Di Rumah Sakit Umum Daerah Subang juga aku pernah menemui pasien penderita gagal ginjal. Aku ingat, saat itu sedang dinas pagi. "Ditensi dulu, ya, Pak," ujarku seraya mengangkat tangan besarnya untuk diperiksa tekanan darahnya. Bapak itu tersenyum dan mengikuti instruksi yang kuberikan. "Bapak pasien baru di sini?" tanyaku agar lebih akrab dengan pasien. "Iya, Neng. Baru masuk tadi malam." "Owala... sakit apa, Pak?" "Ginjal, Neng." Obrolan singkat itu membuatku selalu ingat sampai detik ini. Keesokan harinya, aku kembali bertemu dengan bapak tersebut, namanya Yasin. Wajah ceria Pak Yasin teihay pudar. Pria berumur empat puluh tujuh itu berbaring dengan mata tertutup. Aku pikir ia sedang tidur. Jadi, aku cukup mengangkat tangannya pelan-pelan untuk melihat tekanan darahnya.

