Chapter 4 Kamu Bukan Tipe Aku

1785 Kata
Begitu tiba di Jakarta, Selin dan Satria langsung pergi ke rumah orang tua Satria. Yang artinya, Selin akan bertemu Pak Sandi. Pak Sandi! Pimpinan perusahaannya. Dia sebenarnya sangat mengagumi sosok Pak Sandi. Beliau yang menjadi motivasi Selin bekerja keras selama ini. Cita-citanya untuk bisa berfoto dengan Pak Sandi menjadikan Selin berusaha keras menjadi staf berprestasi. Lalu sekarang pria itu menjadi mertuanya. Lucu sekali. Bahkan meski sangat mengagumi beliau, Selin tidak akan mau menjadi menantunya dengan cara konyol seperti ini. Entah seperti apa pria itu nanti akan memandang Selin. Mobil yang ditumpangi Selin melewati gerbang berukuran besar dengan ukiran perpaduan warna hitam keemasan. Dari gerbang yang begitu mewah hingga tembok menjulang tinggi saja, Selin sudah bisa menerka akan semewah apa rumah ini. Sial, Satria benar-benar orang kaya. Apakah ini saatnya Selin bersyukur? Dia memang pernah berharap menikahi suami kaya supaya tidak perlu repot-repot bekerja. Harapan itu muncul saat dirinya begadang berhari-hari lembur mengejar deadline campaign acara. Tentu saja hanya harapan sekilas yang tidak terlalu serius dibawa dalam doa. Yang sekarang justru menjadi nyata dengan cara paling tidak masuk akal bagi Selin. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya saat melihat taman luas yang dipenuhi pohon bonsai beraneka bentuk indah. Harganya pasti mahal. Inget, Selin! Ini cuma satu tahun. Selin berusaha mencamkan fakta itu dalam benaknya. Ia harus ingat betul kesepakatan yang dibuat dengan Satria. Alphard itu berhenti. Setelah melintasi jalanan yang disekelilingnya merupakan taman. Selin jamin jarak dari gerbang ke pintu rumah jauh lebih luas dibanding total luas rumah Selin di desa. Kalau jalan kaki berapa lama ya kira-kira sampainya? Satria melepaskan sabuk pengaman dan Selin mengikut. Ia membuka pintu mobil dan kemudian terperangah melihat taman di depan. Nampak gerbang di kejauhan. Sepertinya kalau mau upacara di taman itu bisa. Bermain bola dalam rangka perayaan kemerdekaan Indonesia juga sepertinya bisa. “Jangan gugup. Dibawa santai saja. Papa nggak marah,” ucap Satria. Selin langsung kembali fokus pada lelaki itu yang kini sudah berada di sebelahnya. Nggak marah? Selin justru berharap pria yang dikaguminya itu marah. Siapa tahu dengan titah Pak Sandi, Selin bisa langsung cerai saat ini juga dengan Satria. Sungguh tidak apa-apa. Ia juga sama sekali tidak takut kalau Pak Sandi marah. Justru Selin merasa malu harus berhadapan dengan situasi konyol begitu. Entah akan seperti apa Pak Sandi nanti bersikap kepadanya sebagai menantu. “Selamat datang, Den Satria. Bapak sudah menunggu,” ucap seorang asisten rumah tangga. Yang berbicara hanya satu namun tepatnya ada tiga orang asisten perempuan yang saat ini sedang menyambut kedatangan mereka. Selin terkagum-kagum melihat bangunan yang warna cat didominasi putih ini. Dari luar saja kemewahannya begitu jelas. Kemewahan yang elegan. Sebisa mungkin Selin berusaha terlihat tidak terlalu norak dengan memperhatikan terlalu sering. Ia menyembunyikan kekagumannya pada rumah ini. Ah, tepatnya pada kekayaan suaminya. Apa Selin harus benar-benar bersyukur dan memanfaatkan momentum ini? “Terima kasih, Bi.” “Selamat datang, Non.” Tiga wanita itu tersenyum hangat. Selin pun otomatis ikut tersenyum. Mereka ramah juga. Padahal Selin jamin pakaiannya kini terlihat seperti gembel. Mereka pasti berpikir Selin terlalu beruntung bisa menikah dengan Satria. Entah mereka tahu kronologinya atau tidak. “Ayo,” ajak Satria lembut. Memasuki rumah, Selin berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya. Rumah ini.. Gilak gue nikah sama konglomerat beneran ini? Rumah dengan design Eropa klasik. Cat tembok warna putih dan interior dominan warna putih. Plaponnya menjulang tinggi di atas. Gorden yang mewah itu nampak sangat panjang. Selin jadi bertanya-tanya bagaimana cara membersihkan semua ini. Tentu tidak perlu repot berpikir karena sudah ada asisten rumah tangga. Maksud Selin adalah, bagaimana mereka bekerja di rumah sebesar dan semegah ini? Selin berusaha mengendalikan diri agar tidak terlalu mengagumi semua kemewahan yang ada. Ia cukup untuk memanfaatkan kesempatan supaya semakin semangat bekerja. Atau berusaha lebih giat supaya mendapatkan suami yang kaya raya. Well, Satria memang kaya raya namun sungguh ia ingin menikah dengan cara yang lebih romantis. Saling mencintai. Dan Selin berani jamin itu tidak akan terjadi antara dirinya dengan Satria. Dari bagaimana cara lelaki itu membuat kesepakatan dengan mengancam pemecatan saja sudah membuat Selin kesal. Mentang-mentang punya kuasa, Selin jadi dibuat tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan selain menyetujui kesepakatan itu. Sebenarnya nggak rugi-rugi juga sih kalo tajir begini. Selin mengepalkan tangannya sendiri. Berusaha untuk ingat bahwa kebebasannya terenggut oleh orang asing. Rasa kesal, marah, dan kesedihan itu seketika muncul. Menepis semua decak kagum akan kemewahan istana yang sedang dipijaknya ini. Ia langsung menoleh pada Satria. Seolah amarah menguasai dirinya kini. “Satria. Sudah datang, ya.” Suara ramah itu terdengar dan Selin mendadak grogi. Perubahan drastis yang begitu cepat mulai dari kagum pada kemewahan, kesal pada Satria, dan kini gugup karena bertemu mertua. Selin tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ini bukan hanya tentang menemui mertuanya melainkan menemui pimpinan perusahaan juga. Jika pernikahan ini hanya bertahan satu tahun, maka tidak dengan pekerjaan Selin —harapannya—. Selin tersenyum ramah kepada pria itu dan kemudian reflek salim. Pak Sandi pun tersenyum. “Kamu yang biasanya nerima penghargaan itu kan?” tanya Pak Sandi. Hati Selin membuncah bahagia karena Pak Sandi masih ingat dengannya. “Selina Thalita, Pa. Istri aku.” Satria memperkenalkannya. Selin bergidik ngeri mendengar itu. Biasanya pengenalan dimulai saat masa berpacaran dan ini, Selin dikenalkan saat sudah menjadi istri. Seharusnya ia tidak perlu heran mengingat kronologi pernikahan mereka seperti apa. Akan tetapi, tetap saja bagi Selin ini semua adalah lelucon. Ia jadi membandingkan tentang hubungan dengan lelaki yang selama ini dibayangannya dengan yang terjadi. *** Selin menghela napas seraya menatap jalanan yang dilaluinya. Ia sungguh ingin pergi dari semua keadaan ini. Pertemuan dengan Pak Sandi membuat Selin sadar bahwa ia tidak bisa lari dari masalah ini. Pria itu meminta apa barusan? Meminta Selin untuk membantu Satria bekerja di perusahaan. Caranya adalah dengan merahasiakan pernikahan ini. Sama seperti identitas Satria yang rahasia. Alias, tidak ada yang tahu kalau Satria merupakan anak Pak Sandi. Lelaki itu ternyata baru pindah setelah bekerja bertahun-tahun di luar negeri. Katanya akan segera menganntikan Pak Sandi. Akan tetapi sebelum itu, Satria akan bekerja sebagai manager. Satria bahkan masuk perusahaan melalui perekrutan terbuka tanpa surat rekomendasi dari orang dalam sekali pun. Mengingat ia anak pimpinan, tentu mudah untuk bisa langsung menjabat posisi strategis. Akan tetapi berhubung Satria punya misi, jadi ia merahasiakan identitas dan berjuang sendiri. Tentu berbekal pengalaman bekerja di luar negeri. Satria ingin membongkar kebobrokan yang selama ini disembunyikan internal perusahaan dengan rapi dan Selin harus membantu itu. Luar biasa sekali tugas pernikahannya. Itu sebabnya ia harus bertahan satu tahun. Setidaknya Satria harus berhasil dalam misi ini. “Ini kita harus banget tinggal bareng?” tanya Selin. Ia sungguh ingin kembali ke apartemennya. Tempat nyaman dimana ia bisa menikmati waktu sendirian sebebas mungkin untuk melakukan apapun. Meski tidak semewah rumah tadi, Selin berani jamin ia lebih bahagia tinggal disana. “Harus,” sahut Satria singkat. Lelaki itu mengatakan seraya memainkan ponselnya. Selin jadi teringat ponselnya yang masih mati. Ponsel itu rusak jadi Selin kehilangan akses dengan dunianya. Akan tetapi baguslah kalau begitu. Ia berpikir untuk menghindar dulu berkomunikasi dengan siapa pun. Setidaknya sampai pikirannya cukup jernih untuk memutuskan seperti apa caranya menjalani hidup sebagai istri Satria. Ia ingin bicara lagi namun supir di depan nampak melirik ke kaca. Selin lupa kalau bukan hanya dia dan Satria saja di mobil ini. Dirinya tidak ingin pembicaraannya terdengar oleh orang lain. Bisa saja kan lelaki yang sedang fokus mengemudi itu akan melaporkannya ke Pak Sandi. Jadi Selin memilih diam dan hanya menghela napas. Perjalanan itu penuh kesunyian. Selin malas bicara karena sedang kesal dengan kenyataan hidup. Sementara Satria masih sibuk dengan ponselnya. Selin tidak peduli. Sungguh yang ia inginkan sekarang hanyalah kembali ke apartemen dan menyendiri. Saat tiba di gedung apartemen lelaki itu, Selin tidak memiliki pilihan selain mengikuti langkah Satria memasuki lift. Sambil menarik koper. Laki-laki itu bahkan tidak memiliki niat membantunya. Satria juga sedang menarik kopernya namun bukankah kalau ia gentle, seharusnya juga menarikkan koper milik Selin? Selin selalu berharap memiliki suami seperti itu. Yang gentle dan memberikan perhatian. Hingga keduanya masuk lift, hanya ada kesunyian. Kini hanya mereka berdua. Jadi Selin memutuskan langsung mengutarakan yang ada di pikirannya sejak perjalanan menuju kemari. “Bisa nggak kita tinggal pisah aja? Kayak sebelum menikah. Gue mau tinggal di apartemen gue aja please. Kita jalani hidup masing-masing gitu. Please, ya.” Selin lega tadi saat tahu Satria mengajaknya tinggal di apartemen, bukan di rumah bak istana tempat Pak Sandi berada. Bisa mati kutu kalau setiap hari bertemu Pak Sandi. Rasanya sangat tertekan. Kalau di apartemen begini, bisa bebas. Jadi Selin mengajukan permintaan itu. “Suami istri mana yang pisah tempat tinggal?” tanya Satria. Selin berdecak gemas. “Suami istri yang nikahnya karena difitnah dan dipaksa,” sahutnya. Satria menghela napasnya. “Nggak bisa. Kita tetap tinggal seatap. Seperti layaknya suami istri.” Mata Selin mendelik kesal. Rasanya ingin ia menampar Satria yang terlihat begitu tenang. Apa lelaki itu suka dengan semua ini? “Nggak mau. Nggak ada jaminan gue nggak diapa-apain sama lo.” “Nggak ada jaminan juga kamu nggak ngapa-ngapain sama cowok lain kalo kita nggak tinggal bareng,” sahut Satria. Pintu lift terbuka dan lelaki itu keluar lebih dulu seraya menarik koper dengan santai. “Dih,” gumam Selin kesal. Ia langsung mengejar Satria untuk melanjutkan perbincangan tadi. “Kita cuma nikah terpaksa ya. Nggak usah larang-larang gue.” “Berarti emang bener kita harus tinggal bareng.” Satria berhenti di depan sebuah pintu. Selin juga otomatis ikut berhenti. “Password-nya 0808,” ucap Satria memberitahu. “Gue nggak mau tinggal bareng. Bisa aja lo KDRT kan? Atau perkosa gue,” ucap Selin. Ia harus waspada. Meski Satria tampan dan mapan, ia tidak tahu tabiat lelaki itu. Bagaimana kalau Satria suka main tangan? Atau paling parah bagaimana kalau Satria maniak seks? Membayangkan itu rasanya mengerikan. Selin saja tidak mau tinggal bersama temannya saat ngekost kuliah dulu. Apalagi Satria yang orang asing. Satria menyentuh angka di layar kecil di pintu dan kemudian pintu itu terbuka. “Nggak akan. Kamu bisa tendang ini kalau itu terjadi.” Satria menunjuk ke pangkal pahanya dengan gerakan mata. Membuat Selin membuka mulut terkejut. “Atau manfaatkan barang di sekitar. Buat perlawanan masak nggak bisa,” ucap Satria. Selin menjadi bergidik ngeri. Semakin khawatir dengan tipe lelaki seperti apa yang akan tinggal bersamanya. “Jangan takut, Selin. Aku nggak akan macam-macam. Nggak ada untungnya buat aku. Kita jalani hidup masing-masing disini. Kamar terpisah. Aku hanya make sure kalau Papa tiba-tiba datang kemari, beliau percaya kita tinggal bersama. Jangan buat semuanya rumit. Itu saja.” Pandangan Satria kemudian bergerak menatap dari atas hingga ke bawah tubuh Selin. Seolah sedang menilai. “Dan kamu bukan tipe aku,” imbuhnya singkat. Satria lantas melangkah masuk seraya menarik kopernya sendiri. Selin menganga di tempat. Masih tidak habis pikir hatinya menjadi tersinggung karena ucapan lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN