Ojol 13 "Udah dari tadi?" Gue mendongak seketika, obrolan seputar rumah tangga mang Somat berhenti karena Daisy tiba-tiba udah berdiri di hadapan gue, dengan senyum manis mempesona, blazer abu-abu dan rok pensil pendek yang sama seperti dia kenakan beberapa waktu lalu terlihat begitu pas dan serasi, cantik dan sempurna. Sayang, jika saja Daisy lebih menutup keindahannya itu mungkin dia lebih bisa di katakan sempurna. Karena kesempurnaan itu nggak harus di umbar dengan pakaian minim dan ketat yang menampakan lekuk tubuhnya, tapi balik lagi semua itu ada di keputusannya masing-masing, mungkin juga karena tuntutan perusahaan yang membuat dia harus menggunakan pakaian seperti itu, entahlah gue juga nggak begitu paham. Cuma yang gue sayangkan, kenapa mereka yang dilahirkan dengan kecantikan

