Sudah berapa lama waktu berjalan tanpa Rindang sadari, hingga saat dia mendongak, dia terkejut melihat wajah meringis kekasihnya. "Kenapa?" tanya Rindang. Matanya berpendar cemas, takut jika luka di ajah Awan yang banyak itu terasa sakit saat ini. Namun kekasihnya malah tertawa kecil, membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. "Kesemutan," jawabnya. Rindang terdiam, sebelum kemudian dia tertawa dengan gelengan kepala pelan. Awan selalu melakukan sesuatu yang membuatnya tidak habis pikir, bahkaan di situasi yang beberapa saat lalu membuatnya merasa sedih karena merindukan Kakaknya dan juga mempertanyakan sikap kedua orang tuanya, kini dia malah tertawa melihat tingkah menakjubkan kekasihnya itu. Rindang menghela napas pelan, berjalan mendekat ke arah Awan kemudian memapah tubuh besar

