"Abang! Raisa laper, abang ada masak nggak?" teriaknya menuruni tangga. "Abang, Rai—'' Ucapannya putus karena empat mata menatapnya dengan seringaian. Keheningan menyelimuti mereka bertiga hanya ada suara dari televisi permainan football. Yuda menaruh stik PSnya. "Bang sepertinya udah malam aku pulang dulu, ya," pamitnya tanpa menoleh pada Raisa yang masih dengan posisi mangap terkejut mendapati Yuda masih di rumahnya. "Eh, kok pulang, kita kan belum selesai.'' "Besok lanjut lagi, bang." Raisa memilih masuk ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dia melihat mie instans dalam laci lantas menghidupkan api untuk merebus mie. Hati boleh galau tapi perut harus tetap diisi. "Kok enggak dibagi-bagi, sih." Fairuz melenggang masuk, merebut sendok di tangan Raisa yang hendak menya

