Cerita yang Tak Pernah Usai

495 Kata
Hujan belum berhenti sejak sore tadi. Di luar, langit gelap seperti diselimuti kabut tebal, menelan suara-suara kota menjadi bisikan samar. Di dalam rumah itu, hanya ada dua jiwa yang berusaha bertahan di tengah badai masa lalu mereka. Aruna duduk di lantai, bersandar pada dinding. Kakinya ditekuk, dagunya bertumpu di lutut. Matanya tak pernah benar-benar lepas dari Darren, yang kini berbaring di sofa dengan tatapan kosong ke langit-langit. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang menakutkan — ini adalah keheningan yang rapuh, seperti selembar kertas tipis yang bisa sobek kapan saja. Aruna memeluk dirinya sendiri, merasakan hawa dingin menembus kulitnya. "Aruna," suara Darren tiba-tiba memanggil pelan, nyaris seperti bisikan. Ia menoleh cepat, seakan takut melewatkan sesuatu. "Apa kamu... percaya takdir?" tanya Darren, matanya masih menatap kosong ke atas. Aruna berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku percaya... beberapa hal terjadi karena kita harus belajar sesuatu," katanya pelan. Darren tersenyum miris, bibirnya menegang. "Kalau begitu... mungkin aku memang dilahirkan untuk dihancurkan." Ada luka menganga dalam kata-katanya, luka yang bahkan Aruna pun hampir tak sanggup lihat. Pelan-pelan, Aruna mendekat, duduk di karpet dekat sofa. Jarak mereka kini hanya sejengkal. "Kamu tahu," kata Aruna lirih, "bahkan puing-puing pun bisa jadi sesuatu yang indah. Kalau kamu mau... aku ingin dengar ceritamu." Darren tertawa kecil, getir. "Tidak ada yang indah dari ceritaku," gumamnya. Aruna tidak memaksa. Ia hanya duduk di sana, menunggu. Beberapa detik. Beberapa menit. Sampai akhirnya Darren berbicara, nadanya getir, seperti membuka luka yang sudah membusuk terlalu lama. "Waktu aku lahir... ibuku meninggal." Darren menutup matanya, menarik napas panjang. "Dan sejak itu... aku selalu jadi alasan. Alasan kenapa ayahku berubah jadi dingin. Alasan kenapa semua orang di rumah menghindariku. Alasan kenapa aku dikurung." Aruna menahan napas, mendengarkan dalam-dalam. "Saat umur delapan belas," lanjut Darren, suaranya pecah, "aku kabur. Aku pikir... aku bisa hidup bebas. Tapi aku cuma bocah bodoh. Orang-orang yang ayahku bayar menemukanku... Mereka bilang aku aib keluarga. Mereka... menghukum aku. Mengurung aku di ruangan putih itu." Darren mengusap wajahnya kasar, seolah ingin menghapus ingatan itu dari kulitnya. "Aku berteriak. Aku menangis. Aku mohon. Tapi tidak ada yang datang." Matanya terbuka, menatap Aruna dengan pandangan kosong. "Setelah itu... aku berhenti berharap." Aruna merasa dadanya sesak, seolah semua udara di ruangan menghilang. Ia ingin menangis, tapi ia tahu — ini bukan tentang dirinya. Ini tentang Darren. Dengan hati-hati, Aruna mengulurkan tangannya, hanya menyentuh punggung tangan Darren sebentar — sekejap — sebelum menariknya kembali. Menyampaikan bahwa ia di sana, tanpa harus memaksa. Darren menoleh, menatapnya. Ada sesuatu di matanya — rasa takut, keraguan, dan keinginan untuk percaya, bercampur jadi satu. "Aku tetap di sini," bisik Aruna. "Kalau kamu mengizinkan." Beberapa detik lagi berlalu, menegangkan. Lalu Darren, perlahan sekali, membiarkan tangannya bergeser, hingga jari-jarinya menyentuh jari Aruna. Sangat ringan. Sangat ragu. Tapi itu cukup. Bagi dua orang yang sudah terlalu lama sendirian, sentuhan kecil itu terasa seperti dunia baru yang lahir. Hujan masih turun di luar, membasuh bumi. Di dalam, dua hati yang luka mencoba menemukan tempat aman satu sama lain — walau untuk sementara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN