Selin berdecak saat mendengar suara ketukan pintu. Ini jam empat pagi dan Selin sedang mengejar waktu untuk packing barang-barangnya ke dalam koper. Ia akan berangkat ke Bali nanti siang. Jadi Selin tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Lalu sekarang entah apa yang membuat Satria mengetuk pintu kamarnya. Padahal baru tadi mereka di ruang tengah mengurus pekerjaan. “Masuk aja,” ucap Selin yang masih berkutat dengan pakaiannya. Ia malas bangkit dan membukakan pintu untuk lelaki itu. “Apa?” tanya Selin tanpa menoleh. Sudah tiga minggu Selin menjalani hari-hari yang sibuk. Pekerjaannya saja sudah banyak, ditambah ia harus mengurus acara di Bali, juga bersandiwara memikat Ben dan Sebastian. Rasanya kepala Selin ingin pecah. Ia benar-benar sedang sibuk-sibuknya. “Mau dibantuin ngg

