Carla pun hanya mampu menghela napas panjang. Kerap kali dia amati Raymond dari jauh dari balik kacamata hitamnya, hingga dia abaikan percakapan dengan teman-temannya yang berada di sekelilingnya. Carla benar-benar terpesona dengan Raymond. Raymond tampan, bersahaja, dan tenang. Selama hampir dua bulan bekerja, Carla seakan mendapat energi penuh setiap kali melihat Raymond. Dia kerahkan segala tenaga dan pikirannya demi kesenangan dan kebahagiaan Raymond, yaitu keuntungan yang berlipat-lipat dalam bisnis perusahaannya. Carla sudah tahu apa yang menjadi hasrat Raymond dalam menjalankan bisnisnya. Carla menyesalkan momen berduaan dengan Raymond di kamarnya beberapa malam lalu. Menyesal kenapa tidak dia akui saja posisi yang sebenarnya dia inginkan, yaitu menjadi teman dekat atau bahkan men

