Kinar mencoba mengenyahkan rasa malunya, Kinar keluar kamar untuk menemui sang Bunda. Dilihatnya sang Bunda sedang menata makan siang. “Masak apa nih, Bun?” tanya Kinar basa basi untuk menutupi rasa canggungnya. “Eh anak Bunda sudah bangun rupanya, capek banget ya sampai baru bangun?” Kinar menggaruk kepala bagian belakangnya yang padahal tidak gatal sama sekali. “gak apa apa, Bunda ngerti kok. Oh iya, nak Pras kemana? Tapi Bunda jadi bingung nih mau nawarin sarapan atau makan siang ya ngomongnya?” Bunda nampak memutar bola matanya ke atas. “Emang kenapa, Bun?” tanyak Kinar tidak paham dengan maksud sang Bunda. “Kan ini sudah siang, tapi kalian juga belum sarapan. Jadi gimana nih enaknya, ngajak sarapan atau makan siang?” goda Bunda sambil menyenggol lengan Kinar. “Apaan sih, Bun. Sam

