8-MEMINTA SARAN

1389 Kata
Sepulang dari kantor agensi, Arma mampir ke rumah Fei. Untungnya wanita itu ada di rumah. Jika teman datang, maka terpikir untuk makan bersama. Pilihannya pasti makanan pedas. Fei kali ini memesan mi pedas dan seblak, makanan pedas favorit mereka. "Lo sebenernya dari mana? Pakaian lo rapi," tanya Fei sambil memperhatikan kemeja pink dan rok putih panjang yang dikenakan Arma. "Kantor agensi." "Fix kerja di sana?" Arma mengambil air mineral dan menegaknya beberapa kali. "Enggak. Hu...," jawabnya sambil menahan rasa pedas yang membakar. "Terus?" "Gue diminta kerja di sana. Terus, diinterogasi sama CEO-nya." "Diinterogasi?" "Lo nggak lihat berita?" tanya Arma yang langsung dijawab gelengan Fei. Dia mengeluarkan ponsel dari tas dan mencari video tentang Vezy. "Lihat dulu." Fei memakan mi pedasnya sambil melihat video pemberitaan. "Loh, dia?" "Cuma dimintai keterangan," jawab Arma cepat. "Tapi, orang-orang pada salah paham duluan." "Terus? Lo diinterogasi gara-gara ini?" Arma mengangguk. "CEO-nya mata duitan kayaknya," ceritanya. "Dia tuduh gue jebak Vezy. Gila nggak?" "Terus? Lo tetep kerja di sana?" "Enggaklah! Gila aja!" Arma mendengus. Fei melirik map yang menyembul keluar dari tas Arma. "Terus itu?" Arma melirik sekilas. "Gue ditawari jadi pengelola keuangannya Vezy." "Serius?" Fei menatap Arma kaget. "Terus lo terima?" "Masih mikir-mikir." "Terima aja!" saran Fei. "Nyari kerja susah tahu. Lo juga selalu ngeluh lingkungan kerja yang toxic. Kalau sama Vezy paling, nggak harus ke kantor tiap hari." Arma juga sudah memikirkan itu. "Tapi, gue takut nggak sanggup." "Lo pinter, Arma!" tekan Fei. Dia tahu saat di kampus Arma bagaimana. Wanita itu sempat diminta untuk lanjut kuliah dan jadikan asisten dosen. Tetapi, momennya tidak pas karena Arma sedang down karena perceraiannya. Fei ingat, dulu Arma sering membantu tugas-tugasnya. Wanita itu bahkan tidak pernah mendapat nilai B. Paling kecil A minus. Itupun Arma pasti akan menangis karena gagal mendapat nilai A. "Mau alasan apa?" tanya Fei melihat Arma yang terdiam. "Takut punya bos ganteng?" "Hahaha...." Arma tertawa sumbang. "Di kantor lama juga banyak yang ganteng, kali." "Ya udah, berarti alasannya bukan itu, kan?" Arma mengangguk. Entahlah, mengapa tiba-tiba dia khawatir dengan kemampuannya. Seperti ada ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. "Dia nawarin kontak berapa lama?" tanya Fei lalu membuka air mineralnya. "Belum gue baca." "Mau gue bantu?" Arma menyerahkan berkas itu ke Fei. "Gue minta pendapat lo." Fei membuka berkas itu dan mencari poin-poin yang menguntungkan. "Nih, lo dapet asuransi kesehatan, bonus kalau ada projek besar, jam kerja fleksibel. Kapan lagi coba dapet kerjaan kayak gini?" "Gitu, ya?" "Iya! Nyari kerjaan yang bisa bikin cepet kaya itu susah!" Fei mengembalikan berkas itu ke Arma. "Anggap aja bos muda itu tantangan dari sekian banyak keuntungan." Arma sedikit mendapat pencerahan karena Fei. Dia ingin membahagiakan orangtuanya, setelah membuat mereka bersedih atas perceraiannya. Memang, itu bukan sepenuhnya salahnya. Tetapi, orangtuanya juga ikut down atas masalahnya. Apakah ini jalan yang sesuai? *** Entah sudah berapa lama Vezy terlelap, dia merasa lehernya terasa kaku. Dia memijit pundaknya yang juga terasa nyeri. Lantas dia membuka mata dan mendapati ruangan yang begitu terang. Matanya seketika terpejam lantas dia berbalik menghadap sisi yang lain. Vezy terdiam, ingat Arma menemaninya hingga tertidur. Sudah jelas wanita itu pulang, tidak mungkin terus menemaninya. Rasa kesepian itu kembali muncul. Vezy tidak bohong jika kesepian. Anak manja yang selalu bersama mamanya kemudian berada di tempat asing, tentu kesepian dan ketakutan. Vezy sudah berkali-kali bertemu dengan orang yang berniat jahat. Tetapi, baru kali ini dia merasa begitu sedih. Ojan menipunya, tetapi dia tidak lapor karena masih menganggap lelaki itu ada niat untuk meminta maaf. Sekarang, dia kehilangan teman baru yang dia percaya. "Udah bangun?" Mata Vezy terbuka. Dia melihat Razi yang berjalan masuk dengan kotak makan di tangan. Seketika dia duduk dan mengacak rambut. "Gue bisa pulang?" "Tentu. Tadi pengen gue bangunin, tapi tidur lo nyenyak banget," jawab Razi. "Arma udah balik?" "Udah dari tadi." Razi meletakkan makanan di meja lalu menatap Vezy yang tidak selemas tadi pagi. "Lo suka sama tuh cewek? Sampai nggak biarin dia jauh." Vezy menatap Razi yang penasaran. "Menurut lo?" tanyanya lalu tersenyum samar. "Jangan senyum buaya gitu!" "Senyum gue manis!" jawab Vezy tidak terima. Dia berdiri lalu menggerakkan kedua tangannya ke atas. "Gue mau balik. Kunci mobil?" "Balik sama gue." Vezy menurunkan tangannya dan menatap Razi yang langsung beres-beres. "Gue bisa nyetir sendiri." Razi menggeleng tegas. "Khawatir ada paparazi," jawabnya lalu mendekap beberapa map dan membawa kantung makanan. "Sekaligus, pengen tahu rahasia lo sama Arma." "Hahaha...." Vezy terbahak. "Rahasia," jawabnya lalu berjalan lebih dulu. "Lo naksir dia?" "Enggak!" "Berarti udah cinta?" Vezy mengangkat bahu dengan senyum samar. "Gue nggak boleh percaya ke sembarang orang! Informasi gue mahal." Razi mempercepat langkah dan menyenggol lengan Vezy. "Ya udah, gue nggak akan bantuin deketin lo sama Arma." Vezy menoleh. "Gue bisa sendiri." "Berarti emang niat deketin." "Hahaha...." Vezy tertawa dibuat-buat lalu berjalan lebih dulu. "Rahasia." *** 19 Juli 2017. "Gue jamin lo bisa mati tanpa rasa sakit." Kalimat terakhir lelaki itu tampak menjanjikan bagi Arma. Tetapi, akal sehatnya menolak. Bagaimana mungkin dia langsung percaya lelaki itu begitu saja? "Gimana?" Lelaki itu mengulurkan tangan. Kedua tangan Arma seketika memegang pinggiran pagar. "Mundur." "Vez! Balik!" Perhatian Arma tertuju ke seorang lelaki yang berdiri di ambang pintu. Dia tersentak kaget dan buru-buru mendekat. Tetapi, setelah beberapa langkah lelaki itu berhenti. Arma melirik lelaki di depannya yang menggerakkan tangan ke lelaki yang baru muncul itu. "Penawaran gue masih sama," ujar lelaki itu. "Enggak!" Arma menolak cepat. "Silakan pergi!" "Vez! Jangan ikut-ikut, deh!" Lelaki yang dipanggil Vez itu menatap wanita di depannya. Dia tersenyum samar lalu mundur dua langkah. "Beneran nggak inget gue kayaknya." "Apa?" Arma merasa lelaki itu masih berbicara dengannya. Tetapi, lelaki itu berbalik dan meninggalkannya. "Jangan bunuh diri di situ! Nanti hotelnya nggak rame lagi!" Arma menghela napas. Angin yang berembus membuat tubuhnya seperti terdorong. Dia memegang pinggiran pagar yang entah kenapa terasa licin. Perlahan Arma melirik ke belakang. Jarak posisinya dari lantai bawah terasa jauh. Tiba-tiba rasa takut itu muncul. Arma meloncat turun dan tidak bisa menjaga keseimbangannya. Bugh.... Arma jatuh dengan posisi miring. "Aduh...." Dia memegang lengannya yang membentur lantai dengan kencang. Dap... Dap.... "Ibu nggak apa-apa?" Arma tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba ada dua lelaki dan satu wanita yang mendekat. Wanita itu memberikan air mineral dan mendekatkan ke bibir. Arma menyeruput pelan, lantas tubuhnya diangkat oleh dua lelaki tadi. Lidah Arma terasa kelu. Dia hanya diam saat dua orang itu menggotongnya keluar. Rasa lelah kian mendominasi. Kantuk yang sejak tadi ditahan, mulai menguasai. Arma memejamkan mata, lalu kesadarannya hilang. "Terima kasih atas laporannya, Pak Vezy!" Petugas Hotel membungkuk hormat. Lelaki bernama Vezy itu mengangguk. Dia menatap seorang wanita yang dibopong menuju lift. Lantas perhatiannya tertuju ke lelaki yang menatapnya tak sabaran. "Iya! Kita pergi sekarang," ujarnya lantas beranjak. "Mau gue kasih tahu infotainment kalau lo habis gagalin orang bunuh diri?" "Enggak!" jawab Vezy cuek. *** Tiga hari berlalu. Hari ini saat Arma memberi jawaban atas permintaan Vezy. Fei juga terus memberi dukungan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Arma juga sudah diskusi dengan kedua orangtuanya. Mereka akan selalu mendukung apapun keputusan keputusan Arma. Arma mengambil ponsel lalu menatap kontak kerja yang telah ditandatangani. Dia mencari nomor yang belum disimpan lalu menekan tombol hijau. Dia menempelkan ponsel di telinga dan mendengar dering ponsel. "Halo...." Suara berat itu kemudian terdengar. "Hari ini gue mau jawab." "Bagus, deh! Gue pikir bakal jawab nanti malem." Arma menghela napas panjang. "Gue mau nyoba." "Kerja bukan coba-coba." "Sorry," jawab Arma cepat. "Ya, saya terima tawaran kerjanya." "Nggak usah formal gitu, kali." "Anda atasan saya." "Oke! Lo ke tempat gue sekarang," ujar Vezy lalu mematikan sambungan. Arma menjauhkan ponsel lalu menarik napas panjang. Ada sesuatu yang mendebarkan, tetapi ada juga yang membuatnya khawatir. Tetapi, dia sudah membuat keputusan. Drtt.... Apartemen Merkurius lantai 15 no 5. Gue tunggu. Seketika Arma berdiri dan berganti pakaian. Sebelum rasa khawatir itu semakin bertambah besar dan membebani pikiran, dia harus segera menemui Vezy. "Berangkat sekarang, Kak?" Arma baru keluar kamar dan terdengar pertanyaan itu. Dia menoleh, melihat mamanya yang berbelok ke dapur. Dia segera mengikuti dan melihat Salma yang sedang sarapan. Gadis itu tersenyum menggoda, entah karena apa. "Aku pamit ya, Ma. Doain." Mama Arma memeluk anak pertamanya itu. "Mama selalu doain." "Makasih, Ma." Arma mengurai pelukan lalu mengulurkan tangan ke Salma. Salma menerima uluran tangan itu dan menciumnya ogah-ogahan. "Semangat, Kak!" ujarnya sambil berdiri. "Kalau bisa ambil foto Vezy buat gue. Foto paling hot-nya." Arma melotot. "Nggak akan!" Wajahnya seketika memerah ingat kecupan kala itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN