Tepat kala Pak Bayu keluar dari ruangan, hal pertama yang aku ingat adalah seseorang langsung mengambil kerah bajuku. Napas berat, emosinya bisa aku rasakan dari tangannya yang mencengkeram bajuku dengan keras.
“Aku sadar suaramu. Kamu ternyata pelakunya, Assar!” suara pria itu keras, penuh murka. Aku hanya menatapnya datar, seakan melihat dia tidak lebih daripada semut yang mencoba mengganggu manusia. Lebih tepatnya, aku memilih untuk tenang, tidak peduli dengan tuduhan dan amarah yang dia bawa dari setiap kata yang dia lontarkan.
“Mencoba menjadi ksatria kesiangan?” tanyaku datar, mata tajam menyorot figur pria itu. Beberapa pria dan wanita di ruangan itu mengelilingi kami, mata menghakimi terlihat di garis pandangku. Oh, aku rasa tidak jauh dengan masa-masa SMA. Takut, aku merasakannya, tapi ini tidak ada apa-apanya dibanding Kak Rahman kala murkanya benar-benar mengemuka. Pria itu benar-benar tidak bisa diprediksi.
“Jangan berlagak sok ya kamu. Itu komting kelas kita sendiri yang kamu buat nangis!” ucap suara salah satu pria yang aku ingat dari percakapan warung gosip tadi pagi, Pahlevi.
“Oh?” ucapku seraya memiringkan kepalaku ke kanan, mengejek. Aku melihat pria di depanku menahan emosinya untuk tidak menyambung dengan satu pukulan di wajahku.
“Apakah dengan dia menjadi komting, dia harus dilindungi dari semua marabahaya, begitu?” tanyaku sarkastis. Beberapa pria dan wanita menahan diri mereka, tangan mereka yang jelas mengepal menampilkan emosi mereka. Aku melihat ke arah Latifah, sedikit jauh dari kerumunan, begitu pula Zahra.
“Bukannya kita memang seharusnya begitu? Kita harusnya saling melindungi!” tanya Pahlevi dengan emosi. Beberapa wanita dan pria langsung memberikan afirmasi mereka, termasuk yang sedang menahan kerah bajuku ini.
Bersyukur ibu tidak di sini. Aku pastikan ibu akan membawa ini sampai ke rektorat kalau dia tahu. Hal-hal yang personal dibuat menjadi masalah bersama adalah gambaran dari kekonyolan di depan mata saat ini.
“Tangisan adalah emosi dasar manusia, melepaskan rasa sakit,” jawabku dingin, “apakah serta merta aku bersalah hanya karena aku apatis kala orang menangis?” tanyaku santai lagi, “atau kalian hanya ribut karena Latifah cantik, seperti ayu-nya karakter wanita dalam novel terlarang itu?” lanjutku dengan senyuman sinis. Aku melihat beberapa pria salah langkah mendengar kalimat itu. Aku juga melihat Latifah tidak nyaman dengan pilihan kata yang aku gunakan.
“Oh? Kenapa hening? Apa aku kena sasaran?” tanyaku santai, kala mereka tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya, yang tentunya juga disusun untuk menyudutkan. Wajah mereka memerah, seakan menahan emosi murka yang nyaris meluap di ubun-ubun. Ada serpihan ketakutan dalam benakku. Aku takut, jika siapapun pria di depanku ini mendaratkan tamparan ke wajahku. Akan tetapi, aku tidak akan menunjukkan ketakutan itu. Mereka tidak pantas melihat emosiku, apalagi emosi ketakutan.
“Tetap saja, tidak ada alasan untuk membuat seseorang menangis!” sanggah salah satu dari wanita. Aku mengembuskan napas, menyiapkan kepingan sarkasme lain untuk merusak mereka. Entahlah, dalam posisi tersudut ini membuatku ingin semakin menyiksa mereka untuk mencapai emotional breakdown.
“Bukannya kalian menangis kala tokoh-tokoh drama kalian terluka, dilukai, ditipu, dikhianati? Lalu, kenapa kalian tidak menyalahkan drama-drama itu atas air yang jatuh dari mata kalian?” sindirku lagi. Itu menjadi peluru lain yang membuat suasana itu semakin pekat. Aku bisa melihat emosi di wajah mereka semakin tajam, seakan mereka ingin melepaskan semuanya.
“Ayo. Kalian ke sini untuk menghakimi, ‘kan?” tanyaku santai.
Dan saat itu pula, aku merasakan sakit di sisi kiri wajahku. Entahlah, semoga kakakku tidak melihat ini. Jika gigiku ada yang patah, ya jelas ketahuan sih... asal dia tidak ember ke ibu saja. Aku melihat CCTV di tepi kelas setelah pukulan itu, berharap benda itu aktif dan merekam.
Dan aku kira anak kuliah lebih cerdas daripada anak SMA dan SMK. Sepertinya, ada juga yang hanya memegang akademik pada ijazahnya saja, namun sikapnya tidak sedikit pun berkembang mengikuti ilmu.
“Cukup!” teriakan itu keras, dan suara itu jelas bagiku siapa yang meneriakkan. Mengejutkan bagi mereka, tentunya. Hanya saja, aku merasa dia sangat terlambat. Sudah terjadi kerusakan dalam bentuk satu pukulan di wajah. Jika dia benar-benar tegas, dia sudah dari tadi menghentikan kekacauan ini.
“Latifah?” suara pelan itu keluar dari mulut salah satu dari mereka. Suara tidak percaya bahwa Latifah menghentikan mereka dari menghakimi diriku.
“Aku tidak meminta kalian menghakiminya. Ini sudah kelewatan! Kita mahasiswa! Kita bukan preman jalanan!” teriak Latifah. Aku hanya tersenyum sinis mendengar kalimat Latifah. Mahasiswa baru umumnya terlalu banyak membawa budaya saat di SMA.
Darah yang mengalir di bagian kepalaku mulai membuatku sedikit pening, namun aku harus meyakinkan bahwasanya aku baik-baik saja.
“Aku tidak tahu apakah kalian sadar ada CCTV di sana,” komentarku seraya menunjuk CCTV itu. Ini akan menjadi skandal begitu bocor keluar, dan jelas menjadi keteledoran kampus. Di sisi lain, aku yakin ada skandal lebih besar bersemayam di tempat ini, tetapi belum terbongkar saja. Hanya saja, aku yakin sanksi tidak akan ringan untuk masalah hari ini.
Dunia itu kejam ya.
Wajah mereka pucat pasi. Emosi mereka sepertinya terlalu meradang sebelumnya bahkan untuk membuat suatu rational judgement dan memastikan situasi di sekitar sebuah tempat seperti apa. Dan tentunya, seluruh prediksiku terjawab kala satu Profesor yang membuatku penasaran tentang prinsip yang dia anut, Prof Ayyubi, menampilkan dirinya di depan ruangan.
“Sepertinya ada yang lupa tentang etika ya,” komentar beliau datar, namun penyesalan terselip dalam setiap nada. Di sisi lain, intonasi beliau seakan menutup amarah pula. Aku mencoba tersenyum, mengurangi tampilan dari setiap luka yang terlihat. Mengelap wajahku sebisa mungkin, mengurangi efek dari pukulan keras tadi.
Sudah terlambat sih. Kemungkinan CCTV itu benar menyala, atau keributannya sudah sampai ke telinga dosen-dosen.
“Kalian semua, masuk ke kelas. Tidak boleh ada yang pulang,” komentar Prof Ayyubi dengan suara datarnya. Perintahnya jelas, melarang kami pulang.
Ada bisik-bisik di antara beberapa mahasiswa, sepertinya yang senior di ruangan ini. Bisikan yang menandakan mereka takut, seakan nyawa mereka sebentar lagi akan tiba di pemberhentian terakhir.
Pintu kelas itu dikunci, dan kami diperintahkan duduk.
“Kalian tidak merefleksikan mahasiswa kampus ini,” komentar Prof Ayyubi tersebut. Intonasinya tegas, meski tidak tinggi. Tidak ada yang berani bersuara.
“Saya ingin mendengarkan keseluruhan kronologi, kalau kalian tidak menjelaskan dengan baik, saya akan dengan senang hati melaporkan ke dekanat untuk memproses kalian semua,” ucap beliau. Ini menjadi jelek.
Zahra menjadi orang yang bersuara, memberikan kronologi secara tidak parsial. Dia menjelaskan semuanya dengan transparan, termasuk aku yang memprovokasi suasana lebih lanjut, dan bagaimana pria yang aku tidak tahu namanya itu berakhir memukulku. Dari cerita Zahra, aku temukan nama pria itu adalah Abraham Theodorus.
Setidaknya itu informasi berarti untuk saat ini.
“Semenjak saya melihat di CCTV suasana ramai itu, saya sudah punya firasat buruk. Sepertinya, saya kurang cepat datang,” ucap beliau lemah setelah penjelasan Zahra.
“Hanya gara-gara satu wanita dan semuanya menjadi seperti ini! Mahasiswa macam apa kalian ini?” suara ketus beliau menggema di ruangan itu. Aku yakin, penghuni luar juga bisa mendengar suara beliau yang naik beberapa oktaf itu.
“Baiklah. Theodorus akan dibawa ke tim investigasi kampus karena kekerasan fisik tadi. Selain itu, kalian akan saya berikan teguran lisan saja, kali ini,” ucap Prof Ayyubi dengan nada tenang, namun itu seperti serangan siang bolong bagi semua yang mendengarnya. Antara bersyukur, atau bersedih. Khusus Theodorus, dia jelas panik, dari apa yang terlukis di wajahnya.
Munafik jika teman-teman Theodorus tidak mengabaikan fakta Theodorus terancam.
Dan mereka seakan mengabaikannya, kala Prof Ayyubi lalu memberikan ceramah panjang. Tidak ada satu dari mereka yang bersuara melawan Prof Ayyubi dengan peluang Theodorus terkena sanksi akademik. Theodorus sendiri pun terdiam, seakan dia sadar itu salahnya memukulku.
Satu jam setelahnya, Prof Ayyubi akhirnya mengizinkan kami untuk keluar dari lecture hell. Semua keluar dengan tenang, tidak ada yang berbicara apapun. Prof Ayyubi telah memperjelas bahwasanya investigasi akan menjadi panjang dan bisa banyak yang terkena jika menyebar lebih luas lagi.
Tentu, kampus akan membungkan kemungkinan informasi ini menyebar keluar dari kampus. Bagi jurusan sendiri, jika sampai bocor, nama baik jurusan juga akan tercoreng.