ILYMH - Bayi Kita

1026 Kata
"Cup..cup..nggak usah nangis lagi. Kita udah sampe rumah kakak Dii. Ntar kakak bikinin dot" ujar Diandra menenangkan si debay yang terus terusan menangis. Haus kali ya. Rio memencet klakson mobilnya supaya Pak Satpam cepat membuka gerbang rumah Diandra. Dengan tergopoh gopoh. Pak Satpam membuka gerbang. Mempersilahkan mobil Rio masuk. Setelah mobil berhenti dipelataran rumah mewah Daindra. Diandra langsung masuk kedalam rumah. Meninggalkan Rio yang tengah mengambil kereta bayi di bagasi mobil. "Mi Pi Diandra pulang" teriak Diandra. "Ya say- loh anak siapa itu Dii?" Mami menghentikan sapaanya dan dengan cepat menghampiri Diandra yang sedang menggendong bayi. Rio datang dan berdiri disamping Diandra. Jika begini mereka seperti keluarga bahagia. "Masa sekali jalan Mami langsung dapat cucu" goda Mami Diandra. "Ihh Mami apaan sih. Ini tadi Diandra nemu dijalan" jelas Diandra. Mami Diandra melongo. Nemu dijalan memang sampah apa! Ntar kalau emaknya nyari bagaimana. Nih calon pasutri rada rada atau gimana yah? "Kalian ini gimana? Nanti kalau emaknya cari bagaimana?" ujar Mami. Diandra menatap Rio meminta bantuan supaya menjelaskan semua pada Maminya. Rio mengangguk menyanggupi untuk menjelaskan semua pada Mami Diandra yang cerewet tak terkira ini. Owek..owek.. Suara tangisan debay membahana keseluruh ruangan. Untung saja Papi sama Rizkan kakak Diandra sedang tidak ada dirumah. Kalau ada mungkin rumah Diandra bakalan gempar. Bisa bisa Diandra sama Rio dikawinin hari ini juga. Gara gara bawa bayi yang nggak jelas asal usulnya. "Mi Diandra ke dapur dulu ya. Debay nya kaya nya haus deh. Dikulkas masih ada kan s**u bayi nya tante Vira" tanya Diandra yang mulai panik karena debay nya nggak mau berhenti menangis. Ditepuk tepuk kan biasanya bakal berhenti menangis. Tapi ini lain semakin ditepuk punggungnya debay nya tambah kejer nangisnya. Diandra jadi bingung sendiri. Belum profesional. "Masi ada Dii" ujar Mami setengah bingung melihat putri manjanya mengurusi bayi. Motherable banget. Calon istri yang baik. Dan bijaksana. Rio nggak salah pilih Diandra jadi istrinya. Diandra melangkah pelan ke dapur. Tanganya masih setia menepuk nepuk b****g debay pelan agar dia berhenti menangis. Diandra juga manusia yang mempunyai batas kesabaran. Kalau debay nya nangis terus bisa budeg ntar. Rio masih menatap kepergian Diandra. Sampai Diandra menghilang dibalik tembok dapur. Melihat Diandra yang begitu perhatian kepada bayi tak dikenal itu membuat hati Rio menghangat. Rio juga tak tau perasaan apa ini. "Nak Rio lihat nya biasa saja. Jangan sampai ngiler begitu" ejek Mami Diandra yang melihat Rio melihat putri satu satunya sampai Diandra menghilang ditelan tembok. Sambil senyum senyum pula. "Bisa saja tante ini" ujar Rio sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu Rio menyusul Mami Diandra duduk di sofa. "Nah nak Rio sekarang jelasin pokok permasalahanya. Mengapa kalian membawa bayi kerumah? Nggak mungkin kan itu bayi kalian? Masa baru sekali jalan sudah jadi"  Rio menelan ludahnya susah payah. Nih Mami Diandra pura pura bego atau bagaimana sih. Masa iya bayi Diandra sama Rio. Rio coblos Diandra aja belum pernah. Eh? "Ya enggak lah Mi. Gini ceritanya tadi Rio dijalan hampir nab-" Tuling tuling....tuling tuling... Rio mengentikan kalimatnya dan mengangkat panggilan telepon dari Daddy nya. "Hallo Dad" "........" "Lagi dirumah Diandra" "......" "Iya dia sudah baik baik saja. Dia tadi cuman kecapaian" "........" "Hah? Nggak usah Dad. Sebentar lagi Rio pulang kok. Gak usah dijemput gitu malu sama Mami nya Diandra" Rio melirik kearah Mami Diandra yang tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya menggoda. "......" "Yasudah terserah Dad saja. Tapi kalau sudah sampai dirumah Diandra Dad jangan kaget ya" "......" "Okay Dad. Assalamu'alaikum" Setelah Daddy menjawab salam Rio. Rio memutuskan sambungan telepon. "Tan Dad sama Mom mau kesini nggak mengganggu kan Tan?" tanya Rio. "Oh tidak apa apa nak Rio. Mami malah seneng kalau Pak Darmawan dan Bu Darmawan kesini. Mami juga ingin mengobrol dengan Mom kamu"  Rio mendecih dalam hati. Emak emak mah suka nya begitu. Pingin ketemu terus ngerumpi cantik dehh.  "MAMI!! KAK RIOOO!!!" teriak Diandra dari dapur. Rio dan Mami saling pandang. Pikiran buruk berkecamuk dibenak keduanya. Ada apa dengan Diandra dan si debay? Apakah debaynya nyebur di wastafel? Atau kompor gas nya meledak karena Diandra rebus air terus lupa matiin karena saking asiknya main sama debay. Mami Diandra menarik tangan Rio yang masih mematung. Kalau terus terusan diam bisa mati anaknya nanti. Dan apa yang ditemukan mereka disana. Diandra yang tengah menjauhkan debay dari tubuhnya. Mami dan Rio mendesah lega ternyata yang ditakutkan tidak terjadi. "Miii" rengek Diandra. Mami melangkah mendekat. Diikuti Rio dibelakangnya. "Kenapa Dii ko teriak teriak gitu?" tanya Mami. "Ini Mi debay nya pipis dicelana. Seragam Dii kan jadi basah sama bau pesing" adu Diandra sambil mencebikkan bibirnya kesal. Dia tidak kesal sih sama debay nya. Karena si debay nggak tau apa apa. Tapi Diandra kesal karena pipisnya mengenai baju seragam putih abu abunya yang bakal dipakai besok. Mana seragam yang lainya lagi di loundry. Kalau dicuci sekarang males. "Siniin bayi nya. Mami cebokkin dulu. Kamu ganti baju saja dulu. Sama bersihin badan okay"  Diandra memberikan debay kepada sang Mami.Maminya lantas pergi ke kamar mandi buat cebokkin si debay. Diandra menatap malang dirinya sendiri yang basah karena dipipisin debay. Rio tertawa kecil melihat bibir mengerucut Diandra. "Ih kak kok malah ketawa. Bayi kakak tuh" cibir Diandra. "Kok bayi kakak? Kan bayi kamu" ujar Rio masih tertawa. "Bayi kita kak"  Seketika Rio terdiam. Bayi kita? Mendengar itu bulu kuduk Rio meremang. Perutnya terasa geli. Seperti ada ribuan kupu kupu yang berterbangan di perutnya. "Bayi kita? Kakak saja belum pernah naenain kamu" Pipi Diandra merona saat menyadari ucapanya barusan. Ditambah godaan yang dilontarkan Rio.  Diandra langsung berlari kekamarnya untuk menyembunyikan diri dari Rio. Dia benar benar malu saat ini. Kalau bisa tolong cemplungin Diandra ke palung yang terdalam. Diandra seperti sudah tidak punya muka lagi dihadapan Rio. Rio melihat punggung mungil Diandra yang naik kelantai atas. Sebelum Diandra pergi Rio sempat melihat semburat merah menghiasi pipi mulus Diandra. Sangat menggemaskan. Berbeda sekali dengan Alice. Walau digoda sedemikian rupa Alice tak akan pernah merona untuknya.  Entahlah mungkin orang dewasa tidak bisa baper kali. Berbeda dengan Diandra yang tergolong masih remaja. Sekali digoda langsung blushing gak karuan. Rio memutuskan mengikuti Diandra. Dia ingin melihat kamar calon istri kecilnya itu. *** Tbc Jan lupa vomentnya ya guys. Oh iya kalian dapet salam tuh dari Rio katanya I Love You wkwk 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN