Salah Paham

575 Kata
*Zzzrrttt… Zzzrrrttt. Getaran handphone dari balik tas selepang kecil milik Olivia [“Hallo sahabatku”] ucap Nesia setelah Olivia mengangkat panggilan telfon darinya [“Nesia, sebentar”] Olivia segera menjauhi keramaian pesta ["Livi, jadi kan nanti menginap di tempatku saat ujian. Aku ingin kita berlajar bersama"] ["Jadi. Aku akan izin pada ibu nanti"] ["Baguslah. Tapi kenapa kau berbicara dengan nada tinggi"] ["Iya. Disini sedang diadakan pesta"] ["Oh acara penyambutan anak nyonya mu itu ya"] ["Iya"] [“Livi, sebenarnya aku ingin cerita nanti saat kita bertemu, tapi rasanya aku tidak bisa mengontrol mulutku lagi”] [“Ahaha…. Biar ku tebak. Apa seseorang menyatakan perasaannya padamu?”] [“Oh!”] [“Benarkan aku”] teriak Olivia girang [“Kau memang sahabat sejatiku Olivia”] [“Aku tahu dari ungahan mu tadi sore”] [“Apa kau tahu temannya kakakku Gio?”] Percakapan kedua sahabat itu begitu asik hingga membuat keduanya lupa waktu dan tentu saja Aron yang sedang bercanda gurai masih menatap dari kejauhan ~~~ “Livi…” panggil bu Nana ["Nesia, aku kembali dulu. Nanti cerita lagi. Oke?”] Olivia segera mematikan tanpa menunggu balasan Nesia “Iya bibi” Semua pekerja laki-laki dan perempuan di kediaman ini dipanggilnya paman dan bibi “Tolong bantu paman Yudi menyiapkan kembali winenya” “Baik bibi” Olivia menurut “Setelah ini kau istirahat saja nak. Sudah terlalu malam” ucap Yudi khawatir. Waktu menunjukan pukul sembilan malam “Aish. Paman. Ini kali pertama Livi mengadiri sebuah pesta. Biarkan Livi menikmatinya sebentar lagi” “Baiklah. Paman tidak akan merepotkanmu lagi setelah kita menyiapkan minuman-minuman ini” “Iya paman” *Nothing’s gonna change my love for you You oughta know by now how much i love you The world may change my whole life through Sebuah instrumen dari lagu milik George Benson memenuhi area itu ~~~ "Ugh" suara pekikan Olivia. Seseorang bertubuh besar baru saja menabraknya dan hampir membuatnya kehilangan keseimbangan "Apa kau buta? Apa kau tidak melihat aku yang sebesar ini di hadapanmu?" "Suara ini?" duga Olivia dalam hatinya "Maaf tuan, saya tidak memperhatikan sekeliling" ucap Olivia saat menyadari orang yang membuatnya kesakitan adalah tuan muda Aron Setelah Aron puas membuatnya malu karena semua mata dengan sinis tertuju pada Olivia, ia segera pergi meninggalkannya. “Untung aku tidak sedang memegang minuman di tanganku” ucap Olivia lega. Tentu saja akan panjang urusannya bila Olivia menumpahkan minum-minuman mahal koleksi tuan Rudi Bramansya, entah Olivia benar atau salah. Dengan penuh kekesalan dan rasa malu, Olivia langsung meninggalkan acara tersebut dan memilih duduk di taman belakang tempat biasa ia menunggu ibunya setelah merawat bunga-bunga nyonya Widia. ~~~ Angin yang berhembus kini masuk melalui serat-serat baju dan menusuk hingga ke pori-pori kulit tubuh wanita cantik itu Anehnya, malam yang semakin dingin masih belum bisa meredakan panas hati yang dirasakan Olivia akibat pertikaian kecil yang terjadi antara dirinya dan Aron “Apa dia tidak mengenaliku hingga bersikap kasar seperti tadi? Apa salahnya menegur dengan lembut” Celoteh Olivia setelah berada sendirian di taman “Padahal aku sedang diam saja tadi” “Bukannya malah dia yang menabrakku? "Apa dia sengaja?" Ocehan Olivia yang terus berlanjut “Sudahlah. Dia kan tuan rumah disini. Aku bahkan tak berhak untuk marah” “Padahal aku sempat berpikir dia akan mendatangiku dan menyapa dengan lembut seperti dulu” "Sepertinya itu pemikiran yang sia-sia" pungkas Olivia kecewa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN