"Mas, aku cantik nggak?" Pertanyaan absurd yang terpaksa kuucapkan di depan Mas Bian, suamiku sendiri. Sebenarnya aku malu, tapi terpaksa, sebab tak pernah sekalipun kudengar dia memujiku apalagi mengatakan cinta padaku. "Cantik, Nia," jawab Mas Bian pendek sembari melirikku singkat. "Kenapa jawabanmu sesingkat itu, Mas? Kamu nggak jatuh cinta sama karyawan lain di kantormu, kan?" tanyaku dengan tatapan penuh selidik. "Nggak, Dania," jawab Mas Bian lagi, tapi kali ini tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Dia tetap fokus dengan surat kabar di pangkuannya. "Lantas, kenapa kamu nggak pernah bilang "love you too" tiap kali kubilang "love you"? Apa aku terkesan alay hanya karena menginginkan kata cinta dari suamiku sendiri?" cecarku lagi. Mas Bian menghela napas. "Aku memang begini, Dania

