70. Permata Punya Ayah

1001 Kata

"Ngapain kamu?" "Astaghfirullah ... mama ngagetin aja." Damar protes. "Kalau kepo, ya ikut ngobrol, sana. Bukannya malah nguping di sini." "Enggak mau. Lagian siapa juga yang kepo? Biasa aja tuh!" kilah Damar sambil kembali ke kursi ruang tengah dan langsung sibuk memainkan ponsel pintarnya. Fani menggeleng pelan kemudian abai dan pergi ke ruang tamu. Duduk di samping suaminya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." "Itu kedua orang tua saya," ujar Zean ketika melihat ayah dan ibu berdiri di depan pintu Semua yang ada di ruangan itu pun berdiri dan menyambut tamu. "Silakan masuk, Pak Ilyasa dan Ibu," ujar Darwin yang baru beberapa saat yang lalu tahu bahwa Zean ternyata anak dari rekan bisnisnya. Selama ini ia kenal hanya sebatas profesional kerja. Tidak pernah mengurusi atau seked

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN