ILYMH - Apa

1392 Kata
Diandra's pov Aku berjalan kesal. Sambil sesekali menggerutu kepada siapa saja yang tidak sengaja menyenggolku. Walau tempat ini ramai dan dipenuhi orang yang menyenggol sana sini. Aku tetap tidak bisa mentolerir. Sekarang aku lagi naik tensi. Yah, semua gara-gara om sialan itu. Semua orang tampak jengkel dengan perilakuku. Yang seenaknya memarahi orang layaknya jalan punya nenek moyang ku sendiri. Sampai sampai ada oma oma yang menghampiriku dan menasehatiku.  Sialan ini mahh. Gara gara om om itu mood aku jadi rusak, batin ku merutuki kebodohan om om yang mirip Zayn Malik tadi.  Bunyi lagu Marry Me dari Jason Derulo mengalun indah dari ponsel ku.  Papi's calling Begitu diangkat. Diseberang sana Mami berteriak kesal. Sampai membuat ku menjauhkan ponsel sari telinga. Bisa budeg dini entar.  Lagian yang nelpon Papi kenapa yang bicara Mami sih, sebel banget. "Ini anak ya kok lama banget. Mami udah tungguin juga dari tadi." "Iya Mi ini udah mau kesana." jawab ku sambil berjalan tergesa. Mengabaikan keringat yang menetes-netes di keningku. Bahkan poniku sekarang sudah basah oleh keringat. Tetapi syukurlah badanku tidak bau. "Lima belas menit yang lalu kamu juga bilang begitu. Tapi apa nggak dateng dateng kan. Gimana sih, niat atau enggak." "Ih Mi tadi Diandra abis dari kamar mandi Mi. Mules."  "Sudahlah Mi tunggu aja. Toh Pak Darmawan nggak masalah. Rio juga baru dateng." kata Papi menenangkan Mami. Hh.. Papi I Love you so much, Diandra sayang Papi. Aku mengerutkan alis, mengingat gumaman Papi barysan. Jadi MiPi ku tidak sendirian. Ada Pak Darmawan siapa itu? Dan lagi siapa Rio? Kayak tidak pernah dengar. Asing sekali namanya. Tut.. Baru mau nanya panggilan sudah main diputus saja. Menyebalkan... Yasudahlah daripada penasaran mending cepat cepat saja aku kesana.  Dengan kecepatan extra aku menghampiri meja Mami Papiku. Disana mereka tidak sendiri. Ada sepasang suami istri yang sudah berumur. Yang sekarang lagi berbincang dengan MiPiku.  Disampingnya ada seorang lelaki yang tengah menunduk memainkan ponselnya. Siapa itu ya? Dari setelanya tak asing buatku. Coba angkat gitu kepalanya biar aku bisa lihat. Siapa tau kan aku kenal.  Apa mungkin Rio Rio yang dimaksud Papi itu Mario ya? Ck.. Nggak mungkin doi kan lagi kuliah diluar negri. Mana mungkin kelayapan kesini.  Duhh...jadi sedih deh kalau inget Mario si cinta pertamaku. Pangeran tampanku. Mami yang pertama menyadari keberadaanku. Mami ini orangnya memang peka banget. Satu meter aku berada didekatnya pasti dia mengetahuinya. Apa itu yang dinamakan naluri seorang ibu?  "Eh nak ayo cepetan kesini. Pak Darmawan dan istrinya sudah menunggumu loh." ucap Mama seraya menghampiriku dengan senyuman yang lebih mirip senyuman kejahatan.  Tau Mi aku telat. Tapi natapnya jangan segitunya juga. Aku kan jadi takut.  Mami menghelaku supaya duduk diantara Mami dan Papi. Pak Darmawan dan istrinya tersenyum kearahku. Dan lelaki yang berada disampingnya masih asik dengan dunianya sendiri. Coba hargai gitu. Angkat kepalanya. Kasih senyum kaya Mami Papinya. Dasar anak muda jaman now tidak tau sopan santun.  Aku mengatai ngatai lelaki itu. Seakan akan aku bukan anak muda jaman sekarang. Hmm gitu deh aku kalau marah suka lupa diri. Hehe... "Wah ini yang namanya Diandra. Cantik sekali ya." puji istri Pak Darmawan.  Pipiku memerah. Aku malu. Iyalah dipuji sama ibu ibu yang cantiknya sebelas dua belas sama Angelina Jolie. Walau udah berumur kulitnya tetep kinclong. Huh jadi minder kan daku.  "Makasih tan. Tante juga cantik kok." jawabku dengan senyum lima jari memperlihatkan rentetan gigi putihku.  Aku menyenggol lengan Papi. Papi menoleh dan aku mengisyaratkan Papi untuk mendekat.  "Pi ini sebenarnya acara apa? Dan siapa itu Pi yang nunduk mainin hp? " Sekarang giliran Papi yang berbisik. "Nanti kamu juga tau." Papi kembali duduk tegak dan tersenyum misterius. Ini sebenernya ada apa sih. Kok aku jadi pusing sendiri.  "Ekhem Yo, Rio." dehem Pak Darmawan memanggil anaknya.  Tapi si Rio Rio itu masih sibuk sama ponselnya. Anak kurang ajar. Tidak mengindahkan panggilan orang tua. Dosa tau nggak.  "Yo!!!" bentak Pak Darmawan lebih keras. Sampai takut aku mendengar suara baritonya yang tegas.  Rio mengangkat kepalanya dan memasang tampang kusut. Dan ya ampun... Dia itu Om om yang nabrak aku tadi. Kenapa dia bisa ada disini. Seseorang tolong beritahu aku. Sebelum aku mati penasaran.  "Hm Dad." jawabnya cuek. Astaga bahkan lebih cuek dari yang tadi. Bu Darmawan tersenyum meminta maaf pada keluargaku atas perilaku tidak sopan anaknya.  "Yo kenalin ini Diandra. Ini calon istri kamu." ucap Pak Darmawan to the point. Bahkan wajahnya seperti tidak memeliki disa sekali saat mengatakan hal keji semacam itu. "APA!!" teriakku dan Rio bersamaan.  Aku memandang Papiku seakan mengatakan Pak Darmawan sedang bercanda kan? Tapi Papi mengangguk mengiyakan perkataan Pak Darmawan.  Hah.. Aku harus bagaimana ini. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Rio yang jauh lebih tua dariku. Tapi aku harus akui sih kalau Rio itu tampan sangat tampan malah. Mengalahi Mario. Tapi a.. Aku masih tidak percaya ini.  Kulihat Rio juga sama terkejutnya denganku. Bahkan sekarang dia memasang tampang seperti orang ling lung. Lucu sekali..  "Dad are you kidding me? Bagaimana mungkin aku menikahi gadis yang masih SMA. Oh ayolah Dad aku sudah berumur 27 tahun. Dan gadis ini mungkin belum genap 17 tahun Dad. Apa Dady mau aku menjadi ayahnya." tolak Rio. Entah mengapa aku kecewa sekali mendengar kata kata penolakan dari Rio. Memang usiaku belum genap tujuh belas tahun. Tapi aku bisa kok menjadi seorang istri yang baik.  Aku bisa memasak. Bisa mencuci pakaian. Dan aku juga bisa arghh mengapa kesanya aku ingin sekali menjadi istri om om ini. Oh noo sepertinya aku harus ke psikolog.  Siapa tau otakku mengalami gangguan.  Pak Darmawan mengelus pundak Rio dan menepuknya. "Son kau harus mencobanya dulu. Dia gadis yang cocok untukmu. Dia baik. Dia rajin. Dan dia-" "Akan menyusahkanku Dad" ucap Rio memotong ucapan Daddy nya. Alisnya menerut tidak suka, bahkan dia menatapku penuh rasa kebencian. Mataku memanas. Entah mengapa aku ingin menangis. Tapi tahanlah Diandra kau gadis kuat. Buat apa menangisi Rio. Diluar sana masih banyak yang mau denganku.  "Tenang baby Rio hanya terkejut" seakan tau apa yang aku rasakan. Mami menghiburku. Aku hanya mengangguk. Menahan pilu dihatiku. Walau aku tak menyukai Rio. Malah saat ini aku benar benar membencinya. Tapi aku jadi sedih saat dia menolakku didepan Mami dan Papinya. Aku juga punya harga diri. Seharusnya dia menolaknya dengan cara yang halus. Bukanya menolaknya dengan merendahkanku.  "Yo kamu harus mencobanya." sekarang giliran Bu Darmawan yang membujuk Rio. Beliau mengelus lengan putranya yang menunduk kesal. Helaan nafas keluar dari bibirnya. Dia mengangkat kepalanya. Kali ini dia menatapku lebih lembut dari sebelumnya. "Mom.. Rio me-" tak tahan rasanya mendengar kata kata penolakan yang akan dilontarkan Rio. Jadi aku permisi izin kekamar mandi.  "Permisi om tante. Saya ke kamar mandi dulu." pamitku.  Dengan sedikit beralari aku menuju kamar mandi. Menahan sedikit kepiluan di hati.  .... Rio pov Terkejut... Yah aku sangat terkejut. Bagaimana aku tidak terkejut. Sepulang kerja Daddy dan Mommy bilang akan ada rekan kerja yang ingin bertemu denganku. Yah aku mengikutinya saja tanpa ada rasa curiga sedikitpun.  Dan ternyata bukan teman kerja yang kudapatkan. Aku malah mendapatkan calon mertua dan calon istri baru.  Oh my god. Aku benar benar terkejut. Masa aku dijodohkan sama anak SMA. Lihat saja dari pakaianya yang putih abu abu. Juga tanda kelas yang dipakainya. Dia masih kelas dua SMA. Iya kali aku menikah dengan anak bau kencur yang ada bukanya aku menjadi suaminya. Malah aku nanti menjadi ayahnya.  Kuakui sihh dia cantik. Mirip artis artis K-pop yang unyu unyu itu. Tapi apa tidak bisa pernikahan ditunda sampai dia berumur dua puluh. Biar aku puas gitu. Hehe... m***m? Yahh aku akui aku m***m. Namanya juga orang dewasa. Serentetan kalimat penolakkan aku keluarkan. Bukanya aku tidak suka padanya hanya saja aku ingin Daddy mengerti bahwa Diandra masih kecil.  Kusempatkan untuk melirik Diandra. Matanya terlihat berkaca kaca. Dia balas menatapku dengan tatapan sendu. Hm.. seperti tatapan kucing kecil yang dibuang di pinggir jalan. Dan aku baru sadar kalau dia gadis kecil yang aku tabrak tadi, di depan toilet. Aku kembali mentapnya, oh my matanya berkaca-kaca. Apa aku telah menyakitinya dengan kata kataku barusan? Tapi percayalah semua itu kan demi kebaikanya.  Saat melihat sebulir air mata lolos dari pipi Diandra hatiku luluh juga.  Aku menerima perjodohan ini. Menerima Diandra menjadi istriku. Menjadikan dia tanggung jawabku. Belum sempat aku melanjutkan kata kata penerimaan ku. Diandra berlari ke kamar mandi. Mungkin dia fikir aku akan menolaknya kembali.  "Apa Yo lanjutin" kata Daddy mendesakku.  Aku memejamkan mata. Memantapkan hati..  Kubuka mataku dan menghela nafas perlahan. "Aku menyetujuinya Dad, aku mau menikah sama Diandra. Aku menerima perjodohan ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN