Bab 5 : Kolam Air Panas

1240 Kata
“Dengar ya, Ziel. Aku masih berusia lima belas tahun. Jadi, kamu jangan macam-macam!” peringatku. “Lily, aku tahu,” balas Ziel dengan ringan. “Aku kan hanya mengajakmu untuk mandi. Bukan mengajakmu melakukan hal-hal yang aneh.” Aku memperhatikannya dengan tajam selama beberapa saat untuk menemukan keseriusan di wajahnya. Tapi Ziel adalah hantu. Wajahnya seputih mutiara di bawah sinar rembulan. Matanya berwarna emas dan rambutnya yang panjang nan hitam itu bergoyang terkena angin yang sepertinya selalu berada di sekelilingnya. Sulit untuk membaca ekspresi Ziel yang setampan dewa itu. “Kalau begitu antar aku pulang. Aku harus mandi, dan kau tidak boleh masuk ke rumah,” balasku kemudian, sambil mulai menggaruki tanganku. Liur setan tadi benar-benar seperti racun gatal. “Kau tidak bisa mandi dengan air biasa untuk membasuk liur siluman ular itu, Lily. Hanya kolam air panas di tengah hutan Are saja yang bisa menghilangkannya,” terang Ziel. “Hutan Are? Kau yang benar saja. Mana mungkin aku masuk ke dalam sana,” sergahku dengan ekspresi tidak percaya. “Aku memakan jantung iblis, dan semua setan, siluman, raksasa dan makhluk-makhluk beda dunia itu memburuku. Masuk ke hutan Are sama saja mengumpankan diriku ke dalam kandang singa lapar.” Mendengarku membalas seperti itu, mendadak Ziel maju tepat ke depan wajahku. Aroma pepohonan dan udara bersih hutan Are langsung menusuk hidungku. Sekaligus menyegarkanku dari aroma daki siluman ular bermata nyaris copot di atas pohon sana itu. “Lily, apa kau lupa bahwa kau sekarang punya aku? Aku akan melindungimu, ingat?” balas Ziel. Selama sesaat, aku hanya mampu menatapnya. Ziel seolah memikili semacam sihir agar aku tidak bisa berpaling untuk menatapnya. “Terakhir kali yang kuingat, aku sedang berada di atas dahan pohon tertinggi di area ini dan dijilati siluman ular setelah kau bilang akan melindungiku,” protesku. Ziel tersenyum ringan, tangannya membopong tubuhku dengan gaya pengantin wanita, lalu dalam satu sentakan, dia kembali membawaku terbang ke langit dengan sayap abu-abunya yang besar. “Ahh! Ziel!” jeritku karena kaget. Rasanya minta ampun melayang di ketinggian lagi. Aku takut jatuh seperti beberapa saat yang lalu. Angin menderu di sekitarku, rasanya dingin, namun kepalaku menempel di d**a Ziel yang hangat seolah dialiri darah. Dan berdenyut seolah manusia. “Berpegang lah yang erat padaku, Lily. Berpeganglah, dan kau tidak akan pernah jatuh,” ujar Ziel. Aku merapatkan tanganku yang mengalungi leher Ziel sementara dia membawaku terbang tinggi seolah menuju ke bulan. Aku melihat daratan di bawah sana. Rumah-rumah kecil, lembah dan bagian terang daerah perkotaan dengan mobil-mobil yang terang melewati jembatan. Rasanya luar biasa melihat pemandangan seperti itu dari ketinggian. Bunyi sayap Ziel mengepak melawan angin, dan perasaan tenang saat bersamanya. “Ziel, kau hantu kan?” tanyaku kemudian. “Ya, aku memang hantu,” balasnya. “Apa kau melihatku seperti makhluk lain?” Aku menggeleng. “Bukan begitu, tapi kenapa hantu memiliki sayap? Bukannya malaikat saja yang memilikinya?” “Oh, jadi kau tidak suka sayap?” tanya Ziel. Bersamaan dengan itu, mendadak sayap abu-abu Ziel mendadak mengerut. Menyusut semakin kecil ke dalam punggungnya lalu menghilang. “Hei, hei!” seruku. “Ziel apa yang terjadi? Ziel kau menukik turun. Ziel!” Ziel seperti tidak sedang mendengarku. Dia menukik turun dengan cepat seperti pesawat kehilangan kedua sayapnya. Aku terus memekik, dan pada saat aku membayangkan tubuhku kembali hancur di atas bebatuan seperti beberapa saat yang lalu, Ziel memelan kemudian berhenti menukik. Aku memeluk erat tubuh Ziel yang dingin, dan sehalus aliran air itu sambil memejamkan mata. “Lily, kita sudah sampai. Buka matamu,” kata Ziel dengan suara senyaring lonceng. Aku membuka mata, hanya sealis, dan aku melihat sebuah daratan. Ziel mendarat dengan aman sepertinya. “Sudah sampai?” tanyaku balik. Aku melihat sebuah kolam besar yang terhampar di tengah rerimbunan hutan. Yang tepi-tepinya terdiri dari bebatuan alami dan akar-akar besar pepohonan. Air di kolam itu berasap tipis, namun tampak jernih di bawah pantulan sinar rembulan. Dengan pelan aku turun dari gendongan Ziel, dan menjejakkan kakiku di tanah berumput. Sedikit terhuyung setelah diluncurkan Ziel ke langit tanpa aba-aba. “Nah, itu kolam air panasnya. Basuhlah tubuhmu, Lily,” ujar Ziel kemudian. Aku menatap kolam yang berkilau itu, dan rerimbunan pohon di sekelilingnya. Air tampak tenang, tapi selama sesaat, aku menjadi merasa ngeri. Aku sedang berada di tengah hutan Are sekarang. Hutan Are yang kukagumi keindahannya dari pagar pembatas di tepi hutan sana. Seharusnya sekarang adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Konon, tidak ada satu pun orang yang berhasil masuk ke hutan Are sedalam ini. Namun, mengingat kenapa aku berada di sini dan apa saja yang sudah terjadi padaku karena masuk ke dalam hutan Are untuk mencari bola, jajaran pohon-pohon Are yang berlumut indah itu, kini seperti bayangan makhluk-makhluk jahat yang mengelilingi rumahku beberapa saat yang lalu. Tampa sedang diam dan mengawasi. “Ziel,” panggilku lalu menggelengkan kepalaku. “Aku tidak yakin akan masuk ke dalam kolam itu.” “Kenapa Lily? Kau harus masuk ke dalam sana untuk membersihkan racun siluman ular tadi.” Aku mendekat pada Ziel, lalu membisikinya. “Aku meminum air di dalam salah satu gua di dalam hutan Are, dan pada saat itu aku memakan jantung iblis,” balasku. “Kau mengerti kan?” Ziel menatapku dengan mata emasnya yang tampak seperti cahaya dalam kegelapan. Bibirnya bergerak. “Kau mau masuk ke dalam sana bersamaku?” Aku mengerucutkan bibirku mendengarkan balasan Ziel. Rasa gatal di seluruh tubuhku ini semakin menjadi-jadi, dan mulai tidak tertahankan. Semakin digaruk, semakin perih rasanya. Sepertinya kulitku mulai ditumbuhi bintik-bintik berair. “Kalau kau tidak segera membasuhnya, kulitmu akan mengelupas, dan berbisik. Setelah itu, tidak ada lagi obat yang bisa mengembalikan kulitmu seperti semula,” lanjut Ziel. Aku langsung menatapnya tidak percaya. “Kau yang benar?” “Kapan aku berbohong padamu?” Ah, sialan. Aku tidak punya penyakit kulit saja semua orang membenciku di sekolah. Apalagi aku punya penyakit kulit. Aku buru-buru mendekat ke arah kolam. “Lepas pakaianmu,” ujar Ziel lagi. “Hah? Tidak bisa kalau langsung saja dengan pakaianku?” tanyaku. Ziel ini sedang mencari-cari kesempatan atau bagaimana sih? “Peraturannya memang begitu. Kau mau kulitmu bersisik atau tidak?” balas Ziel. Aku garuk-garuk. Makin lama makin gatal dan perih. Ah, sudah lah. Aku membuka pakaianku. “Ziel, jangan lihat. Balik arah!” seruku. Ziel tersenyum lalu berbalik memunggungiku. Aku melepas semua bajuku, lalu turun melalui batu-batu licin menuju ke kolam air hangat. Di bawah naungan sebuah pohon, aku mulai merendam diriku di sana. Air kolam itu benar hangat. Aromanya wangi seperti bau bunga-bungaan bercampur rempah obat seperti yang kucium di rumah Saman Ali. Begitu kulitku menyentuh air rasanya seperti terbakar selama sesaat. Air itu seolah menggigit pori-poriku yang gatal dan luka. Air di sekelilingku muncul buih kecil-kecil. Seperti memasukkan logam ke dalam cairan asam dan mengalami oksidasi. “Aduh!” Aku memekik ringan karena rasa sakit itu. “Lily!” seru Ziel. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” balasku buru-buru sebelum Ziel berbalik. Karena berangsur-angsur rasa menyengatk itu hilang, dan kehangatan air itu membuatku nyaman serta tenang. Aku membasuh wajahku dan mengalami sengatan menyakitkan itu sebentar lalu limpahan kenyamanan. Aroma uap kolam ini membuat perasaanku tenang dan rileks. “Lily, boleh aku berbalik sekarang?” tanya Ziel. Aku memastikan seluruh tubuhku tenggelam di dalam air sampai sebatas leher, lalu menjawab. “Oke. Kau bisa berbalik sekarang.” Aku memerhatikan Ziel yang berbalik, dia menatapku selama beberapa saat. “Lily, aku bisa melihat semuanya,” ujarnya dengan mata berkilat. Aku langsung memeluk tubuhku sendiri. “Ziel!” seruku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN