- CLUE -

1096 Kata
Aku baru keluar dari ruangan itu beberapa menit setelah raja keluar. Begitu banyak yang kupikirkan hingga rasanya kepalaku sangat pening. Aku lurus berjalan menuju istanaku sendiri tanpa mempedulikan siapa pun yang memberi salam padaku. Termasuk Andreas yang menyusulku di belakang dan terus memanggilku. Seharusnya sedari awal memang aku tidak boleh percaya padanya. Di sini tidak ada orang yang benar-benar tunduk pada Rafael, meskipun derajat Rafael jauh lebih tinggi dibandingkan dia. Arabella pun aku yakin sama saja. Meskipun gadis itu berkata bahwa dia mencintai Rafael, dia akan tetap dekat dan membicarakan banyak hal pada pria lain seperti selama ini. “Aku lelah hari ini. Kalau ada yang ingin dibicarakan, silakan temui aku besok di ruang kerjaku.” Ucapku sebelum menutup pintu kamar. “Baik, Yang Mulia Putera Mahkota.” Jawab Andreas yang kudengar sayup dari luar kamar. Ku buka bajuku yang ternyata cukup berlapis-lapis ini. Baru setelah itu kurebahkan badanku di atas kasur. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan. Padahal sebelum ke mari aku juga sudah cukup lelah dengan tugas-tugas kuliah yang bagaikan gunung. Eh, terlempar ke sini harus capek lagi karena urusan cinta-cintaan dan negara. Saking lelahnya, aku langsung terlelap dan masuk ke alam mimpi. Dalam mimpiku, aku mendengar dua orang saling mengobrol di dekatku. Ada dua orang di sekitarku, namun hanya satu orang yang suaranya ku kenal. “Besok bakal ada scene pagi yang kita tunggu. Kita wajib pantengin, nih!” kata suara perempuan yang ku kira adalah adikku. “Semoga saja kali ini kita berhasil.” kata suara yang satunya. “Aamiin… kalau gagal lagi, sia-sia aja pengorbanan Kak Afel.” tanggap adikku. Pengorbanan? Apa yang ku korbankan? Ingin rasanya aku membuka mataku untuk bertanya, tetapi rasanya seperti ada sesuatu yang berat menghalangi. Sementara itu, pembicaraan mereka berlanjut ke arah yang semakin tidak ku pahami. “Aku udah ceritain semuanya ke Kak Afel, sih. Dia itu memang jenius banget. Walau pun di sistem bakal agak nge-lag, aku berharap banget sedikit-sedikit dia bakal ingat.” ujar Jihan. “Jujur aku takut banget. Aku khawatir kakak kamu gak ingat sama Kak ---bzzzzzttttt--- maid---- bzzzzttt--- NPC…” Suara noise mengaburkan obrolan mereka berdua. Gangguan itu terus terjadi. Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud. Mereka berkata ada sesuatu yang harus aku ingat, tapi apa? Tiba-tiba, suara noise itu berhenti. Tidak hanya noise, suara obrolan adikku dan rekannya juga menghilang. Bersamaan dengan itu, entah kenapa tubuhku menjadi terasa nyaman seperti ada yang menyelimuti tubuhku dengan kain yang sejuk. Setelah itu, aku kembali terlelap dengan harap bahwa saat aku membuka mata, pengalamanku hari ini hanyalah mimpi. * Esok paginya... Di titik ini, terpaksa harus kuterima bahwa saat ini benar-benar dilempar ke dunia lain seperti di komik, novel, dan anime yang teman-temanku baca. Kalau aku bisa kembali dan aku bercerita pada mereka dengan membawa bukti, pasti mereka semua akan iri. Tapi, itu kasus kalau aku masuk ke dunia ini dengan ‘ritual pemanggilan’. Karena setelah misi utama sukses, aku bisa dipulangkan dengan ritual yang lain. Sayangnya, saat aku datang tidak ada ritual apa pun. Artinya, bisa jadi aku datang ke dunia ini karena reinkarnasi atau bisa juga transmigrasi. Kalau Rafael T’ Danique adalah reinkarnasiku, mungkin di dunia sebelumnya aku sudah mati. Tetapi sungguh, aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku mati. Memikirkan hal itu, tanpa sadar satu jam telah berlalu sejak aku membuka mata. Dari sela-sela jendela, cahaya mentari pagi menyorot dengan menyilaukan. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar. Saat itulah aku tersadar dari lamunanku. “Yang Mulia, hamba Hilda. Hamba membawakan air untuk mencuci wajah.” kata suara perempuan yang mengaku bernama Hilda itu. Mendengar nama itu, sebuah ingatan terlintas di kepala ku. Ini mengenai obrolan adikku dan rekannya di dalam mimpiku semalam. Yah… aku tidak tahu itu mimpi atau bukan, tetapi bisa saja itu adalah petunjuk. “Masuk!” perintahku sambil membukakan kunci pintu kamar. Begitu pintu terbuka, seorang gadis berambut biru laut muncul dari sana. Kepangan rambut sepinggang dan bando berenda di kepalanya, terlihat begitu cocok dengan wajahnya yang elegan. Seragam pelayan istana berwarna monokrom yang begitu pas di tubuhnya membuatnya justru terlihat semakin anggun. Satu persatu ingatan tentang gadis ini pun bermunculan. Dia adalah Hilda N’ Nina, pelayan pribadi pangeran mahkota yang serba tahu dan sahabat dekat Arabella. Dia lah yang memberi informasi pada Arabella tentang keberadaanku maupun target lainnya. Dia juga bisa tahu seberapa besar ketertarikan para target pada Arabella. Bukankah itu kemampuan yang ajaib? “Selamat pagi, Yang Mulia Putera Mahkota. Kami membawakan air untuk mencuci wajah, handuk dan baju ganti.” ucap Hilda sambil menundukkan pandangannya agar tidak bertemu dengan pandanganku. “Taruh saja di meja biasanya. Aku akan membersihkan tubuhku sendiri. Kalian keluarlah dulu.” perintahku. Dia beserta dua orang pelayan lainnya menaruh apa yang mereka bawa di tempat ‘biasanya’. Jujur saja aku sendiri tidak tahu dimana ‘biasanya’ itu, karena itu ku biarkan saja mereka meletakan di tempat yang mereka pikir ku maksudkan. “Kalau begitu, kami undur diri dulu. Mohon panggil kami jika ada yang Pangeran perlukan lagi.” Aku mengangguk tanpa menyuarakan jawabanku. Tetapi dengan itu, Hilda dan yang lain sudah paham bahwa itu tandanya mereka harus keluar segera. Mereka kemudian keluar dari kamarku dengan wajah yang nampak lega. Pelayan putera mahkota tidak dipilih secara sembarangan. Mereka diseleksi dengan begitu ketat dimulai dari keterampilannya, personalitas, tingkah laku, hingga latar belakang keluarga mereka. Setiap pelayan istana tidak hanya harus memiliki kemampuan secara fisik, namun juga kecerdasan. Begitu pula Hilda N’ Nina, pelayan pribadiku yang bertugas untuk mempersiapkan segala keperluanku di pagi hari. Meskipun statusnya adalah sebagai pelayan, Hilda adalah puteri dari Count Nina. Count Nina memiliki tiga orang anak dengan urutan puteri, putera, dan puteri. Hilda merupakan puteri terakhir keluarga itu, sehingga tanggung jawabnya di keluarga Count tidak terlalu besar. Berdasarkan tradisi bangsawan di kerajaan ini, satu-satunya putera di keluarga itu jelas akan menjadi pewaris yang akan meneruskan Keluarga Nina. Kemudian puteri pertama akan menikah secara politik dengan kepala keluarga bangsawan yang lebih tinggi derajatnya. Dan puteri kedua bisa lebih bebas, atau lebih istilah tepatnya untuk Hilda adalah tidak terurus. Posisinya di keluarga mungkin tidak begitu menguntungkan. Namun bisa saja itu menjadi celah untuk lebih bebas. Kalau masih waras, siapa pula yang mau menikah terpaksa. Dalam game Hilda selalu tersenyum senang saat bekerja maupun berkomunikasi dengan Arabella. Jadi, ada kemungkinan juga Hilda menganggap bahwa istana adalah kehidupan bebasnya. Selain itu, kelihatannya Hilda adalah orang yang cukup memiliki kredibilitas. Dia dipercaya banyak orang, termasuk sang raja. Buktinya dia berhasil masuk ke istana sebagai pelayan pribadi Rafael. Bisa berada di dekat keluarga kerajaan sudah pasti adalah sebuah prestasi. Tapi, apakah dia juga bisa menjadi orang yang kupercaya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN