Malam sudah berganti pagi. Suara kokok ayam terdengar di kejauhan. Rasanya mataku teramat berat karena nggak bisa tidur semalaman. Kulihat di dinding, jarum jam menunjuk angka empat, sebentar lagi adzan subuh berkumandang dengan perkasa. Perut rasanya benar-benar mules tak karuan. Bolak-balik kamar mandi tapi nggak ada tanda-tanda buang air besar. Mas Feri pun tampak kebingungan. Dia berusaha membuatkan minuman hangat, memijit kaki dan punggung bahkan membacakan ayat-ayat Qur'an di samping perut, namun makin lama justru makin mulas. Mas Feri pamit ke mushola. Aku pun mengiyakan sembari kelimpungan di kasur. Air bening mulai merembes ke kaki tepat saat Mas Feri baru pulang dari mushola melaksanakan salat berjamaah. Gegas dia menelepon Mbak Vina dan ibu, mengatakan kalau aku sepertinya a

