“Pak! Saya bener-bener nggak melakukan apapun. Sumpah! Kenapa saya jadi dituduh begini?”
Selin sudah menjelaskan dengan berbagai cara sambil menangis. Ia langsung disidang oleh warga lokal. Bukan hanya dia, lelaki itu juga disidang—di ruangan yang berbeda—. Mereka disidang secara terpisah. Selin masih cukup waras untuk tidak melakukan hal tidak senonoh apalagi di alam liar. Dan sungguh, di semak belukar dengan keadaan segelap itu bersama lelaki yang bahan tidak ia tahu namanya. Tuduhan ini benar-benar terlalu kejam. Sudah berkali-kali dirinya menjelaskan kepada warga lokal kalau ia terjatuh dan tidak sengaja mendarat dalam kondisi di atas tubuh lelaki itu. Sebenarnya lebih tepatnya ia jatuh bersama lelaki itu dalam keadaan berpelukan. Seolah saling berpegangan satu sama lain berharap bisa mengandalkan satu sama lain supaya bisa selamat.
“Pak! Tolong. Saya bener-bener nggak ngapa-ngapain. Saya aja nggak tau namanya. Ini kenapa jadi saya harus nikah. Nggak ada bukti kami berbuat tidak senonoh.”
Jika bisa kabur sekarang, sungguh ia ingin kabur saja. Masalahnya ia seorang diri dan ini sebuah pulau. Kecuali dia bisa berenang berjam-jam, maka bisa saja kabur meninggalkan pulau ini.
“Maaf ya, Mbak. Tapi sudah menjadi kebijakan disini kalau berbuat tidak baik maka harus bertanggung jawab. Pernikahan akan dilakukan sebentar lagi. Banyak saksi yang melihat, maaf posisi kalian. Itu sudah cukup menjadi bukti. Maaf, Mbak. Tolong berhenti menangis dan tolong patuhi kebijakan disini.”
Pernikahan?
Rasanya dunia Selin terguncang saat mendengar itu. Beberapa orang yang sejak tadi menyidangnya disini—di rumah Kepala Desa— memang mengatakan bahwa Selin harus menikah dengan lelaki itu. Selin pikir ia cukup mengiyakan saja dan tidak perlu benar-benar menikah. Jadi sejak tadi dirinya berusaha membersihkan nama dengan mengatakan bahwa ia benar-benar tidak melakukan apapun. Tidak terpikir oleh Selin bahwa orang-orang ini benar-benar menyiapkan pernikahan. Bayangan pernikahan yang selama ini Selin dambakan tidak seperti ini. Kalau pun ia ternyata tidak memiliki cukup uang untuk menggelar pesta mewah, setidaknya alasan menikah harus karena cinta.
“Pak..”
Selin bangkit dari kursi tempat duduknya dan tahu-tahu menjatuhkan diri ke lantai dan bersujud di depan lelaki paruh baya itu.
“Pak tolong, Pak. Saya benar-benar nggak melakukan apapun. Pak saya jujur. Saya cuma liburan disini.”
Selin mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menangis sejak tadi. Bukan hanya berharap mereka semua merasa iba dan melepaskan Selin. Juga karena ia terlalu putus asa dengan keadaan yang terasa seperti lelucon ini.
“Mbak tolong. Kami juga tidak punya pilihan lain. Setidaknya tolong bantu kami. Kami mungkin akan segera dapat bencana setelah perilaku tidak senonoh kalian.”
“Saya juga dapat bencana, Pak! Saya tertuduh disini dan saya harus menikah sama lelaki yang namanya aja saya enggak tahu. Itu bencana di hidup saya, Pak. Tolong. Saya minta maaf atas kesalahpahaman ini. Tapi saya benar-benar jatuh tadi. Saya kan sudah jelaskan, Pak.”
Selin masih bersujud dan memegang kaki lelaki itu.
Lelaki paruh baya lain nampak memasuki ruangan bersama seorang wanita.
“Semuanya sudah siap, Pak.”
Tangisan Selin belum berhenti. Bahkan semakin menjadi saat wanita itu menghampirinya.
“Mari, Mbak. Ikut saya.”
“Bu. Saya nggak ngapa-ngapain, sungguh, Tolong bantu saya.”
Selin baru teringat kalau ia sedang datang bulan. Mungkin itu bisa menjadi bahan pertimbangan.
"Pak. Bu. Saya lagi datang bulan. Bisa diperiksa. Nggak mungkin saya aneh-aneh sama cowok itu di semak-semak kalau lagi datang bulan," ujar Selin masih berusaha meyakinkan mereka. Sayangnya keputusan sudah bulat. Selin harus tetap menikah.
***
“Saya mengambil engkau, Selina Thalita untuk menjadi istri saya.”
Lelaki itu nampak menarik napas sebelum melanjutkan.
“Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang hingga selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.”
Tangan lelaki itu memegang tangan Selin tentu saja. Dengan pandangan lekat pada Selin yang menunduk dan menangis. Dibanding Selin, lelaki itu nampak lebih tenang dalam menghadapi masalah ini. Selin tadi sempat terpukau saat melihatnya mengenakan kemeja putih yang sedikit kusut. Harus Selin akui, lelaki itu tampan. Meski ada beberapa baret di wajahnya. Tentu akibat terjatuh tadi. Luka yang nampak masih baru.
Pernikahan yang terjadi dengan penuh buru-buru. Dihadiri oleh cukup banyak warga. Mungkin saja untuk memastikan Selin tidak kabur. Mereka terlalu niat untuk ukuran pernikahan semendadak ini. Semua beres dalam waktu singkat. Bahkan Selin dipaksa mengenakan gaun berwarna putih ini. Katanya supaya tidak terlalu menyedihkan di hari pernikahan. Demi apapun Selin bahkan tidak mengangggap ini pernikahan. Dirinya terus menangis sejak tadi. Sedangkan lelaki itu hanya diam namun tidak tersenyum. Mereka bahkan tidak ada berbincang sama sekali. Setelah dihampiri dalam posisi kurang etis setelah jatuh, keduanya dipisahkan dan baru dipertemukan kembali di aula desa ini. Tempat mereka menikah dini hari.
Selin sudah diarahkan untuk segera mengucap janji suci. Akan tetapi yang dilakukan hanyalah menangis.
“Cepatlah. Jangan membuat ini menjadi semakin lama,” bisik lelaki itu.
Selin langsung mendongak dan menatapnya.
Lelaki itu terlihat sangat tenang sejak tadi. Seolah yakin semuanya baik-baik saja. Selin mulai berpikir mungkin saja lelaki itu memiliki rencana untuk mengatasi semua ini, tapi tidak sempat memberitahunya. Atau justru lelaki itu senang karena menikah dengannya? Tidak ada senyuman atau sorot kebahagian. Lelaki itu nampak biasa saja dan itu membuat Selin semakin curiga. Lebih sulit menebaknya.
Tangan lelaki itu kini menggenggam tangannya. Dari yang semula hanya sekadar berpegangan saja. Terasa hangat dan membuat Selin menjadi sedikit tenang. Apapun itu, ia berharap lelaki ini sudah memiliki rencana dan bisa membawanya kabur dari tempat ini. Dari tuduhan dan pernikahan ini. Atau ada solusi terbaik lainnya. Sungguh Selin tidak ingin terjebak dalam pernikahan seperti ini.
“Saya..”
Suara Selin serak. Tentu saja. Ia menangis sejak tadi.
Ibu jari lelaki itu tiba-tiba saja membelai tangannya. Dalam kondisi mereka yang sama-sama asing, Selin bisa saja berpikir kalau lelaki itu sedang berbuat tidak sopan. Hanya saja gerakan itu bukan gerakan menggoda. Selin bisa merasakannya. Itu terasa seperti bentuk menenangkan dari lelaki itu. Usapan ringan itu seolah memberi Selin kekuatan. Entah tulus melakukannya atau tidak. Selin berpikir bahwa lelaki itu hanya ingin ini cepat selesai.
Benar, Selin harus menyelesaikannya dengan cepat. Ia menatap mata lelaki itu. Disana nampak ada sorot kemarahan. Meski terlihat tenang, Selin yakin lelaki itu juga cukup terguncang dengan kejadian tidak terduga ini. Bedanya lelaki itu bisa bersikap lebih tenang.
“Saya mengambil engkau, Satria Putra Adinata untuk menjadi suami saya.”
Selin bahkan baru tahu namanya tadi saat diberitahu oleh wanita yang mengantarnya. Ia baru tahu saat menginjakkan kaki di aula ini. Lucu sekali. Selin bahkan belum berkenalan. Jangankan berkenalan, berbincang saja tidak. Tadi setelah jatuh itu, mereka tidak berbincang kan? Ya, tidak ada perbincangan. Bagaimana bisa dunia ini begitu konyol mempermainkan Selin? Menikah dengan lelaki yang bahkan ia baru tahu namanya dan tidak pernah berbincang sama sekali. Ini benar-benar gila.
“Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang hingga selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.”
Berubah drastis dari yang tadi hanya menangis, Selin mengucapkannya dengan lantang. Ia akan mengakhiri ini dengan cepat. Setelah ini, akan Selin pastikan ia kembali ke tempat tadi dan mencari ponselnya yang entah terjatuh dimana. Memang harus mendaki bukit lagi tapi sungguh tidak masalah.
Lelaki itu —entah siapa nama panggilannya— disilahkan untuk mencium pengantin perempuan. Mata Selin langsung terbelalak dan menggelengkan kepala. Ia tidak mau. Benar-benar tidak mau. Seharusnya sudah cukup dengan mengucap janji saja mengingat alasan pernikahan mereka yang tidak masuk akal.
Selin terus menggeleng saat wajah lelaki itu mendekat. Memang tampan dan bibirnya terlihat menggoda. Hanya saja Selin benar-benar tidak rela.
Tangan kanan lelaki itu yang tadinya menggenggam tangan kiri Selin pun kini menyentuh tengkuk Selin. Seolah menahan agar Selin tidak bergerak dan tidak kemana-mana. Tangan kiri Selin yang bebas ia gunakan untuk menahan d**a lelaki itu. Masih bersikeras menunjukkan penolakan.
Hingga bibir mereka bersentuhan. Tubuh Selin terpaku, menegang, bagai disengat listrik.
Detik kemudian ia memejamkan matanya. Bukan. Bukan karena menikmati. Akan tetapi karena pingsan.