Berulang kali Rindang meringis, menahan perih di beberapa bagian tubuhnya. Jatuh dari sepeda dengan kecepatan yang cukup tinggi membuat luka yang didapat oleh Rindang lumayan parah. Bahkan harusnya dia sudah sampai di rumah sepuluh menit yang lalu, namun baru bisa sampai sekarang karena harus berjalan tertatih-tatih. Sempat otaknya menyerukan kalimat, kenapa tidak dia terima saja tawaran Awan untuk mengantarnya pulang. Namun Rindang tidak ingin sampai ada teman sekampusnya yang tahu letak rumahnya, apalagi kalau orang itu adalah Awan. "Assalamu'alaikum, Rindang pulang," salam Rindang dengan nada pelan dan lesu. Dia melepaskan sepatunya perlahan, duduk di bawah lantai sambil terus menatap luka terbuka yang ada di lututnya. Perih sekali. Ketika dia berusaha bangun dan berbalik badan, d

