92. Diabaikan Permata

1001 Kata

"Aku bawa mobil sendiri aja, ya, Mas?! "Gak usah, Sayang. Mas yang antar aja." "Jauh loh, Mas." "Gak apa-apa. Ayo!" Zean menuntun tangan sang istri keluar dari kamar. "Ayah sama Bunda mau kerja?" Permata bertanya ketika melihat kedua orangtua sudah berpakaian rapi. Zean menghampiri lalu berjongkok di depan putrinya. "Iya, Sayang. Ata gak apa-apa 'kan sama eyang dulu?! Insya Allah nanti sore ayah jemput Ata." "Iya, Ayah. Gak apa-apa. Tapi nanti ayah bawain Ata oleh-oleh," balas Permata. "Oke. Ata mau oleh-oleh apa?" Zean bertanya. "Mau dedek bayi. 'Kan Ayah udah bilang mau kasih Ata dedek bayi." Zean menepuk kening. Mengira Permata sudah lupa akan hal itu. Tetapi ternyata, tidak. "Iya, tapi gak sekarang, Sayang." "Kapan, Ayah? Zean menghela napas panjang. Sejenak berpikir, mencar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN