“Di sini?” tanya Hilda. “Mh…” Afel mengangguk. “Tapi, saya mana kuat, Yang Mulia? Haah… hah…” Afel tidak peduli alasan apa pun yang Hilda katakan. Bagaimanapun lelahnya gadis itu dan seberapapun banyaknya peluh yang mengucur darinya, Afel terus memaksanya untuk menuruti perintahnya. “Ini hukuman untuk kamu. Salah siapa berani menjebakku.” ujar pria itu dengan seringai di wajahnya. “Ah…” Hilda mendesah sehingga membuat senyum Afel semakin lebar. ‘Plak! Plak! Plak!’ Meskipun enggan, Hilda pun memulai aksinya. Bagaimanapun dialah yang merasa paling bersalah, sehingga dia harus dihukum agar membuat Afel senang dan bisa memaafkannya. “Ayo dong, percepat lagi! Jangan lelet!” seru Afel semakin memaksa. Berkali-kali gadis itu membuang napasnya. Siapa yang sangka Hilda akan diperlakukan be

