu Daru mengangkat barang bawaannya syuting serta bekal yang sudah disiapkan untuk makan di lokasi syuting. "Semangat ya Mas." Mbak Desi memberikan satu tas besar berisi kotak bekalnya dan Kak Hana." "Makasih ya Mbak, Sasan pergi dulu." Daru masuk ke dalam mobil. Duduk di samping kemudi yang siang ini dibawa oleh Kak Hana. "Kak, mending kita cari asisten baru yuk." Daru menoleh ke Kak Hana yang sudah memasukkan perseneling. "Lama-lama Kak Hana kan juga capek ngurusin aku." "Nanti pas kamu masuk nominasi." Sahut Kak Hana tanpa menoleh ke arahnya. Benar-benar perempuan yang idealis. Penuh dengan kekeraskepalaan yang terkadang tidak bisa ditebak oleh Daru. "Beneran ya, yang ini beneran." Daru mencari keyakinan di wajah Kak Hana. Memang Kak Hana susah sekali untuk dibilangin. "Iyaa, kalo kamu menang jadi dua asistennya." Kak Hana menoleh ke Daru. Menatap dengan pasti, seperti yakin dengan ucapannya. Mobil itu melaju di bawah terik matahari yang begitu kuat. Daru menyandarkan bahunya di jok. Matanya menatap keramaian jalan yang mulai macet. Inilah rutinitas yang sering ia rasakan ketika pergi ke lokasi syuting. Apalagi lokasi syuting yang suka pindah-pindah, kadang dekat kadang jauh. Tiiin!! Tiin! Suara klakson motor mengisi suasana macet. Menjadikan cuaca yang panas semakin rusuh. Kak Hana mendesah, hampir memaki. "Mentang-mentang pake motor. Nggak ada aturan banget." "Sabar-sabar." Daru menenangkan Kak Hana. "Kamu nanti juga gitu naiknya?!" kini malah Daru yang kena. Bisa-bisanya dia langsung kena introgasi. "Nggak! Sasan naiknya alim." jawab Daru cepat. Daru menoleh ke jalanan lagi, menemukan seseorang yang sangat tidak asing. Naik motor di samping mobilnya yang macet dan terlihat seperti jengah juga. Itu Yara. Ada apa di siang ini yang panas dia ada di jalanan ramai ini? Apa jadi kuliah? Daru membuka grup kelasnya, obrolannya masih kosong. Seperti tidak ada perubahan apapun. Lalu ada apa? Apa saat ini ia Daru sedang halusinasi karena terlalu senang ingin ke kampus? ••• Sudah tahu menyebalkan dan merepotkan tapi tetap diladeni. Tepat pukul 2 siang, di saat mahasiswa kelas ketiga keluar kelas. Yara sudah berdiri di dekat pos satpam kampus tiga. Berdiri dengan mengenakan kerudung hoodie menutupi kepalanya. Menunggu Mita yang dengan kurang ajarnya bikin Yara berdiri sampai di sini. "Perasaan yang butuh Mita, kenapa gue yang dateng ke kampus." Yara menggerutu. Ia sudah sejak tadi celingukan memandangi gedung besar berwarna biru. Di mana gedung kelas Mita berada. Sudah setengah jam Yara berdiri di sini, namun setitik hidung dari sahabatnya belum muncul. Karena libur kuliah membuatnya sedikit lebih malas. Sebenarnya rencana, Yara juga pengen mandi nanti sore sekalian, tapi karena diajak keluar Mita, ia harus mandi-mau nggak mau. "Maaf buk, pengemis dilarang masuk." seloroh gadis mendekatinya. Kedua tangannya penuh memegangi dua gelas es teh. Itu Mita, manusia tidak tahu diri yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi. Yara mendongak, kemudian memukul si pembicara. "Heh mana ada pengemis pake baju bermerk!" "Gaya, baju dikasih aja bangga. Nih bentar lagi mau robek." Mita menyenggol hoodie krem milik Yara. Yang disenggol bergeming, wajahnya masih ditekuk. "Beli sendiri tau! Siapa yang ngasih!" Yara tak mau kalah. "Ini bukan hoodie punyanya Daru Han yang dipake kuliah kemarin?" Mita mengernyit. Warna krem itu seperti familiar di matanya. "Eh jan ngadi-ngadi ya lo. Jangan bikin gosip lagi, ini di ruang umum." "Nih buat lo, panas kan." Mita menyerahkan satu gelas es teh kepadanya. Es teh dengan ukuran jumbo di cup. Esnya yang melimpah membuat keringat di dinding-dindingnya. Cocok untuk cuaca panas yang gila ini. "Lo kenapa berdiri sih? Kan di sana ada bangku." Mita menunjuk bangku tralis di bawah pohon. Padahal juga sepi kan tempat itu. "Males." Yara menyeruput esnya, sungguh segar yang tidak bisa didustainya. "Lo mau ditraktir di mana?" belum selesai berbicara, ia menanyakan perihal acara mereka sore ini. "Terserah lo sih. Mau di sushi tei juga oke." kekurangajaran yang luar biasa. Bisa-bisanya ia merekomendasi restoran yang makanannya saja tidak disukai yang traktir. Yara emang anti banget makan daging mentah, selain itu Yara memang anti makanan seafood. Ia bisa sakit perut dan bakal kesiksa semalaman karena sakit itu. "Cari yang lain aja. Gue alergi." "Gimana kalo bakso?" "Lo serius? Udah gue coba traktir tapi malah pesen bakso?" Yara mengernyit alisnya, permintaan yang terlalu sederhana. "Terserah lo aja deh." Mita mengendikkan bahunya. "Lo bawa motor kan?" Yara mengangguk. "Bawa dua helm kan?" Yara mengangguk lagi. Mita memang orang yang merepotkan, sudah pakai motor Yara, sekarang helmnya juga dia yang menjamin. "Tapi motor yang bawa lo. Titik!" sahut Yara kemudian. Ia menatap Mita sengit. "Iya-iyaaaa..." Mita yang sebenarnya ingin membonceng mendadak langsung kena. Ia tidak bisa memanfaatkan situasi. Toh ia juga sudah merepotkan Yara begitu banyak. Bakal kelihatan tidak tahu diri jika apa-apa semua yang melakukan Yara. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir. Motor Yara bertengger tak jauh di sana, di antara motor-motor mahasiswa. "Eh btw, ntar ceritain semuanya soal kemarin ya." Mita menepuk pundak Yara. Postur tubuh Yara memang lebih tinggi dari Mita, hal itu membuat Mita menjadi makin cebol kalau sedang berdiri di samping Yara. "Iyaaa, ntar gue ceritain semuanya." "Termasuk apa yang kalian obrolkan." Yara menghela napas. "Iyaaa, ntar gue ceritain sedetail-detail detiknya deh." "Beneran?" Mita berbinar. "Ya nggaklah! Gila aja." •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN