*** Uli menatap Sera dengan tajam. “Sera!” ujarnya. Sera masih saja bungkam. Terdiam dan tampak gemetaran. Hal itu semakin membuat Uli yakin bahwa Sera benar-benar menyimpan sebuah rahasia penting darinya. Sera menarik napasnya dalam-dalam. “Nggak ada apa, Ul. Nggak mungkin gue nyimpen rahasia dari lo,” ucapnya. Pada akhirnya Sera masih memilih berbohong. “Astaga!” Uli mulai geram. Ia tidak tahu kenapa Sera enggan menceritakan masalahnya. “Lo beneran masih anggap gue sebagai sahabat nggak sih, Ra?” tanyanya sedikit meninggikan suara. Sera yang mendengar itu sedikit merasa tidak enak. Namun, ia tak bisa ikut mengencangkan suaranya seperti yang Uli lakukan. Kepalanya menggeleng pelan. Matanya sayu karena kesedihan. Uli tidak akan berhenti sebelum ia menceritakan semuanya. “Gue … ” S

