Suara yang Tak Pernah Terdengar

755 Kata
Hujan turun malam itu. Tidak deras, hanya gerimis halus yang mengetuk jendela seperti bisikan kecil. Darren duduk di ambang jendela, menatap titik-titik air yang mengalir lambat di permukaan kaca. Lampu ruang tengah redup, menyisakan bayangan lembut di sekitarnya. Di lantai, Jeda terbaring seperti biasa. Satu kakinya nyaris lepas — mungkin tertarik tanpa sengaja ketika Darren menggenggamnya terlalu erat pagi tadi. Tapi Darren belum ingin memperbaikinya. Seolah luka kecil itu membuat bonekanya terasa lebih nyata, lebih hidup. Aruna datang tanpa membawa apa pun hari itu. Hanya dirinya sendiri, dan itu cukup. “Boleh aku duduk?” tanyanya pelan, menunjuk lantai di dekat jendela. Darren mengangguk tanpa berpaling. Suara hujan mengisi celah di antara mereka. Tak ada cerita. Tak ada alasan. Hanya... keberadaan. Beberapa menit berlalu sebelum Aruna bicara. “Aku kadang suka bayangin... kalau hujan itu suara-suara yang nggak pernah didengar.” Darren menoleh, sedikit terkejut. “Maksudnya?” Aruna menarik napas. “Semua tangis yang ditahan, semua kata yang nggak pernah sempat keluar. Mungkin... hujan itu tempat mereka berlindung.” Darren memandangi wajah Aruna dalam diam. Gadis itu tak pernah berhenti membuatnya bingung — kadang terlalu puitis, kadang terlalu jujur. “Tapi... kenapa harus sembunyi di hujan?” tanyanya akhirnya. “Karena di sana, mereka bisa menangis tanpa ditanya kenapa.” Kalimat itu menghantam Darren seperti gelombang diam yang mengguncang dari dalam. Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling meremas. “Aku dulu sering mimpi... suara ibu,” gumamnya. “Padahal aku nggak pernah dengar suaranya. Bahkan saat bayi.” Aruna menoleh, tapi tidak menyela. “Ayah nggak pernah mau cerita soal dia. Kamar ibu dikunci, semua foto disingkirkan. Seolah... aku lahir dari kehampaan.” Hening sejenak. Hanya suara rintik hujan yang masih berbisik. “Aku pernah nekat buka kamarnya, waktu umur 13. Diam-diam.” Darren tertawa kering. “Ketahuan. Dan sejak itu... aku nggak bisa lihat langit selama tiga bulan.” Aruna menutup matanya sesaat. Ia tak bertanya apa yang dimaksud — ia tahu, langit yang dimaksud Darren bukanlah langit biasa. “Tapi sejak kamu datang... suara itu muncul lagi. Samar. Lembut. Nggak jelas, tapi... ada.” Darren mengangkat wajahnya. “Mungkin itu bukan suara ibu. Mungkin cuma kamu.” Aruna menelan ludah perlahan. “Kalau memang itu aku... kamu boleh dengar aku kapan pun kamu butuh.” Darren tersenyum tipis. “Kamu nggak takut?” “Takut apa?” “Takut jadi tempat semua luka ini tumpah?” Aruna menggeleng pelan. “Luka bukan penyakit menular, Darren. Dia hanya butuh tempat untuk sembuh.” Hening kembali turun. Kemudian, perlahan, Darren bersandar pada dinding, menengadahkan wajah ke jendela. “Aku pengin dengar kamu cerita hari ini. Bukan soal aku. Tapi kamu.” Aruna terdiam sejenak, seperti tidak siap. “Apa yang ingin kamu tahu?” “Kenapa kamu bisa tahu rasanya sendiri. Sepi. Takut. Luka.” Jawaban itu membuat Aruna menunduk. Jemarinya mengusap lantai perlahan, seperti mencoba mencari pijakan dari ingatan yang rapuh. “Karena... aku juga pernah ingin menghilang.” Suara Aruna serak. Lembut, tapi tajam. “Dulu, waktu kecil. Setelah kecelakaan ibu. Aku pikir, kalau aku nggak minta dijemput hari itu... mungkin ibu masih hidup.” Darren mengerutkan dahi. “Kamu menyalahkan dirimu?” Aruna mengangguk, perlahan. “Semua orang di rumah jadi dingin setelah itu. Ayah marah terus. Kakakku pindah. Aku... merasa tidak diinginkan. Tapi setiap pagi, aku tetap berpura-pura hidup.” Ia tertawa kecil, getir. “Sampai akhirnya, satu malam... aku berdiri di balkon lantai dua. Cuma berdiri. Lama sekali. Tapi akhirnya... aku menangis dan masuk lagi.” Darren menatapnya. Tak berkata apa-apa, tapi seluruh tubuhnya tegang. Perasaannya... kacau. Ingin marah, ingin memeluk, ingin mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan. Tapi tak ada yang keluar. “Jadi,” Aruna mengangkat bahunya, “aku tahu rasanya kalau hidup cuma terasa seperti... menunggu akhir.” Keduanya kembali diam. Tapi malam itu, keheningan mereka terasa seperti pelukan paling erat yang tak pernah mereka terima dari siapa pun sebelumnya. --- Saat hujan reda, Aruna bersiap pulang. Darren mengantarnya sampai pintu. Tak seperti biasanya, kali ini ia yang bicara duluan. “Kamu... bisa datang lagi besok?” Aruna tersenyum. “Tentu.” “Bawa buku lagi,” tambahnya cepat, nyaris malu. “Oke,” jawab Aruna sambil melangkah ke luar. Tapi sebelum pergi, ia menoleh dan berkata pelan: “Besok, aku bacakan cerita tentang anak yang bisa menulis ulang takdirnya.” Pintu tertutup perlahan. Dan Darren berdiri dalam gelap, menatap titik-titik air di jendela yang masih tersisa. Untuk pertama kalinya, ia merasa... suara dalam dirinya mulai terdengar. Dan itu bukan lagi suara luka. Tapi... suara untuk bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN