Zean dan Binar menikmati sarapan bersama anak mereka. Meski tengah marah, Binar tetap melaksanakan tugasnya sebagai ibu dan istri. Zean menatap wanita yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini lebih banyak diam. Raut wajah tampak datar, mata fokus menatap piring tanpa sekalipun melihat padanya. Zean terus berpikir, mencoba mencari cara untuk membuat sang istri mau bicara. Ingatan akan kejadian hari sebelumnya muncul dalam benak. Ingat betul bagaimana semua itu berawal darinya. Padahal sebelum istri tidak pernah seperti ini mesti ia pulang terlambat karena terjebak dalam rapat yang tak kunjung selesai. Cukup sekali mengirim pesan permintaan maaf, semuanya selesai. Malam tadi Zean hampir saja tidur di luar jika Permata tidak meminta mereka untuk tidur bersama. "Ata habiskan makananny

