Gema yang manja

1179 Kata
"Sebuah keyakinan yang telah tertanam lama, akan mati seketika jika dipatahkan terges."—One Last Time [8] LS. *** Septian ikut meringis mendengar Gema menjerit kesakitan setiap kali si tukang pijat itu menyentuh inti rasa sakitnya. Sebagai pemain bola, Septian pun pernah mengalaminya, tetapi entah mengapa melihat Gema seperti sekarang membuat semua yang pernah ia alami seolah tak ada apa-apanya. Gema membenamkan wajahnya, sesekali menggigit bantal guna meredam erangan. Kalau tahu akan sesakit ini, ia bersumpah tidak akan pernah melakukannya. Laki-laki bertubuh gempal itu memijatnya sekuat tenaga dan terkesan asal-asalan. Sementara yang dikatakannya tak jelas, saraf teganglah, terjepit, dan lain-lain. "Mang, udah ajalah. Sakit banget," ujar Gema frustrasi. Ia memaksakan diri bangkit dari tidurnya.  Orang itu lantas berhenti. "Kalau masih sakit, panggil Mamang lagi aja, ya. Siap melayani 24 jam." Gundulmu. Ini aja sakit banget. Gema menggerutu dalam hati. "Makasih, Mang." Setelah melihat lelaki itu pergi, Gema kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lantas menutupi wajahnya dengan bantal. Bukannya membaik, malah rasanya semakin kacau. Gema ingin menangis, tetapi malu karena kehadiran teman-temannya. "Ge?" "Kalian keluar dulu aja," sahutnya serak. Septian menyadari ada yang janggal langsung mendekat. Ia duduk di tepi tempat tidur sahabatnya, lalu menyentuh pundak Gema. "Lo baik-baik aja?" Gema tak menjawab. Bukan apa-apa, suaranya pasti akan terdengar aneh karena saat ini ia telanjur menangis. Hingga tak lama, Abizar memasuki kamar putranya dan langsung dihadapkan pada raut bingung teman-teman Gema. "Ada apa ini?" tanyanya kemudian. "Gema ...." Septian menjawab ragu. Merasa tak mendapatkan jawaban memuaskan, Abizar memilih mendekati putranya langsung. Sementara Septian menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk ayah sahabatnya itu. "Ge, kamu kenapa?" Tak disangka Gema tiba-tiba bangun dan memeluk Abizar, menyembunyikan wajahnya di d**a bidang sang ayah. Malu menyadari pipinya sudah basah oleh air mata. "Daddy, kaki aku sakit. Mau dilepas dulu rasanya." Abizar balas memeluk Gema sembari mengusap-usap kepala anak itu. "Daddy udah bilang, enggak usah dipijat segala. Kita bisa langsung ke rumah sakit biar semuanya lebih jelas, tapi kamu ngeyel." Yang paling terkejut di sana tentu saja Rossa. Ia tidak menyangka ada anak 16 tahun--laki-laki--yang masih menangis karena sakit, dan bisa bersikap semanja itu pada ayahnya. Sungguh ini pertama kalinya Rossa menyaksikan pemandangan seperti itu. Rasa sesak menyeruak hebat. Rossa merindukan ayahnya sekarang. Laki-laki berkacamata itu melepas pelukan putranya, lalu menyeka bulir-bulir air mata yang membasahi pipi Gema. "Jangan nangis, malu sama teman-teman kamu." Bibir Gema mengerucut. Ia melirik Septian, Galuh, dan Rossa bergantian. "Awas kalau kalian bilang-bilang sama yang lain. Galuh jangan bawel. Kalau teman-teman sekelas tahu berarti dari lo. Dan seandainya itu terjadi, gue enggak mau duduk sebangku sama lo lagi," ancamnya. Jujur Galuh ingin tertawa saat ini juga. Gema bertingkah terlalu kekanakan. Namun ia mengurungkan niatnya mengingat Gema sedang sakit. "Harusnya tadi gue foto dulu sebelum lo bilang gitu. Lumayan kenang-kenangan. Kapan lagi lihat seorang Gema Raihan Athaya si striker SMA Vegas nangis." "Daddy aku dikatain," adunya meminta pembelaan. Tanpa sadar Rossa tersenyum. Gema tampak begitu menggemaskan ketika sedang bicara seperti itu. "Ya makanya jangan nangis. Besok kita ke rumah sakit. Daddy janji akan melakukan apa pun biar kaki kamu sembuh lagi." *** Tangisnya pecah sesaat setelah menyadari kesuciannya terampas oleh pria mengerikan yang kini terkapar di jok belakang. Bau alkohol menguar tajam membuat lelaki itu tampak semakin menjijikan. Dengan tubuh gemetar Kiara memunguti pakaiannya, mengenakan kembali, lalu keluar dari mobil. Ia tak mengingat apa pun selain perlakuan kasar laki-laki itu yang sampai membuatnya tak sadarkan diri. Marah, kecewa, jijik, melebur jadi satu. Kiara merasa bodoh karena tak bisa melindungi mahkotanya. Lemah karena tak sanggup lepas dari manusia tak berotak itu. Ia berjalan t*******g kaki dengan tangis yang tak juga mereda. Seluruh tubuhnya terasa sakit, tak terkecuali area sensitifnya. Lebih sakit lagi hatinya. Apa yang harus Kiara katakan pada orang tuanya nanti? Bagaimana caranya ia menjelaskan pada calon suaminya bahwa ia sudah tak memiliki apa pun lagi untuk dibanggakan? Kiara menjerit meluapkan kemarahannya. Gelap tak mampu mengikis rasa sedihnya, tak juga membuat perempuan itu takut menyusuri kelamnya. Ia lebih takut menghadapi orang tuanya. "Ayah, Ibu, maafkan Kia."  Lagi, perempuan itu menangis mengingat kepahitan belasan tahun lalu. Semua masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana hari itu menjadi awal kehancurannya. Namun, hari yang paling dibencinya hingga sekarang adalah hari di mana anak dari pria menjijikan itu dilahirkan. Meskipun Kiara berkali-kali mencoba melenyapkannya, anak itu tetap hidup dan lahir tanpa kurang suatu apa pun. Kiara memilih pergi, meninggalkan bayi laki-laki yang tak pernah diinginkannya. Berharap bayi itu mati saja setelahnya. Ia bahkan tak sempat menghadiahkan sebuah nama untuknya. Entahlah keputusannya kembali ke Jakarta saat ini benar atau salah. Kiara hanya merindukan ibunya yang mungkin sudah mulai menua dan butuh seseorang di sampingnya. Supir taksi yang sedari tadi menyadari penumpangnya menangis jadi sedikit segan untuk memberitahu bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Namun akhirnya ia memberanikan diri bicara. "Bu, maaf kita sudah sampai." Buru-buru Kiara menyeka air matanya. "Oh, iya," sahutnya. Setelah membayar, ia langsung turun. Bangunan megah yang didominasi warna putih langsung memanjakan netranya. Berkali-kali ia mengehela napas panjang, berusaha melenyapkan rasa gugupnya. "Semoga ini bukan kesalahan." *** Gema duduk bersandar pada kepala tempat tidur, sementara netranya terkunci pada laki-laki yang kini berbaring di sebelahnya. Daddy, begitu Gema memanggilnya. Ponsel sang ayah yang menyala dalam genggamannya memperlihatkan foto kedua orang tuanya. Gema sekarang mengerti, selain dirinya, ada yang jauh lebih merindukan sosok itu. Dalam diam Gema memuji kecantikan ibunya. Perempuan secantik itu pasti hatinya pun seperti malaikat.  Pandangannya menerawang. Ada kekosongan dalam dirinya yang sulit dijelaskan. Meskipun ia tak pernah kekurangan kucuran kasih sayang dari sang ayah, tetapi tetap saja ada rasa kehilangan yang dalam. Daddy pasti kangen sama Mommy. Aku enggak boleh cengeng, manja, dan nyusahin Daddy, ucapnya dalam hati. Diliriknya sang ayah lagi yang terlihat gusar, kemudian berusaha menenangkan dengan mengusap bahunya dan menyeka keringatnya. "Sst ... Daddy tidur lagi," katanya pelan.  "Ge, kenapa belum tidur?" Gema cukup terkejut mendengar suara ayahnya yang terlalu tiba-tiba. Bersamaan dengan itu kedua netranya beradu dengan milik sang ayah. "Daddy gerak-gerak terus tidurnya, mimpi buruk, ya?" "Daddy tanya, Ge." "Belum ngantuk, Dad." "Harusnya kamu membangunkan Daddy, supaya ada teman." Anak itu menggeleng. "Daddy pasti capek." Abizar mengucek matanya beberapa kali, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Sini tidur dekat Daddy." Tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan sang ayah. Gema lantas berbaring, menjadikan lengan kukuh ayahnya sebagai bantal. "Daddy." "Hm?" "Kalau misalkan aku dilahirkan bukan sebagai putra Daddy, apa Allah bakal kasih aku ayah sebaik Daddy?" "Kenapa tidak? Allah tidak akan menitipkan seorang anak pada orang yang salah." "Tapi, di luar sana banyak yang dibuang, Dad? Enggak sedikit juga orang tua yang enggak sayang sama anaknya. Aku beruntung dilahirkan dari orang tua seperti Daddy dan Mommy. Walaupun belum sempat ketemu Mommy, aku yakin kalau cinta Mommy buat aku enggak beda jauh sama cinta yang udah Daddy kasih buat aku." Abizar meneguk ludahnya. Mulutnya mendadak pahit mendengar penuturan Gema. Perutnya seperti dipelintir hingga membuat asam lambungnya naik. Cinta? Bahkan Gema berkali-kali nyaris dilenyapkan ketika masih dalam kandungan, dengan dalih ketidaksengajaan. Namun, Abizar tentu tak ingin melukai hati putranya dengan mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya kalimat yang terucap hanyalah kebohongan. "Iya, Mommy sangat mencintai kamu." |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN