11-MENCARI KESEMPATAN

1412 Kata
Glek... Glek.... Arma menegak minuman yang rasanya aneh. Tetapi, dia tetap meminum karena tenggorokannya terasa sakit. Rasanya dia ingin bercerita, tetapi tidak sanggup. Vezy memperhatikan Arma yang menghabiskan minumannya. Dia yakin, wanita itu tidak sadar apa yang telah diminum. "Arma...." Tak.... Arma meletakkan gelas di depannya dengan kasar. Kepalanya terasa berat dan pandangannya berkunang-kunang. Seketika dia menyandarkan kepala dan memejamkan mata. "Lo nggak akan kuat, Arma." "Gue harus kuat," jawab Arma tidak mengerti maksud ucapan Vezy. Klek.... Razi berjalan masuk dengan sebotol minuman. Saat melihat Arma yang duduk bersandar seketika dia menatap Vezy. "Lo apain?" tuduhnya lalu melihat minuman Vezy yang telah habis. "Dia minum sendiri." "Wah? Nyerah juga dia." Razi meletakkan botol air mineral di meja. "Tadi ketemu temen, makanya agak lama." "Bilang aja ketemu cewek," jawab Vezy lalu menatap Razi yang menahan tawa. Perhatiannya lalu kembali ke Arma. "Arma...." Arma tidak tahu apa yang dirasakan. Rasanya pusing, tetapi ada sesuatu yang membuat bebannya hilang. Selain itu ada sensasi aneh di perut. Arma baru kali ini merasakan sesuatu yang membingungkan. "Balik, yuk!" Vezy seketika berdiri dan menarik tangan Arma. Tubuh Arma terasa susah untuk digerakkan. Tenaganya seolah hilang begitu saja. "Gue nggak bisa." "Haha...." Vezy terbahak melihat Arma yang mulai meracau. Dia membungkuk dan menarik wanita itu ke dalam gendongan. "Gue bisa sendiri!" Arma berontak. Vezy segera menurunkan Arma, tetapi tangannya masih melingkar di pinggang wanita itu. Dia melihat Arma yang beberapa kali hampir limbung ke depan lalu kepalanya terkuai di lengannya. "Ayo, balik!" ajarnya ke Razi. "Gue telepon sopir dulu." Razi mengambil ponsel dan menghubungi sopir dari pihak hotel. "Bli, kami mau balik." "Saya standby di luar." "Oh, oke!" Razi lantas memutuskan sambungan. "Udah di luar, Bro!" Dia mengantongi ponsel dan berdiri di samping kiri Arma. "Nggak usah pegang-pegang," ujar Vezy saat Razi hendak membantu Arma. "Gue bisa bantu sendiri." Razi menatap Vezy geli. "Jangan cemburu gitulah, Bro." "Jalan dulu." "Oke!" Razi lalu berjalan lebih dulu. Vezy melingkarkan tangan Arma ke pundaknya. "Ayo!" Dia melangkah, tetapi Arma diam ditempat. "Udah, gue gendong aja, ya!" Dia menggendong Arma dan berjalan keluar. "Hidup gue sedih banget sebenernya," racau Arma. "Oh, ya? Coba cerita." "Lo nggak akan ngerti." Vezy tidak merespons saat menaiki tangga. Dia melihat kerumunan orang yang berada di depan tangga. Razi lantas menggerakkan tangan memintanya berjalan lebih dulu. Vezy menuruni tangga dengan hati-hati, tidak ingin sampai terjatuh. "Nggak tahu kenapa. Rame banget," ujar Razi dengan satu tangan terarah ke depan, melindungi Vezy. "Iya." Vezy menjawab pelan. Dia menunduk melihat Arma yang bergerak pelan. "Diem," bisiknya lalu membenarkan gendongannya. Begitu sampai mobil, sopir sudah membukakan pintu. Vezy menurunkan Arma di kursi belakang dan sedikit mendorongnya. Setelah itu dia naik dan menarik Arma agar bersandar di lengannya. "Langsung ke hotel," ujar Razi yang duduk di depan. Vezy menghela napas panjang. Bersyukur bisa keluar tanpa ada insiden macam-macam. Biasanya ada salah seorang fans yang menghampiri dan meminta foto. "Semoga nggak ada yang foto gue sama Arma." "Emang harusnya gue aja yang gendong." Razi menoleh ke belakang, melihat Arma yang terkuai lemas. "Untung dia nggak berulah." Kemudian dia menatap depan, melihat jalanan yang sangat lenggang. "Untungnya." Vezy menunduk, melihat Arma yang tertidur dengan kepala tertunduk. Dia mengangkat dagu wanita itu, hingga kepala Arma sedikit bersandar di kursi. Lalu satu tangannya menyibak anak rambut yang jatuh ke kening Arma. "Lo tahu status dia?" "Status?" tanya Razi sambil kembali menoleh ke belakang. "Tahulah. Ada di data dia." "Gimana menurut lo?" Razi kembali menatap depan lalu mengangkat bahu. "Gue nggak permasalahin status seseorang, sih," jawabnya. "Nyokap gue dulu juga janda sebelum nikah sama bokap. Kalau ada yang anggap janda itu negatif, buktinya nyokap gue enggak." Vezy mengangguk. "Gue juga nggak pernah lihat seseorang dari status." "Kalau emang suka, pepet aja!" "Ngaco lo!" Vezy lalu memandang Arma yang terlelap. Dia tersenyum, bangga karena Arma tidak berusaha menutupi statusnya. *** Dentuman di kepala terasa menyiksa. Tidur Arma sampai terganggu karena sensasi itu. Seketika dia terbangun dan memegang kepala. "Aduh...." Arma merasa akan demam. Biasanya sebelum demam kepalanya begitu berat dan perutnya agak mual. "Huek...." Arma menutup mulut saat sesuatu di perutnya hendak keluar. "Huek...." Seketika dia terduduk, tetapi dentuman itu kian terasa. Bugh.... Arma kembali berbaring miring. Dia memijit kepala yang terasa nyeri, hingga air matanya tanpa sadar keluar. "Udah bangun?" Arma berjingkat mendengar suara serak itu. Dia mendongak, melihat seorang lelaki yang terlihat segar sehabis mandi. Refleks dia menunduk, melihat kaus pink yang dikenakan semalam. Barulah dia menatap Vezy yang sekarang duduk di ujung ranjang. "Gue nggak enak badan kayaknya." Vezy memperhatikan Arma yang terkuai lemas. "Karena semalem lo minum minuman gue," ujarnya. "Pusing?" "Iya." Arma mencoba duduk dan memegang kepala dengan kedua tangan. "Sarapan dulu. Terus, minum obat." Vezy bergeser mendekat dan mengusap puncak kepala Arma. "Mau sarapan apa?" Arma menggeleng. Sepertinya dia tidak sanggup sarapan jika perutnya terus terasa mual. "Mending gue tidur." "Jangan gitu. Nanti lo lemes," ujar Vezy sambil berdiri. "Gue udah pesen bubur ayam. Paling bentar lagi dianter." Arma tidak merespons. Rasa pusing itu tidak bisa dialihkan, membuatnya tidak bisa berpikir. Dia juga tidak menanyakan mengapa Vezy pagi-pagi sudah berada di kamarnya. Padahal, mereka memesan kamar sendiri-sendiri. Beberapa saat kemudian, petugas hotel mengantar makanan. Vezy mengambil semangkuk bubur ayam dan mendekati Arma. "Bisa makan sendiri, kan?" Perlahan Arma duduk. Dia melihat bubur ayam dengan tidak berselera. Tetapi, jika tidak dipaksa makan tidak akan sembuh. Dia memakan bubur ayam itu dan perutnya bergejolak. "Huek...." Seketika Arma turun dan terjatuh. "Ck!" Vezy geleng-geleng melihat Arma yang membungkuk di samping ranjang. Dia memutari ranjang lalu berjongkok di depan Arma. "Butuh bantuan nggak?" Arma mengangkat wajah. "Tolong." "Ulangi." "To.. long," jawab Arma lemah. Vezy tersenyum melihat Arma yang menatapnya memohon. Dia berdiri lalu membungkuk. "Tapi, ada bayarannya!" "Gampang!" Arma menjawab tanpa pikir panjang. Perlahan Vezy menarik Arma ke dalam gendongan. Dia berjalan menuju kamar mandi dan menurunkan wanita itu di depan wastafel. Lalu kedua tangannya menarik rambut Arma ke belakang. "Lo nggak kuat minum." Arma mengeluarkan cairan di perut yang terasa menyiksa. Tetapi, tidak ada yang keluar. Dia segera berkumur dan membasuh wajahnya dengan air. Barulah dia mengangkat kepala dan melihat Vezy berada di belakangnya. "Gue minum?" Vezy membalas tatapan Arma dari pantulan kaca. "Iya," jawabnya. "Mau cerita soal status lo, tapi nggak jadi." "Ah, gue inget sekarang." Arma menunduk lemah. "Harusnya gue pikir panjang." "Gimana? Enak habis minum?" "Nggak sama sekali." Arma memegang pinggiran wastafel lalu berdiri tegak. "Gue heran kenapa orang-orang suka minum. Padahal, bikin pusing sama sakit perut." "Ya, gue sendiri juga heran," jawab Vezy. "Udah?" "Hmm...." Arma bergeser, kali ini memilih berjalan sendiri. Vezy mengikuti Arma yang berjalan menyeret kaki. "Coba makan lagi terus minum obat. Setelah itu bakal mendingan." Arma duduk di pinggir ranjang dan menatap semangkuk bubur ayam yang tergeletak. Dia bergidik membayangkan akan muntah lagi jika makan. Tetapi, tidak mungkin dia meminum obat saat perut kosong. "Huh...." Arma menghela napas berat lalu melahap bubur ayam itu. "Ini obat pusingnya!" Vezy meletakkan sebungkus obat pusing ke ranjang. Perhatian Arma tertuju ke obat itu. Perlahan, dia mulai menyadari kondisi sekitar. Dia mengangkat wajah, melihat Vezy yang berada di hadapannya. "Semalem, nggak ada yang terjadi, kan?" Vezy tersenyum melihat raut bingung Arma. "Ada!" "Yang bener!" Arma refleks meletakkan sendok dan menatap Vezy tajam. "Nggak mungkin, kan, kalau nggak ada apa-apa gue sekarang di kamar lo?" "Vez!" Vezy mengedipkan mata. "Tanya Razi kalau nggak percaya." "Mana mungkin!" Arma menutup wajah lalu mengusapnya pelan. "Vez, jangan bercanda. Please!" "Gue nggak bercanda, Sayang!" "Vezy!" "Dibilangin nggak percaya." Vezy mendekat, membuat Arma menatap waspada. Dia memegang pundak wanita itu dan mengusapnya pelan. Tubuh Arma bergetar. Dia menatap Vezy yang menahan senyuman. Sorot mata lelaki itu seolah menyiratkan ada sesuatu yang disembunyikan. "Aaah! Harusnya lo nggak ajak gue ke tempat itu!" Dia mendorong perut Vezy lalu membingkai kepala. "Gue nggak nyesel!" "Gue yang nyesel!" geram Arma. Vezy menarik tangan Arma yang masih membingkai kepala. Sekarang, wanita itu menatapnya dengan sorot sendu. Vezy membungkuk lalu mengecup Arma. "Balasan atas bantuan tadi." Arma memandang Vezy yang terkesan mengambil keuntungan. "Lo cuma mau permainin gue, kan?" "Enggak!" Vezy mengusap puncak kepala Arma. "Nanti jam enam kita berangkat!" Setelah mengucapkan itu dia berjalan menuju pintu. "Vez!" "Nggak ada apa-apa, Arma!" teriak Vezy. "Masa lo nggak inget?" Dia menahan tawa, masih terbayang raut panik Arma. Arma menghela napas lega. Dia sama sekali tidak mengingat kejadian setelah minum. Karena itu dia sangat panik. Arma menunduk, setidaknya ada sesuatu yang melegakan. Kemudian, dia ingat dengan kecupan barusan. Arma memegang bibir lalu menatap ke pintu kamar yang terbuka. "Tapi, lo barusan cium gue!" teriaknya tak terima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN