mati rasa

1470 Kata
Elena tidak dapat memejamkan matanya,ia terlihat gelisah.Lalu ia bangun dan menyandarkan tubuhnya didinding. "Ibu..aku lelah," Elena memejamkan matanya,tiba tiba suara ponsel berdering,lalu ia membuka mata dan menundukkan kepala menatap ponsel yang tergeletak di kasur," Ibu.."Lalu ia ambil ponsel dan mengangkat panggilan dari Ibunya. "Bu.." Tanya Elena "Ayah kamu sakit." Jawab Ibu terdengar serak seperti habis menangis. "Ayah sakit apa lagi Bu?" Elena memejamkan matanya menghela nafas panjang mendengar suara ayahnya yang terbatuk. "Penyakitnya kambuh nak,Ibu butuh uang untuk berobat." Ucap Ibu nya pelan.Sesaat hening, Elena tidak menjawab ucapan Ibunya. "Ibu sabar dulu,aku carikan uangnya dulu ya." Elena tersenyum getir,menundukkan kepala. " Iya nak." Ucap Ibu,terdengar suara Ayahnya memanggil Ibu nya,lalu Ibunya mematikan ponselnya. Elena menghela nafas panjang lalu mengembuskan kasar. "Aahhkk!." Elena melempar ponselnya ke atas kasur. Sakit sakitan, kemiskinan dan kegagalan dalam hubungan sosial dan eksistensial juga sederet permasalahan yang tidak ada jeda,menjadi beban yang sangat berat di rasakan.Tapi kita bisa lihat banyak orang yang sangat kaya dan berkecukupan merasa kekurangan bahkan depresi.Kalau di fikir-fikir,orang kaya saja bisa miskin lalu bagaimana dengan orang yang miskin?. Ataukah aku hanya keberadaan yang nyaris tak terlihat?. "Ibu..." Gumamnya lirih,ia jatuhkan tubuhnya ke atas kasur berusaha memejamkan mata,berharap esok kehidupan bermurah hati padanya. *** Pagi pagi sekali Elena sudah bangun,ia sudah menyelesaikan pekerjaan dan bersiap siap untuk berangkat kerja tas kecil dipundak dengan rambut di ikat sembarangan, Elena merapikan kemejanya lalu ia berjalan membuka pintu. Elena melebarkan matanya melihat empat pria sudah berdiri di depan pintu.Ia langsung menutup pintu lagi.Namun salah satu pria mengganjal pintu dengan sepatu berwarna hitam yang ia kenakan. Elena berusaha mendorong pintu semampunya,tapi usahanya sia sia,pintu berhasil pria itu dorong membuat Elena mundur ke belakang. "Kenapa kalian tidak pernah berhenti mengganggu hidupku!" ucap Elena menatap pria dihadapannya. Pria itu menarik kerah baju Elena mengabaikan pertanyaannya. Lalu mereka menyeret paksa tubuh Elena untuk mengikuti langkah kaki mereka.Dan membawa paksa masuk ke dalam mobil. Didalam mobil ia hanya bisa diam, memperhatikan wajah ke empat pria itu, ia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, memejamkan matanya."Ibu..." Ucapnya dalam hati. Semua cara ia lakukan untuk merubah hidupnya. Kini ia sadari bahwa selama ini hanya berusaha lari dari kenyataan yang tak bisa lagi ia hindari. Elena berusaha mencerna apa yang terjadi dari awal sampai detik ini,yang ada hanya kerumitan.Ia sadar semua adalah salahnya. Kini Elena harus bisa menerima segala konsekwensi atas setiap pilihan yang di ambil bukan lari dari kenyataan. Elena membuka matanya, entah berapa lama ia merenung di sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya mereka sampai di halaman sebuah rumah besar.Dari luar nampak seperti rumah tak berpenghuni. "Bersikap manis nona, jangan coba coba melawan." Ucap pria itu tertawa menoleh ke arah temannya yang ikut tertawa, lalu Elena dibawa masuk ke sebuah ruangan. Nampak seorang pria berambut panjang tengah duduk disofa di belakang meja besar,sebotol wiski dan komputer di atas meja. "Tuan Lucios." Ucap pria itu menundukkan kepala.Pria bernama Lucios itu tersenyum menatap empat pria itu. "Kerja bagus joe" Ucapnya. Pria yang dipanggil joe maju ke depan dan mengambil kursi besi,lalu diletakkan di bawah jendela yang tak jauh dari Lucios.Joe menarik tangan Elena dan menekan pundaknya untuk duduk di kursi itu. Joe berdiri di samping Elena. "Apa kabarmu nona manis?." Lucios tersenyum miring mengetuk ngetuk meja dengan jarinya dengan tatapan tajam ke Elena yang hanya diam mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Aku sedang bicara padamu nona." Saut Lucios raut wajahnya suram. Elena menoleh ke arah Lucios sesaat lalu ia menundukkan kepala jarinya memainkan resleting tas yang ada di pangkuannya. Lucios tersenyum sinis memperhatikan Elena. Lalu ia memiringkan kepala saat membuka saku jasnya mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya.Ia menatap Elena sebelum menghisap rokok dalam dalam lalu mengembuskannya perlahan. Elena melirik memperhatikan Lucios sesaat lalu kembali tertunduk. Sesaat hening Lucios hanya memperhatikan Elena Lucios melihat gadis dihadapannya seperti tidak gadis pada umumnya,gadis ini tidak terlihat takut,tatapan matanya kosong. "Menarik." Akhirnya Lucios angkat bicara setelah dari tadi hanya memperhatikan Elena yang mengangkat wajahnya menatap Lucios. Lucios berdiri,ia berjalan mendekati Elena lalu meraih kursi besi dan meletakkannya dihadapan Elena lalu duduk di atas kursi.Menatap dalam kedua bola mata Elena cukup lama ia menikmati wajahnya,sesekali ia menghisap rokoknya dalam dalam lalu mengembuskannya di wajah Elena yang hanya diam tak bergeming dengan tatapan tertuju pada Lucios. Lucios menjatuhkan rokok ke lantai lalu menggesekkan sepatu yang ia kenakan mematikan rokok." Dimana kalung itu?." Lucios menyentuh tangan Elena dan meremasnya pelan. Elena menggelengkan kepala. "Dimana kalung itu?." Tanyanya lagi.Elena lagi lagi menggeleng, membuat raut wajah Lucios berubah kesal. Ia menarik tangannya dari tangan Elena lalu menyandarkan tubuhnya di kursi." Masih mau berbohong?." Lucios melirik Elena tangannya memainkan dagunya. "Apa kau tuli?aku tidak tahu." Elena menatap tajam Luciaos. "Apa?."Lucios menghentikan tanganya yang memainkan dagu,menatap Elena. " Apa kurang jelas?atau kau memang tuli?." Ucap Elena lagi. Lucios menurunkan tangan dari dagunya lalu tersenyum sinis menatap Elena, ia berdiri membungkukkan badannya di hadapan Siene,ia mengangkat dagu Siene.Hingga wajah Siene tengadah. "Berani kau bicara seperti itu?." Ucapnya pelan. Elena memalingkan wajahnya, satu tangan menepis tangan Lucios di dagunya.Lucios menatap geram Elena lalu ia berdiri dan balik badan. Elena bersukur Lucios tidak memperlakukannya kasar,namun detik berikutnya tanpa Elena duga.Lucios menampar pipi Elena hingga limbung ke samping. Elena menyentuh pipinya yang terasa sakit dan panas. Elena mengusap bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah.Lalu ia memiringkan wajahnya menatap Lucios. "Beraninya kau dengan hanya perempuan saja,seolah olah kau terlahir dari batu." Ucap Elena dingin. "Kau_?" Kata kata Lucios tertahan. "Atau kau di lahirkan dari rahim seorang Iblis,mudah sekali tanganmu berbuat kasar." Ucap Elena lagi. Kata kata Elena menusuk dadanya,hingga membuat wajahnya berubah merah padam.Lalu ia menarik rambut Elena dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri sejajar dengannya. Elena meringis menahan sakit di kepalanya, ia mengangkat tangan menahan tangan Lucios di rambutnya.Lalu ia berjalan mengikuti langkah Lucios karena tubuh nya diseret Lucios dan mendorong tubuh Elena ke atas kasur yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Lancang!." Lucios menatap tubuh Elena yang ada di atas kasur. "Katakan di mana kalung itu!." Bentak Lucios. Elena bangun lalu duduk di atas kasur. "Aku sudah bilang tidak tahu apa apa,kenapa kau melibatkan aku?" ucap Elena dingin. "Masih berbohong juga."Tiba tiba ponsel miliknya berdering yang ada di atas meja,ia berjalan mendekati meja dan mengangkatnya. Elena menarik nafas dalam lalu mengembuskannya.Ia sedikit merasa lega,Lucios tidak jadi menyiksanya. Ia memperhatikan Lucios yang tengah berbicara dengan seseorang di ponsel. Tak lama Lucios mengakhiri pembicaraannya di ponsel lalu ia berjalan mendekati tempat tidur.matanya menatap Elena bibirnya mengatup. "Joe! ". Pria yang bernama Joe berjalan mendekati Lucios dan berdiri di sampingnya.Lucios mengalihkan pandangannya dari Elena menatap Joe,lalu ia berbisik di telinga Joe.Lucios tertawa kecil menepuk pundak Joe lalu menatap Elena yang tengah memperhatikan mereka berdua. Joe tertawa kecil menatap Elena lalu Joe membungkukkan badan dan menarik tangan Elena untuk berdiri. " Ayo ikut." Joe menarik tangan Elena berjalan meninggalkan ruangan.Di iringi tawa keras Lucios. Sepanjang perjalanan Elena terdiam,entah pria ini hendak membawanya kemana. Elena merasakan perih di sudut bibir,dan merasakan panas di wajahnya.Ia menyandarkan kepalanya dikursi mobil. "Ibu...ini putrimu." Ucapnya pelan,bulir air mata jatuh di pipinya. **** "Bangun!." Ucap pria yang ada disamping Elena. Ia perlahan membuka matanya perlahan menatap sekitar. Lalu tangannya ditarik keluar dari mobil, Elena mengerutkan dahi menatap rumah megah di depannya. "Bukankah_?. " Ayo cepat!." Elena menoleh menatap pria yang bernama joe. Lalu ia menyeret tubuh Elena menuju depan pintu lalu ia mengetuk pintu rumah.Tak lama seorang pria membuka pintu ditangannya pria memegang sebuah koper berukuran sedang,lalu pria itu menatap Joe dan memberikan koper itu dan menarik tangan Elena untuk menjauh dari Joe. Joe mengangkat koper itu dan membuka koper yang berisi uang dalam jumlah besar.Lalu ia menutup koper itu lalu menentengnya,ia tersenyum pada pria itu lalu beralih menatap Elena. "Baik baik manis." Ucapnya tersenyum mencemooh. Lalu ia meninggalkan rumah itu. Elen anya diam memperhatikan. "Mari nona." Pria itu membawa ke lantai ke lantai dua dan di masukkan ke dalam kamar,lalu ia pergi meninggalkan Elena dan mengunci pintu dari luar. Elena duduk ditepi ranjang, ia menundukkan kepala, mengusap air matanya.Suara ponsel berdering dari dalam tasnya,lalu ia membuka tasnya dan mengambil ponsel.Lalu ia menatap layar ponsel. "Ibu." Ucapnya lirih,ia matikan ponselnya. "Maafkan aku Ibu,bersabar ya..nanti aku kirim uangnya." Ucapnya pelan,ia tidak berani mengangkat telepon sang Ibu,ia tidak mampu menjelaskan situasi yang di alami pada Ibunya.Terkadang kita tidak perlu menjelaskan apa apa.Situasi yang sulit apapun yang kita jelaskan akan tetap salah.Diam lebih baik dari pada bicara. Elena membaringkan tubuhnya di atas kasur.Ia pejamkan mata dengan bulir air mata yang tumpah membasahi sprei berwarna coklat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN