SABAR

1780 Kata
Zefran tau sampai detik ini Shayrin masih berhubungan dengan Arfan. Namun zefran tetap diam masih tetap berpura-pura tak tau apa pun. Shayrin aja tidak merasa berdosa sama sekali. Walaupun Zefran cuma pengganti Arfan kemarin tetap aja Zefran suami sah Shayrin. "Zef gue besok mau ke punacak,"ucap Shayrin sambil menyisir rambutnya yang basah. "Sama siapa?"tanya Zefran fokus dengan laptopnya. "Temen gue lah." "Nginep gak?" "Enggak, berangkat pagi pulang sore atau malem."Shayrin terlihat sangat sexy menggoda menggunakan mini dress dan rambutnya basah. "Mau gue anter?"Zefran menutup laptopnya. "Gak usah, gue sama temen-temen kok."Shayrin melempar handuknya sembarangan. "Jorok banget sih. Taruh jemuran."Zefran memungut handuknya dan melempar ke Shayrin. "Gak sopan....!!"seru Shayrin. "Lagian kakak jorok, handuk basah main lempar aja." "Tar juga di pindahin. Gue mau nonton filem favorit gue dulu."Shayrin duduk sila di sofa dengan paha terekspose. "Kakak gak malu apa?" "Malu kenapa?"tanya Shayrin. "Paha sama belahan d**a kemana – mana,"jawab Zefran "Lagian di dalam rumah ini,"balas Shayrin acuh. "Bikin gerah aja."Zefran membesarkan Ac-nya dan membuka laptopnya lagi meneruskan kerjaan kantor. Shayrin tak menanggapi Zefran yang salah fokus gak konsen dengan kerjaannya, malah fokus dengan Shayrin tapi Shayrin malah acuh nonton filem drakor kesukaannya. "Kak,"panggil Zefran. "Heum."Shayrin hanya berdehem. "Gak jadi."Zefran mencoba fokus lagi ke kerjaannya namun tetap saja gak bisa. Shayrin malah tiduran di sofa. Bagian d**a bisa terlihat jelas dari samping."Astaga...."Zefran mengusap wajahnya kasar sambil melirik ke arah Shayrin. "Apaan sih loe daritadi kaya cacing kepanasan." "Gue gak kepanasan gimana kalo di suguhi pemandangan bukit kembar gitu." "Loe jelalatan banget sih."Shayrin menutup dadanya dengan bantal. "Bukan gue yang jelalatan. Kakak aja yang mancing. Coba kalo pakean kakak gak kaya gitu pasti gue juga gak bakal liat,"jawab Zefran. "Dasar omes loe ya,"tuduh Shayrin. "Niatnya gak mikir yang enggak-enggak tapi liat kakak jadi iya."Zefaran nyengir. "Awas kalo loe berani macem-macem."Shayrin melotot. "Gue kan suami kakak, masa gak boleh."Zefran menggoda Shayrin. "Gak bisa, awas loe."Shayrin bringsut mojok di sofa. "Lagian udah sah ini."Zefran pindah duduk mepet ke Shayrin. "Awas ih."Shayrin mendorong Zefran. "Ya elah sama suami galak banget,"cibir Zefran terkekeh melihat muka Shayrin ketakutan. "Udah sana gak lucu becandanya."Shayrin memukul-mukul bahu Zefran. Zefran dan Shayrin asik bercanda keakraban tercipata di antara mereka berdua dengan sendirinya."Kak jalan yuk makan di lesehan,"ajak Zefran. "Loe mau traktir apah?" "Iya gue yang traktir,"jawab Zefran. "Emang loe punya uang?"tanya Shayrin lagi. "Punya kan udah gajian." "Ya udah ayo."Shayrin langsung semangat. "Ganti baju sana kak, kita naik motor aja. Kakak gak pernah naik motor kan?" "Belum pernah. Serem gak?"ucap Shayrin ragu. "Asik banget naik motor gak serem sama sekali."Zefran meyakinkan Shayrin. "Ya udah tunggu gue ganti baju dulu."Shayrin ke kamarnya untuk ganti baju. Saat Shayrin di kamar ponsel Shayrin terus bergetar. Zefran melihat nama yang tertera di layar ponsel."My sweet heart."Zefran miris membaca nama untuk Arfan di ponsel Shayrin namun Zefran mencoba sabar. Ia memilih ke luar rumah menunggu shayrin di luar pura-pura manasin motor. "Yuk jalan,"ucap Shayrin sambil chattingan. "Main handphonenya tar lagi, pegangan tar jatuh."Perintah Zefran. "Iya bawel."Shayrin pun memasukan ponselnya ke dalam tas. Di jalan Shayrin sangat senang karna ini baru pertama kalina Shayrin naik motor."Seger, asik tau gini gue sering-sering naik motor,"ucap Shayrin senang. "Pegangan."Zefran memacu motornya kencang, Shayrin langsung memeluk Zefran erat. Ada getaran di hati Shayrin saat memeluk Zefran. Shayrin juga merasa sangat nyaman. Shayrin menyandarkan kepalanya ke punggung Zefran, menghirup parfum Zefran yang maskulin cowok banget."Mau sampai kapan meluk gue terus? Kita udah sampai,"ucap Zefran. "Oh ya."Shayrin langsung melepas pelukanya dan bergegas turun. "Itu tempatnya."Zefran berjalan terlebih dahulu. Zefran dan Shayrin makan di warung lesehan di pinggir jalan."Tempatnya bersih gak?"tanya Shayrin yang gak pernah makan di lesehan. Biasanya Arfan selalu mengajak Shayrin ke restoran mewah. "Tenang gak kalah sama restoran kok,"balas Zefran sambil memesan ayam bakar dua dan es jeruk dua. Zefran memilih duduk di bawah pohon yang di hiasi lampu kecil warna -warni."Tempatnya asik juga."Shayrin melihat pemandangan sekitar. "Iya dong,"jawab Zefran membuka ponselnya yang penuh pesan dari Zahra. "Zahra ya?"tanya Shayrin memicingkan matanya curiga. "Iya ngajak jalan,"balas Zefran meletakan ponselnya di meja. Shayrin langsung mengambil ponsel Zefran dan mengecek semua pesan masuk di ponsel Zefran."Gue gak selingkuh kok,"ucap Zefran yang sebenarnya sedang menyindir Shayrin. "Ya kali aja,"balas Shayrin gak ngerasa sama sekali. "Handphone gue di pegang kakak gue juga berani,"ujar Zefran tersenyum pada pelayan yang mengantar makanan pesanannya. "Gak perlu,"balas Shayrin cepat takut ponselnya di cek Zefran. Zefran hanya mengangguk tau kalau Shayrin takut ketauan. "Ini mana garpu sama sendoknya?"Shayrin bingung cara makannya. "Pake tangan langsung aja. Ini buat cuci tangan."Zefran mengajari Shayrin. "Gak mau, kuku gue tar rusak baru dari salon nih kuku gue."Shayrin menunjukan kukunya yang kinclong. "Ini makan."Zefran menyuapi Shayrin dengan tanganya.Shayrin pun membuka mulutnya."Enak juga,"ucap Shayrin. Zefran makan bergantian setelah menyuapi Shayrin. Sangat romantis. Zefran memperlakukan Shayrin sangat baik tak pernah menyakiti hati Shayrin dan selalu mgutamakan Shayrin. Arfan mengirim pesan pada Shayrin ingin jalan bareng. Shayrin langsung mengiyakan dan meminta Arfan menjemputnya tak jauh dari tempat makan Shayrin dan Zefran sekarang. "Zef loe pulang sendiri gue mau jalan sama Amel,"bohong Shayrin. "Di mana Amel? Ini juga udah malam kak, katanya besok ke puncak,"ujar Zefran. "Udah ah gue pergi."Shayrin tak mendengarkan Zefran dan pergi begitu aja meninggalkan Zefran sendiri. Zefran hanya melihat kepergian Shayrin."Surat cerai buat loe udah gue siapin, kapan pun loe mau. Loe bisa pergi kak. Pergi tinggalin gue begitu aja tanpa mendengar atau melihat ke arah gue."Zefran menatap nanar. Zefran di rumah tak bisa tidur memikirkan Shayrin. Zefran bingung dengan dirinya sendiri, apa mungkin ia sudah menjatuhkan hatinya untuk Shayrin. ***** Shayrin pulang tangah malam kaget melihat Zefran ada di ruang tengah sedang duduk diam tatapannya memang ke televisi tapi pikirannya entah kemana."Loe gak tidur?"tanya Shayrin basa-basi. "Belum ngantuk." "Tidur udah malam."Perintah Shayrin. "Kakak aja duluan." "Ya udah."Shayrin pun masuk ke kamarnya. "Kak kenapa kakak tega sama gue,"ucap Zefran tak tahan lagi. Shayrin menghentikan langkahnya. "Gue tau selama ini kaka selingkuh sama kak arfan."zefran berdiri melihat ke arah shayrin. "Jangan asal nuduh."ucap shayrin gugup."Gue tau kak.Lalu kapan kak Shay mau bawa kak Arfan di depan gue buat ngakuin kalo kalian berdua saling mencintai?"tanya Zefran mendekat ke Shayrin. "Iya gue dan Arfan masih saling mencintai, kita secepatnya akan memberi tau semuanya,"jawab Shayrin. "Ok."Zefran langsung mengambil jaket dan kunci motornya pergi dari rumah meninggalkan Shayrin tanpa banyak bicara.Shayrin bingung mau gimana, ternyata Zefran sudah tau semuannya. Ada sedikit rasa bersalah di hati Shayrin.  Sampai pagi Zefran tak pulang akhirnya Shayrin membatalkan perginya ke puncak bersama Arfan dan menelfon sahabatnya, saat menemukan map di atas meja. "Ada apa?"tanya Amel buru-buru datang ke rumah menemui Shayrin. Ia langsung memeluk Amel dan menangis."Ada apa sih?"tanya Amel bingung mana Maysha gak bisa datang. Shayrin menunjukan map yang ada di meja berisi surat-surat cerai untuk di ajuin ke pengadilan. "Astaga...loe mau cerai !!"seru Amel menutup mulutnya. "Zefran yang menyiapkan ini. Gue nemuin ini di meja ruang tengah tempat Zefran duduk semalem sebelum pergi,"balas Shayrin menangis sesenggukan. "Ada masalah apa? Sampai Zefran nyiapin kayak gini?"amel mengajak Shayrin duduk. "Zefran udah tau lama kalo gue sama Arfan." "Loe yang salah, wajar Zefran marah. Dia udah sabar ngadepin loe tapi loe malah selingkuh di belakang dia,"ucap amel. "Tapi gue cinta sama Arfan,"balas Shayrin. "Terus kenapa loe nangis dan kacau gini kalau Zefran mau ceraiin loe, bukannya bagus loe jadi bisa sama Arfan,"cerca Amel. Shayrin trdiam. Benar kata Amel kenapa sedih Zefran mau menceraikan dirinya, harusnya senang jadi bisa bersatu dengan Arfan tanpa penghalang lagi. Tapi entah mengapa hati Shayrin tak terima kalau di ceraiin. Setelah kejadian itu, Zefran tak pulang-pulang ke rumah hampir seminggu. Shayrin akhirnya berinisiatif mencari Zefran. Shayrin datang ke kantor Zefran malam hari setelah pulang lembur. "Hai sayang nyariin gue yah."Arfan mendekat ke Shayrin. "Gue nyari Zefran ada yang mau gue bicarain,"balas Shayrin. "Kok zefran?"tanya Arfan. Shayrin tak menjawab dan langsung masuk ke ruangan Zefran dan menguncinya. Zefran yang sedang fokus membaca proposal melihat kedatangan Shayrin langsung menghentikan kegiatannya. "Apa maksud loe."Shayrin meletakan map berisi surat-surat itu. "Bukannya itu yang kakak mau?"tanya Zefran. "Loe mau ceraiin gue gitu."Shayrin tak terima. "Kan kakak sama kak Arfan saling mencintai. Jadi itu kan yang kakak mau, kakak tanda tangan aja nanti gue ajuin ke pengadilan. Gak bakal lama kok,"balas Zefran fokus kembali ke proposalnya. Shayrin mengambil map itu dan menyobeknya kemudian melepar ke muka Zefran. Sebenernya Zefran sangat marah karena Shayrin gak sopan tapi Zefran mencoba tetap sabar."Apa sebenarnya mau kak?"Zefran menutup proposalnya dan menghampiri Shayrin yang tak jelas maunya apa. "Gue gak mau cerai,"jawab Shayrin angkuh. "Gak mau cerai tapi kakak selingkuh sama kak Arfan. Kakak juga bilang kalian berdua saling mencintai, terus untuk apa pernikahan ini,"ujar Zefran. "Gue pokoknya gak mau cerai,"kekeuh Shayrin. "Kakak cewek dan kodratnya cewek itu memiliki satu suami. Gue gak mau di duakan dan gue yakin kak Arfan juga,"ucap Zefran gak ngerti jalan fikiran shayrin. "Ayo loe pulang ke rumah."Shayrin tak menanggapi Zefran. "Gak. Kakak pulang aja. Kak Arfan gue yakin sedang nunggu kakak,"tolak Zefran. "Gue mau loe pulang sekarang."Shayrin menarik lengan Zefran untuk mengikutinya pulang. "Kaka egois, menang sendiri. Gak pernah sedikit pun dengerin gue atau melihat sakit di hati gue."Zefran melepaskan tangan Shayrin. "Ya gue emang egois gue juga gak peduli dengan perasaan loe, apa lagi tentang sakit hati loe. Gue gak peduli yang gue peduliin cuma Arfan dan yang gue cintai cuma Arfan,"teriak Shayrin. "Terus untuk apa kakak nyuruh gue pulang."Zefran mulai terpancing emosi karna harga dirinya sebagai laki-laki di rendahkan. "Gak usah banyak tanya, ayo pulang."Shayrin terus memaksa Zefran. "Silahkan pergi dari sini."usir Zefran. "Loe ngusir gue?" "Iya. Jadi silahkan pergi. Sebelum kesabaran gue habis."Zefran duduk kembali ke kursinya. "Suami gak bertanggung jawab."Shayrin mengamuk dan membuang semua proposal yang ada di meja Zefran. "Apa loe udah gila."Zefran menggebrak mejanya. "Iya, terus loe mau apa? Emang salah kalo ngajak suami pulang."Shayrin terus menantang Zefran. "Emang kakak anggep gue suami," balas Zefran tersenyum kecut. "Iya lah makanya gue nyuruh loe pulang." "Pulang buat jaga rumah sambil nunggu kakak pulang kencan gitu." "Kalo loe gak mau pulang ,gue lukai diri gue sendiri."Shayrin mengambil gunting dan mencoba menggores lengannya. "Ok gue pulang."Zefran merebut guntingnya dan membuangnya jauh-jauh. "Ayo dan jangan pernah bahas perceraian. Gue akan jauhi Arfan,"ucap Shayrin. "Baik tapi kalo gue tau kakak masih sama kak Arfan gue mundur,"tegas Zefran. "Iya,"jawab Shayrin singkat. Akhirnya Zefran mau pulang bersama Shayrin. Di lift Zefran dan Shayrin bertemu Arfan. Arfan seperti biasa tersenyum ramah seperti tak punya salah atau dosa sama sekali.Shayrin di depan Zefran memang seperti tak kenal Arfan dan sama halnya dengan Arfan. Zefran sangat marah dengan Shayrin namun Zefran masih memberikan kesempatan untuk Shayrin berubah ataupun untuk memilih. Shayrin berjanji akan jauhi Arfan dan Zefran percaya dengan Shayrin. Zefran berharap Shayrin tak mempermainkannya lagi.Karena belum tentu nanti Zefran akan memberikan kesempatan lagi untuk Shayrin. Zefran mulai menyadari kalau cinta hadir seiring berjalannya waktu, Zefran jatuh cinta pada Shayrin.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN