Plakkkk!!! Mark meringis merasakan pipinya yang berdenyut setelah mendapatkan tamparan yang cukup keras. Ia mengusap ujung bibirnya dengan ibu jari, untung tidak berdarah. Mark memilih untuk menunduk tidak lagi menatap orang di hadapannya yang terlihat sudah mulai murka. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi Mark." Suaranya terdengar penuh peringatan. "Apakah sesulit itu? bukankah kalian berdua sudah sangat dekat?" tanyanya lagi. Ia merasa sudah sangat sabar menunggu selama ini. Tapi tidak kunjung terlihat ada kemajuan yang signifikan. "Maaf Ayah. Tapi..." ucapan Mark terdengar menggantung, sementara Eldrick, orang yang tengah menatapnya tajam itu menunggu lanjutan dari penjelasan putranya selanjutnya. "Tapi Erika sedang dekat dengan pria lain." "Apa?!" Mark masih menunduk tidak b

