"Andra 'kan bukan hanya anak kamu. Dia juga putraku. Jadi, pasti ada perpaduan dari kita berdua dalam gen-nya." Wajah wanita itu memerah. Dia benar-benar malu akan ucapannya sendiri. "Hahaha, ciee yang udah mulai berani bicara dengan nada menggoda. Kok cepat banget belajarnya sih, Sayang?" Riana menundukkan kepalanya guna menutupi kegugupan yang menyerang. Namun wajah damai Andra ketika tertidur seketika menggugah hatinya. Dari awal ya sejak pertama kali mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, tidak pernah terbesit keinginan sedikit pun untuk menggugurkan janinnya. Beberapa kali dia justru nyaris kehilangan Andra karena kondisi rahimnya yang lemah dan bermasalah. "Maafin, Mama ya Nak. Mama selalu saja membahayakanmu. Tapi, sekarang Mama akan berusaha merawat Andra dengan baik. Mama janji

