Sebentar lagi malam. Naura memegang bola lampu ditangannya, sambil menatap ke atas, tepatnya ke arah lampu kamarnya yang tidak mau menyala.
"Minta bantuan Tuan Aril, kayaknya dia nggak bakal mau. Dia pasti juga capek karena baru pulang dari kantor," guman Naura. Sepertinya memang harus ia sendiri yang mengganti bola lampu kamarnya.
Wanita itu meletakkan bola lampu yang ia pegang di nakas. Ia keluar kamar lalu pergi ke gudang untuk mengambil tangga lipat.
Aril yang sedang menonton televisi di ruang tengah, sedikit terganggu saat mendengar suara besi beradu dengan lantai. Itu adalah suara tangga yang dibawa Naura. Karena agak berat mengangkatnya, wanita itu akhirnya menyeret tangga yang terbuat dari aluminium tersebut.
Aril yang penasaran suara apa itu, lantas pergi ke belakang.
Naura meletakkan tangga di bawah lampu kamarnya. Menarik napas panjang, ia lalu mulai menaikan kakinya ke tangga tersebut. Tangannya terlihat bergetar, Naura tidak bisa manjat tangga seperti ini.
"Jangan takut, Naura," guman wanita itu. Naura terus manjat lebih tinggi, tangannya lalu menjangkau lampu kamarnya.
"Naura!" teriak Aril di ambang pintu kamar, sedikit terkejut melihat apa yang dilalukan Naura.
Naura menoleh ke belakang, membuat keseimbangannya hilang sehingga menyebabkan tangga tersebut sedikit bergoyang. Aril dengan cepat berlari dan memegang tangga tersebut.
Naura menghembuskan napas lega. Hampir saja dirinya jatuh.
"Turun!" perintah Aril. Naura menurut.
"Kamu ngapain, sih, manjat-manjat? Kalau jatuh nanti saya yang repot dan kena marah sama mama!" bentak Aril.
"Maaf, Tuan. Saya cuma mau ganti lampu kamar. Lampunya gak mau nyala," ucap Naura.
Aril menoleh ke atas. "Biar saya yang ganti, pegangin tangganya." Aril merebut lampu yang ada ditangan Naura lalu mulai memanjat, sedangkan Naura memegangi tangga agar tidak goyang.
"Aww. Tuan, tangan saya keinjak," jerit Naura, membuat Aril yang sedang menuruni tangga terhenti dan menoleh ke bawah. Pria itu mengangkat sebelah kakinya, Naura lalu menyingkirkan tangannya.
"Makanya yang bener peganginnya," omel pria itu. Setelah kedua kakinya menginjak lantai, Aril memperhatikan Naura yang kini menunduk sambil menatap tangannya.
"Sini, coba saya lihat!" Aril menggenggam tangan Naura, lalu meniupnya. Hal itu membuat wanita tersebut mengerjap beberapa kali, tidak menyangka dengan yang dilakukan pria itu.
Naura mematung, menatap wajah Aril yang kini fokus meniup jarinya. Hatinya berdesir melihat perhatian pria itu. Andai setiap hari pria itu bisa seperti ini dan tidak memarahinya.
Melihat Naura yang kini mematung menatapnya, membuat Aril sadar dengan apa yang ia lakukan. Jangan sampai Naura mengira kalau ia telah peduli pada wanita itu. "Obatin sendiri, lagian itu salah kamu ngapain tarok tangan di bawah kaki saya."
Baru saja Naura dibuat bahagia, tetapi hatinya sudah dibuat patah lagi. Bunyi handphone membuat perhatian mereka berdua teralihakan. Aril mengeluarkan benda berbentuk kotak itu dari saku celananya.
Hati Naura makin pilu saat tak sengaja melihat nama yang tertera di handphone Aril, Valerina–kekasih suaminya.
Aril bergegas keluar dari kamar Naura dan pergi ke teras samping, menjawab panggilan dari kekasihnya.
"Hallo, Sayang," sapa Aril.
Naura mengintip di balik pintu. Aril terlihat bahagia sekali berbicara dengan kekasihnya. Caira bening itu seketika keluar dari pelupuk mata Naura kala melihat Aril tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun Aril jarang padanya.
"Tuan Aril sangat mencintai kekasihnya. Aku merasa bersalah karena nggak bisa bayar hutang ke Mama Sandra, sehingga membuat Tuan Aril harus tersiksa karena pernikahan ini. Bagaimana jika nanti kekasihnya telah kembali dari luar negeri dan tahu tentang pernikahan kami? Dia pasti akan meninggalkan Tuan Aril dan Tuan Aril pasti akan merasa sangat sedih," batin Naura. Akan ada dua kemungkinan, Valerina yang meninggalkan Aril karena merasa dihianati, atau Aril yang akan meninggalkan Naura demi bisa bersama dengan Valerina.
***
Bunyi deringan handphone mengusik tidur Aril. Pria itu melirik ke jam beker menunjukkan pukul tiga pagi. Siapa yang menghubunginya di pagi buta ini?
"Bi Nur," guman Aril menatap nama yang tertwra di layar handphone-nya, mendadak perasaannya jadi kurang enak. "Hallo, Bik."
"Tuan, Nyonya drop. Sekarang bibi lagi di ambulans dan menuju ke rumah sakit," ucap Bi Nur di seberang sana. Nada suaranya terdengar sangat khawatir. Sesaat Aril lupa caranya bernapas, Ia kaget sekaligus cemas pada mamanya.
"Saya akan segera nyusul ke sana, Bik." Aril memutuskan sambungan telepon lalu bergegas mencari kunci mobilnya. Pria itu berlari ke kamar Naura dan menggedor-gedor pintunya.
"Naura, cepat keluar!"
Naura membuka pintu. Wanita itu mengucek-ngucek matanya. "Ada apa, Tuan?"
"Mama drop. Ikut saya ke rumah sakit."
Mata Naura terbelalak. Tanpa banyak bicara, Aril langsung menarik tangan wanita itu berlari ke luar rumah.
***
Aril dan Naura berlari menuju ke ruangan ICU. Jantung Aril berdebar kencang saat mendengar mamanya sampai masuk ke ruangan itu.
"Gimana kondisi mama, Bik?" tanya Aril pada Bi Nur.
"Nyonya masih ditangani sama dokter, Tuan." Tadi sebelum Bu Sandra dibawa ke rumah sakit, Bi Nur sedang terlelap di kamarnya. Mendengar teriakan Bu Sandra sambil menggedor pintu kamarnya Bi Nur terbangun . Saat membuka pintu, Bi Nur kaget melihat Bu Sandra terduduk di depan kamarnya sambil memegang d**a. Bi Nur pun tadi langsung menelepon ambulans.
Melalui jendela kaca, Aril menatap mamanya kini sedang ditangani oleh dokter. Udara di sekitarnya terasa sulit dihirup. Mata pria itu memerah, terlihat banyak kekhawatiran di sana. Ia sangat cemas memikirkan mamanya.
Entah sudah berapa jam Bu Sandra di dalam ruangan itu, Aril tidak menghitungnya. Tidak lama kemudian dokter keluar.
"Bagaimana kondisi mama saya, Dok?" tanya Aril.
"Nyawa pasien diambang hidup dan mati. Kondisi saat ini sangat kritis sehingga dia harus dirawat di ruangan ICU."
Napas Aril sesak, badannya terasa lemas. Naura yang berdiri di samping Aril, menangis. Satu-satunya orang tua yang ia punya adalah Bu Sandra, jangan sampai Tuhan memanggilnya.
"Saya pengen masuk, Dok," mohon Aril yang ingin masuk ke ruangan ICU untuk melihat mamanya.
"Maaf, saat ini kami belum bisa mengizinkan masuk. Keluarga pasien hanya bisa melihat dari luar," jawab Dokter.
***
Aril terduduk di bangku yang ada di depan ruang ICU. Pria itu menunduk sambil memegang keningnya. Naura duduk di samping Aril. Ia dapat mendengar isakan keluar dari mulut pria itu.
Naura memegang pundak pria itu. "Nyonya pasti akan baik-baik aja, Tuan. Kita harus banyak berdoa," tutur Naura.
***
Sudah dua hari Bu Sandra berada di ruangan ICU. Dokter sudah mengizinkan keluarganya untuk masuk, tetapi terbatas, cukup dua atau tiga orang. Dan di sana juga ada dokter yang menemani. Wanita paruh baya itu memang membutuhkan pengawasan yang ketat.
"Mama, ini Aril. Buka mata mama." Tangis Aril pecah, tak kuasa melihat mamanya yang terbaring lemah.
"Please, Mah. Jangan bikin Aril takut," ucap pria itu. Naura yang juga berada di ruangan ICU, tak kuasa menahan air matanya.
"A ...ril ...." Aril dan Naura dibuat terdiam mendengar suara itu. Mereka berdua menatap intes ke Bu Sandra.
Jari wanita paruh baya itu bergerak. Perlahan-lahan matanya mulai terbuka, membuat senyuman lega terukir di wajah Aril dan Naura.
"Aril di sini, Mah. Di sini juga ada Naura. Kita berdua akan selalu menjaga mama. Mama cepat sehat supaya kita bisa cepat pulang ke rumah," ucap Aril.
"Mama ... udah nggak kuat, Nak. Mama ingin pulang," lirih Bu Sandra dengan napas berat.
"Nanti kita pulang, setelah kondisi mama pulih," balas Aril. Namun, sepertinya pria itu salah mengartikan perkataan mamanya.
"Naura ...," panggil Bu Sandra.
"Iya, Mah," jawab Naura sambil terisak.
"Mama titip Aril. Berjanjilah ... untuk selalu bersamanya. Apa pun yang terjadi jangan tinggalin dia."
"Iya, Naura janji."
"Jaga Naura, Aril. Cintai dan lindungi dia. Ini pesan terakhir mama, Nak. Setelah ini, kita nggak akan bisa bersama lagi."
"Mama jangan ngomong kayak gitu. Mama harus sembuh, Aril masih butuh mama."
Cairan bening mengalir dari pelupuk mata Bu Sandra. Ia sudah tak sanggup lagi menahan sakit di tubuhnya, mungkin sudah saatnya ia pergi. "Maafkan mama, Nak. Ikhlasin mama."
"Mama harus bertahan. Mama pasti kuat. Aril mohon bertahanlah demi Aril," mohon Aril dengan air mata semakin mengalir deras.
Bu Sandra tidak berkata lagi. Wanita itu menutup matanya dan mulai terlihat kesulitan bernapas.
"Dokter, mama saya kenapa?" tanya Aril histeris.
Perawat menyuruh Aril dan Naura keluar. Kedua insan itu hanya dapat melihat Bu Sandra melalui jendela kaca. Di dalam ruangan itu, Dokter dan beberapa perawat kini tengah berusaha menolong Bu Sandra.
"Detak jantung pasien melemah, Dok," ucap Suster. Dokter tersebut mengangguk, ia menyalakan alat defribrilator.
Di luar sana Aril dan Naura tak hentinya berdoa agar Bu Sandra bisa bertahan dan selamat. Terlihat di dalam sana Dokter menempelkan alat defribrilator ke d**a Bu Sandra.
Akan tetapi, tiba-tiba alat patien monitor menunjukkan garis lurus. Itu artinya nyawa Bu Sandra tidak dapat di tolong lagi, wanita itu sudah menghembuskan napas terakhirnya.
"Catat tanggal dan waktunya," ucap Dokter.
Mata Aril dan Naura sedikit terbelalak ketika melihat perawat di dalam sana mulai melepas alat-alat yang melekat di tubuh Bu Sandra.
Dokter keluar dari ruangan itu.
"Dokter, mama saya kenapa?" tanya Aril dengan nada keras.
"Kami para tenaga medis sudah berusaha semampu kamu. Akan tetapi, Tuhan berkhendak lain. Ibu anda sudah kembali ke sang Pencipta."
"Nggak mungkin!" teriak Aril sambil geleng-geleng kepala. Ia lalu berlari masuk ke ruangan itu. Naura mengikutinya.
"Mama, bangun! Jangan tinggalin Aril, Mah! Aril masih butuh mama. Aril masih ingin lihat mama sembuh dan bahagia. BANGUN, MAH!" teriak Aril sambil mengguncang tubuh mamanya. Pria itu menangis histeris. Masih banyak mimpi mamanya yang belum ia wujudkan, tetapi wanita itu sudah pergi meninggalkannya.
'Tuhan, kenapa Engkau mengambil Mama Sandra secepat ini? Cuma dia satu-satunya orang tua yang hamba punya,' batin Naura.
Naura memegang pundak Aril. "Sabar, Tuan. Nyonya udah tenang sekarang, dia tidak akan merasakan sakit lagi," ucap Naura, mencoba mengurangi kesedihan Aril. Naura mengerti, pasti berat selama ini Bu Sandra melawan penyakit jantungnya.
~Bersambung