Chapter 2: Hilang Ingatan

1847 Kata
Jam 1 lewat, Raya tiba di bandara Hang Nadim. Setelah memarkirkan mobilnya, ia berlari ke arah terminal kedatangan domestik. Pesawat Damar harusnya sudah mendarat. “Mas Damar!” Panggil Raya semangat begitu melihat sang pacar, mengenakan jaket, kaos polo dan jeans biru andalannya, keluar dari gedung bandara. Damar hanya tersenyum tipis, dan hati Raya langsung lumer. Ia begitu kangen dengan sang pacar, jadi tanpa ragu Raya langsung menggandeng lengan Damar. Berdua mereka jalan ke arah mobil Raya di parkiran. “Mau kemana dulu kita mas?” “Kamu mau kemana?” Damar bertanya balik. “Nonton yuk mas!” “Boleh,” Damar mengangguk. “Tapi jangan jauh-jauh ya, aku langsung balik Jakarta nih, nanti malam, pesawat jam 9.” “Loh, mas Damar nggak nginep hotel Harris kayak biasa?” Raya tidak bisa menahan ekspresi kecewanya. Ia kira Damar akan menghabiskan sabtu dan minggu besok bersamanya juga, seperti biasa kalo Damar ke Batam. “Nggak, Ray. Aku ada kerjaan besok.” Jawab Sang pacar, tanpa ekspresi. Ada kerjaan besok??? Besok kan Sabtu. Gumam Raya dalam hati, sebelum menarik napas panjang, dan memutuskan untuk menerima saja. Yang penting Damar sudah menyempatkan menemuinya ke Batam, itu sudah cukup baginya. Tak perlu meminta lebih, sayang kalau waktu bertemu yang sedikit ini dihabiskan untuk bertengkar. Raya akhirnya membawa mobil ke Mall Botania 2, tidak jauh dari bandara. Damar menraktirnya nonton film Korea favorit Raya, tumben sekali, padahal biasanya Damar paling tidak mau ia ajak menonton apapun yang berbau Korea. Ia juga tidak banyak bicara hari ini, hanya menjawab setiap pertanyaan Raya seperlunya. Raya sebetulnya makin merasa ada yang aneh dengan sikap Damar yang lebih dingin dari biasanya, tapi ia menganggap Damar mungkin kelelahan. “Filmnya bagus ya mas!” Raya berkomentar ceria saat mereka menunggu pesanan di restoran D’Penyetz. Damar hanya mengangguk, tersenyum tipis. Raya menghembuskan nafas, berusaha tidak terganggu dengan sikap Damar yang dingin, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Ini untuk mas.” Ucap Raya lembut, meletakkan kotak coklat itu di hadapan Damar. “Apa ini? Kenapa kamu repot-repot, Raya?” Damar memegang kotak itu, terlihat kikuk. Ia lalu membukanya, dan di dalamnya terdapat dompet kulit berwarna coklat. “Dompet mas aku perhatikan dari waktu itu sudah terkelupas. Ini aku pesankan dari Garut, kulit asli, ada nama mas juga di dalamnya. Warna coklat, warna kesukaan mas.” Jelas Raya, berharap hadiah yang sudah ia siapkan dari lama ini bisa melunturkan sedikit sikap dingin Damar. Dan sepertinya berhasil, Damar terlihat melunak. “Makasih ya.. kamu kenapa malah kasih aku kado sih..” Damar menggigit bibirnya. Ekspresinya tidak bisa Raya pahami. “Nggak apa-apa dong mas, wajarlah aku kasih kado sama pacarku sendiri.” Raya terkekeh. “Semoga mas suka ya, dan semoga kepakai.” “Suka banget, dan pasti kupakai. Terima kasih ya..” Ucap Damar lagi, lalu menutup kotak dan memasukkan kado itu ke dalam tasnya. Raya sedikit merasa aneh karena Damar tidak langsung mengganti dompetnya sekarang, tapi mungkin ia tidak ingin terlihat berantakan di depan umum. Setelah selesai makan, Damar mengajak Raya berkeliling di mall hingga dua jam sebelum waktunya boarding. Raya dibelikan beberapa pasang baju dan sandal, bahkan Damar juga membelikan Rayi baju kemeja untuknya yang sekarang sudah kuliah. Kekhawatiran Raya atas sikap Damar seharian luntur semua, dan ia begitu bahagia sekarang. Setelah puas belanja dan makan malam, Raya akhirnya mengantar Damar kembali ke bandara. Ia lalu memarkirkan mobil di parkiran, dan baru akan turun, berniat mengantar Damar ke pintu keberangkatan ketika Damar bersuara. “Raya… aku perlu bicara.” Ucapnya, serius. “Ada apa, mas?” Raya menoleh ke arah Damar di sebelahnya, yang sedang memandang lurus ke depan. Damar menghela nafas, dan melanjutkan kata-katanya. “Raya… sepertinya hubungan kita tidak berjalan dengan baik.” “Maksud mas???” “Aku ingin.. kita putus saja.” Penuturan Damar rasanya seperti petir yang menghantam langit kehidupan Raya malam ini. “Kok? Tiba-tiba? Aku ada salah apa, mas?” Raya terbata, begitu kaget. “Kamu nggak salah apa-apa, Raya.” Damar menggeleng cepat. “Ini masalahnya di aku.. Aku tahu kamu berat banget menjalani hubungan sama aku. Aku nggak tega.” “Mas, aku nggak pernah keberatan, aku bahagia sama mas!” Sergah Raya. “Apa yang perlu kuperbaiki? Tolong kasih tahu aku?” Pintanya, air matanya mengalir. Tapi Damar menggeleng. “Nggak ada yang perlu kamu perbaiki, Raya. Hubungan kita memang sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Kita tidak punya masa depan bersama.” Tandas Damar. “Kenapa mas bilang begitu…” Raya sesenggukan. “Raya.. hidupmu disini. Sementara hidupku di Jakarta. Aku tidak mungkin memintamu pindah ke Jakarta, aku tahu Rayi membutuhkanmu disini.” Raya memang pernah bilang ia tidak ingin resign dari kantornya karena adiknya Rayi, masih membutuhkan dana dan bantuan darinya. “Bukannya mas bilang mas yang mau pindah kesini, buat kantor sendiri atau cari kerja disini?” “Tidak segampang itu dong Raya..” Keluh Damar. “Sama sepertimu, posisiku di Jakarta juga sudah lumayan. Aku juga sudah cicil rumah dan punya kendaraan disana. Dan aku tidak mau menjalani hubungan pernikahan jarak jauh juga. Aku capek.” Penjelasan Damar rasanya makin mengiris hati Raya. Jadi selama ini ia capek berpacaran dengan Raya? Pantas saja beberapa bulan ke belakang ia semakin dingin. “Kalau memang kita tidak ada masa depan kenapa mas nembak aku waktu itu? Memangnya mas Damar cuma mau main-main aja sama aku?” Kini Raya yang bertanya di sela tangisnya. “Ya kenapa kamu mau terima aku?” Balas Damar. Raya terdiam, air matanya masih mengalir. Ya karena aku ngerasa aku punya masa depan sama kamu maas… jeritnya dalam hati, tapi tak bisa ia suarakan. “Sudahlah, kita tidak perlu bertengkar. Aku minta maaf, aku selama ini banyak salah sama kamu.” Damar menepuk pundak Raya pelan. “Dompet yang tadi kamu kasih..” Damar baru akan membuka tasnya ketika Raya menahannya. “Buat mas aja. Kenang-kenangan dari aku.” Raya berusaha sok dewasa. “Mas.. aku sayang sama mas.” Ucapnya, ketika Damar membuka pintu mobilnya. Tapi Damar hanya menatapnya lurus. “Sehat-sehat ya Raya. Salam sama Rayi.” Begitu katanya, sebelum ia berlalu, meninggalkan Raya dengan hatinya yang patah. …. Tiga bulan berlalu sudah sejak Damar memutuskannya, dan Raya kian lama semakin mampu menata hatinya. Sejak kejadian diputuskan Damar, ia tak pernah lagi menghubungi Damar, dan Damar juga tak pernah menghubunginya. Bahkan, semua media sosial dan akun messaging Raya diblok oleh Damar. Rasanya seperti dua tahun ke belakang Raya tidak pernah jadi bagian dari hidupnya. Tapi Raya tidak keberatan, karena ia jadi tidak dapat melihat kemunculan sang mantan di layar hapenya. Foto-foto sudah ia arsip, sementara barang-barang yang mengingatkannya pada Damar ia letakkan di gudang. Sempat ia ingin buang tapi tidak tega, karena ada beberapa barang berharga di antaranya. Raya akhirnya menyadari perkataan Damar ada benarnya, dan meskipun Damar adalah cinta pertama sekaligus pacar pertamanya, tapi Raya sudah merelakannya. Mereka memang tidak berjodoh, jadi apa yang harus dikata? Sore ini sepulang kerja, saat sedang menonton TV, Raya tiba-tiba mendapat telepon dari RSAB. “Selamat sore, dengan Bu Raya?” “Benar Bu, ada apa ya?” “Kami dari RSAB, menelpon ibu karena ada salah satu pasien kecelakaan kami yang meminta kehadiran ibu sekarang.” “Hah? Siapa ya mbak?” Raya melirik Rayi yang duduk di sampingnya. “Namanya Damar Yudhistira, bu.” “Hah??” Sedikit shock mendengar nama Damar setelah tiga bulan lamanya, tapi Raya akhirnya berhasil menguasai diri. Pihak RSAB tidak ingin menjelaskan langsung, hanya meminta Raya segera datang. Setelah menimbang beberapa saat, Raya akhirnya datang ke RSAB, dan pergi ke lantai ruang rawat inap sesuai instruksi yang tadi ia dapat di telepon. “Suster, saya kesini mau cari pasien kecelakaan atas nama Damar Yudhistira?” Tanya Raya pada seorang suster yang sedang berjaga di pos suster. Suster itu mengangguk dan membawa Raya ke salah satu kamar. “Kebetulan dokter Diro sedang visit, bu. Ibu bisa mengobrol ya sama dokter.” Jelas sang suster. Raya hanya mengangguk, masih bingung. Suster itu lalu membukakan pintu kamar, di dalamnya terdapat dua ranjang yang berisi pasien. Pasien di sebelah kiri, Raya langsung mengenalinya. Itu Damar, mantan pacarnya. Kondisi kepalanya dibalut perban, dan tangannya serta kakinya patah. “Mas Damar?” Tanya Raya, terbata. Raya bahkan tidak tahu Damar sedang ada di Batam. “Raya!!!” Damar menyambutnya semangat. “Ini loh dok, pacar saya.” Damar mengenalkannya pada sang dokter yang sedang memeriksanya, ditemani suster. Raya mengenali dokter itu, dokter Diro adalah kembaran Bu Dira, istri bosnya. Ia pernah bertemu Dokter Diro saat datang ke acara pernikahan si bos. “Mbak Raya kan?” Dokter Diro bertanya, seperti takut salah mengenalinya. “Benar dokter, saya sekretaris pak Adya!” Raya mengangguk cepat. “Mas Damar kenapa ya dok?” “Nggak tau, Ray. Aku juga lupa. Tiba-tiba aku kebangun udah disini.” Damar menimpali. Raya menatapnya lekat-lekat, kenapa sang mantan tiba-tiba seakrab ini lagi dengannya? Padahal terakhir mereka bertemu saja tiga bulan lalu dan ia sangat dingin. Dan kenapa Damar masih memanggilnya pacarnya? Bukannya Raya sudah diputusin olehnya? “Boleh kita ngobrol di luar aja?” Tanya Dokter Diro. Raya mengangguk. “Bentar ya mas, aku ngobrol sama dokter Diro dulu.” Raya tersenyum pada Damar, lalu mengikuti dokter Diro keluar ruangan. Di luar, Dokter Diro akhirnya menceritakan kronologis peristiwa yang menimpa Damar. Menurut saksi, Damar kecelakaan tadi pagi. Ia naik ojek, dan motor ojeknya dihantam dari belakang oleh angkot gelap. Supir ojeknya juga selamat, hanya luka ringan. Sementara Damar yang dibonceng, nasibnya kurang beruntung. Ia terlempar agak jauh dan karena kepalanya terluka parah, sekarang ia lupa ingatan. Menurut cerita Damar, ia sepertinya lupa kejadian setahun ke belakang. Pantas saja ia menganggap masih berpacaran dengan Raya. “Apa ingatannya bisa kembali, dokter?” Raya kini khawatir. Biar hatinya sakit melihat Damar lagi, tetap saja perasaan sayangnya masih tersisa pada lelaki itu. Ia tidak ingin hal buruk menimpa Damar. “Bisa, tapi sepertinya perlu pemicu.” Jawab sang dokter. “Mbak Raya, bisa bantu temani Pak Damar selama dirawat disini? Kalau ada yang temani, mungkin ia jadi tidak stress dan ingatannya bisa lebih cepat kembali. Setahu saya, keluarganya tidak ada yang berada di Batam.” “Memang iya sih pak, semua keluarga mas Damar di Jakarta.” “Iya, mbak Raya. Sejak sadar setelah dioperasi tadi, yang dia ingat dan panggil hanya mbak Raya. Jadi sepertinya keberadaan mbak Raya penting untuk pemulihannya.” “Begitu ya dok..” Hati Raya sedikit berdesir mendengar penuturan dokter Diro. Perasaan yang berusaha ia lupakan pada Damar tiba-tiba muncul kembali. “Baiklah Dok, saya akan temani dia disini.” “Nanti saya bantu sampaikan sama mas Adya supaya mbak Raya dikasih kesempatan kerja jarak jauh setidaknya sebulan ini. Saya rasa mas Adya tidak akan keberatan.” Dokter Diro tersenyum. “Terima kasih dok, nanti saya juga bakal bilang, tapi pasti lebih enak kalau dokter bantu ngomong juga sama bapak.” “Tentu. Semoga pak Damar cepat pulih ya mbak. Besok saya datang lagi ya kontrol.” “Baik, terima kasih dok.” Ujar Raya. Menemani sang mantan yang telah memutuskannya hingga ingatannya kembali? Takdir memang kadang membingungkan. Ntah apa yang akan terjadi nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN