Di saat harapan sudah mulai sirna dan keinginan untuk menghadapi kenyataan hidup begitu menyakitkan. Terkadang manusia yang memiliki pikiran pendek memilih untuk menyerahkan segalanya. Walau mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Vio sangat panik mendengar kata - kata Vanessa sebelum sahabatnya yang sudah seperti saudara baginya sebelum mengakhiri komunikasi mereka. Berkali-kali dia menelpon ponsel Vanessa, tapi sudah tidak aktif. Rasa cemas dan ketakutan melandanya. Dia khawatir Vanessa benar-benar memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya sendiri. “Aku harus segera ke rumah Vanes,” ucapnya. Dia segera ke rumah Vanessa. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Semoga aku ga terlambat. Semoga Vanes tidak melakukan perbuatan bodoh," ucapnya dengan mata berkaca

