Sebulan penuh setelah vonis perceraian dijatuhkan aku dan Ambar mulai sedikit-sedikit terbiasa dengan kehidupan kami yang hanya berdua saja, mulai bahagia dan yakin bahwa kami bisa berdiri sendiri tanpa bayang Mas Indra. Kudengar bahwa dia pun telah menikah dengan kekasihnya dengan upacara yang begitu mewah dan itu pun dengar dari saudara jauh beliau yang kebetulan berpapasan denganku di jalan. Wanita itu bilang bahwa prosesi pernikahan berlangsung penuh kemeriahan tapi sayang sang pengantin terlihat sedih entah apa masalahnya. Aku sendiri tidak mau ambil pusing karena bisa saja apa yang dikatakan wanita itu bohong atau hanya sekedar untuk menghibur perasaanku. Aku tidak begitu peduli, yang kupedulikan adalah bagaimana aku bisa bekerja dengan baik dan menabung. (Uang belanja untuk Amb

