Tiga hari ini Mas Bian hanya diam saja. Entah apa yang dipikirkannya. Aku pun hanya bicara seperlunya. Namun semua kebutuhannya tetap kupenuhi seperti biasanya. Aku memang kecewa, tapi aku tak ingin durhaka. Ada banyak hal yang kurencanakan. Termasuk bila nanti harus memilih pergi meninggalkan Mas Bian dengan segala masa lalunya. Meski jelas ada banyak luka di sana. Terlebih mama dan Irena. Namun bertahan dengan segala kekecewaan rasanya juga lebih menyakitkan. Apalagi jika Mas Bian tak ada keinginan untuk melupakan perempuan itu dalam hidupnya. Aku seorang wanita, yang jelas tak ingin hanya dijadikan pelampiasan. Aku tak tahu apa yang terjadi pada Mas Bian tiga hari belakangan ini. Mungkinkah dia memikirkan kata-kataku tempo hari, yang memilih pergi jika dia memang tak ingin melupak

