Terlambat

1049 Kata
Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Terlihat sepasang anak manusia berjalan menuju area parkir di basement gedung pencakar langit. Tapi tunggu, bukan jalan romatis sambil bergandengan tangan, melainkan seorang pria dengan celana dan lengan kemeja digulung menarik paksa seorang gadis yang jalan terseok-seok dengan pakaian yang robek di sana sini. Sesampainya di depan mobil, pria tersebut membuka pintu dan mendorong tubuh si gadis untuk masuk ke dalam dan diikuti olehnya. Tak berapa, lama mobil pun bergerak dan meninggalkan gedung tersebut yang telah sepi sejak beberapa jam lalu. Pria itu adalah Aldy dan Nisa yang malang. Setelah dia puas menyalurkan nafsu bejatnya kepada Nisa, Aldy memutuskan membawa Nisa ke rumah rahasianya yang dia bangun beberapa tahun lalu di pinggiran kota.     Kau tahu bagaimana perasaanku sekarang? Jawabannya adalah aku sangat puas. Ya benar, aku sangat puas karena beberapa saat yang lalu aku baru saja bersenang-senang dengan gadis sialan itu. Aku tak tahu apa yang terjadi denganku, karena yang kutahu kalau aku sangat bahagia jika menyakiti dan melihat gadis itu menangis. Apalagi melihatnya merintih kesakitan akibat ulahku. Jujur kuakui, rasa gadis itu masih sama seperti pertama kali aku memperkosanya dua tahun yang lalu, dan itu benar-benar sangat nikmat serta membuatku menggila, tentu saja tubuh gadis itu telah banyak berubah serta lebih menggairahkan saat ini. Di usiaku yang kini menginjak 28 tahun, aku tak pernah bercinta dengan wanita mana pun, hanya gadis sialan itu yang pernah bercinta denganku. Bukan! Tepatnya aku memperkosanya dan aku tak perduli karena bagiku yang penting kalau aku keenakan, apalagi artinya sudah dua tahun berlalu sejak aku menyalurkan gairahku kepadanya, dan baru tersalurkan lagi sekarang. Terserah dengan dia yang hanya bisa menangis dan merintih kesakitan merasakan milik-ku yang besar. Bodoh bukan? Gadis itu memang bodoh, bukannya berterima kasih karena aku memasukinya malah terus saja menangis. Padahal di luar sana, banyak sekali wanita yang ingin menghangatkan ranjangku, tapi aku tak minat sedikit pun dengan membuang benihku ke sembarangan tong sampah. “Asal kalian tahu, terongku hanya bereaksi jika melihat gadis sialan itu, aneh bukan?”   **** Pagi ini, Aldy memulai harinya dengan sebuah meeting, membahas tentang resort yang akan dibangun di Bali. Berhubung Mike tidak ada karena sedang Aldy tugaskan untuk memantau lokasi di sana,  alhasil Aldy menghadiri meeting tanpa Mike dan hanya didampingi oleh sekretarisnya. Meeting berjalan cukup lancar dan berlangsung hanya dua jam. Setelah bubar,  Aldy bergegas kembali ke ruangannya dan ternyata sudah ada Bagas yang menunggunya duduk dengan santai seolah rumah sendiri dengan posisi kaki naik ke atas meja. ‘Ceklek’ Bunyi pintu dibuka oleh Aldy dan hanya tatapan biasa yang didapati Bagas. "Seneng banget lo, Gas, kayak di pantai!" gurau Aldy santai yang Bagas sangat pahami adalah sebuah sindiran karena kaki sialannya yang terulur lurus di atas meja. Aldy berjalan pelan dan duduk di kursi kebesarannya. "Gimana meeting, beres?" tanya Bagas sambil menurunkan posisi kedua kaki panjangnya. "Beres!" jawab Aldy tanpa mengalihkan pandangannya dan Bagas hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Lo kenapa pagi-pagi sudah ngapelin gue?" tanya Aldy melirik ke arah Bagas yang sejak tadi menatapnya. "Oh, gue lagi kangen mendadak saja!" jawab Bagas menyenderkan punggungnya ke sofa. "Dih, najis!" sahut Aldy sarkas. "Hmmmm … gaya lo bilang najis, nanti gue pergi kangen minta gue pulang," beo Bagas meledek membuat senyum Aldy pun terbit. "Lo tuh yang ngikutin gue mulu udah kayak semvak gue gak bisa lepas dikit!" leceh Aldy balik membuat keduanya tertawa. "Al." "Hmm." "Al." "Hmm." "Hmm mulu lo kayak lagu Sabyan, yang benar kalau dipanggil sama yang tua, deh!" kesal Bagas karena Aldy masih saja sibuk dengan komputer di hadapannya. Usia Bagas hanya satu tahun lebih tua dari Aldy dan Mike yang seumuran. "Kenapa sih, Gas? Lo udah kaya cewek PMS sensi banget!" gumam Aldy melirik Bagas yang tampak kesal. "Lo udah dapet jejaknya?" tanya Bagas dengan suara berubah serius. Aldy menghentikan kegiatannya setelah mendengar ucapan Bagas barusan. Tangannya mengepal kuat dengan rahang yang mengeras meluapkan emosi yang mendadak menggerogoti hati. Semua kejadian yang terjadi 7 tahun lalu seolah kembali berputar di matanya. Jerit dan tangis terngiang jelas di telinganya yang berubah merah. "Belum, tapi segera. Si b******k itu gak akan bisa lolos dari gue, Gas!" ucap Aldy geram, hingga pulpen di genggamannya patah menjadi pelampiasan. Bagas hanya diam dan sudah menduga jika Aldy masih mencari si b******k itu, walaupun kenyataan begitu sulit menemukannya. Namun, Aldy tak menyerah dan masih terus memerintahkan orang-orangnya untuk terus mencari. "Lalu,  tempo hari lo bilang kalau adiknya bekerja di sini sebagai Cleaning Service,  benar?" tanya Bagas lagi penasaran dan ingin memastikan. Aldy tersenyum menatap Bagas. "Iya," jawab Aldy singkat dan bangun dari duduknya berjalan ke arah Bagas. "Kok bisa lo terima kerja disini?" "Ya bisalah, kantor gue ini," sahut Aldy yang membuat Bagas memutar bola matanya malas. "Bukan itu maksud gue. Maksudnya, dia tahu kalau lo pemilik kantor ini?" tanya Bagas lebih kepo. "Tahulah!" jawab singkat Aldy. Bagas yang mendengarnya semakin bingung, sedangkan Aldy hanya tersenyum dan duduk dengan santai di sofa panjang bersebrangan dengannya. "Terus terus,  reaksi, tuh, anak gimana pas ketemu lo? Gue kepo banget, ya," tanya Bagas yang semakin detail, tapi membuat Aldy geli melihat kelakuan sepupunya ini. "Kaget, terus nangis," sahut Aldy enteng. "Lah? Ok ok, pasti dia kaget dong lihat b******n kayak lo ternyata Boss-nya. Terus lo apain memang sampai dia nangis?" tanya Bagas lagi. "Gue pukul dan ...." Aldy malah menggantung kata-katanya dan lebih memilih membuka botol softdrink dan meminumnya hingga tandas. "Dan apa? Semoga lo gak nyakitin dia lagi, Al, karena dia gak tahu apa-apa,  bukan salah dia, bahkan dia dan Jefry gak ada ...." Aldy memotong ucapan panjang Bagas dan sontak membuatnya bungkam tak berkutik. "Gue memperkosanya lagi, disini," terang Aldy sambil memukul sofa yang didudukinya tepat bersamaan dengan kata "Di sini." Bagas melotot dan bungkam. Baru saja dia berkata agar Aldy jangan menyakitinya, tapi semua terlambat, dan terulang lagi. "Al!" panggil Bagas pelan. "Gas, jangan coba lo tahan gue karena selama Jefry belum gue temukan, maka adiknya yang akan menanggung akibatnya. Dan lo, jangan coba-coba untuk melarang apa pun yang akan gue lakukan ke gadis bodoh itu!" bentak Aldy dan tak ingin dibantah. Bagas hanya mampu memegang pelipisnya sambil memijat. Lagi dan lagi,  dia tak bisa menghentikan Aldy yang terobsesi akan dendamnya. "Terus, sekarang gadis itu ada di mana?" tanya Bagas lagi. "I'm hiding her for my self, ONLY" Bersambung 15 April 2020/18.40
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN