[11] 001011: Merajut Warna

2224 Kata
Sebelum aku memberikan sanggahan, Zahra menjadi penyanggah yang menyuarakan persis apa yang aku pikirkan. “Tapi Latifah! Itu bertentangan dengan seluruh hal yang kamu pegang selama ini! Kamu sendiri barusan bilang kamu tidak bisa memiliki mentor laki-laki!” tegur Zahra tidak percaya. Latifah tidak langsung menjawab, seakan otaknya melamban setelah memberikan pernyataan itu. Lucu sekali, dari semua orang, aku bisa sependapat dengan wanita gila ini. Tapi, memang, melihat karakteristik Latifah dan bagaimana dia menolak tawaran yang aku ajukan untuk membantunya, sepertinya moral compass dia sedikit ambigu. Aku segera memberikan sambungan dari kalimat Zahra, “Zahra benar. Kamu baru saja menolak mentor laki-laki yang aku tawarkan untukmu kemarin. Aku rasa tidak masuk akal jika kamu mau menjadikan diriku sebagai mentor.” Latifah hanya hening, seakan seluruh dunia berhenti bagi dia. Hal yang pertama aku sadari, adalah titikan air yang mulai membasahi wajahnya. “Kenapa semua ini harus sulit, Ya Allah!?” keluh Latifah pelan. Dia sesenggukan, menahan emosinya. “Padahal hamba hanya ingin bisa kuliah ini berjalan lancar... apakah itu terlalu... banyak... untuk... dipinta?” tanya Latifah sesenggukan. Aku mencoba untuk tidak kehilangan pendirianku. Aku hanya menawarkan bantuan sebatas mencarikan orang, tidak ingin diriku terlalu terlibat. Aku akan memegang itu. “Latifah...,” ucap Zahra menahan tangis pula. Entahlah, mungkin hatiku terlalu batu, atau karena banyaknya pengkhianatan di masa lampau membuatku tidak mampu untuk mengerti perasaan mereka. Ya, aku hanya mengamati dan diam sementara mereka berdua memuaskan diri mereka dalam air mata. Hanya saja, aku benci dengan tatapan-tatapan menghakimi itu. Aku hanya diam, mencoba mengabaikan semua tatapan itu. Aku benci manusia setiap kali dalam situasi seperti ini. Perlu waktu sekitar sepuluh menit membiarkan mereka berdua menenangkan diri mereka. Aku menghembuskan napas berat, mencoba memulai lagi pembicaraan yang terpotong oleh interupsi tadi. Orang-orang di sekitar tampaknya tidak terlalu tertarik lagi, dilihat dari bagaimana mereka begitu saja kembali ke state of affair mereka sendiri. Dasar manusia. “Baiklah. Sudah lebih tenang?” tanyaku datar. Aku bisa memberikan nada peduli itu, tapi aku tidak tertarik. Lagipula, aku akan kembalikan satu fakta aku tidak benar-benar mengenal mereka sebelum sepekan terakhir bertemu ini. Jadi, wajar saja ‘kan untuk tidak terlalu peduli? Latifah menganggukkan kepalanya. Aku menatap kepadanya dengan tatapan datar. “Baiklah.” Aku menghembuskan napas berat, tidak ingin melanjutkan. “Tetap saja, Latifah. Aku tidak bisa. Aku bukan tipe yang bisa mengajarkan ilmuku dengan baik,” lanjutku dengan jujur. Aku tidak punya kesabaran untuk menanti seseorang bisa, aku selalu ingin semua bisa dituntaskan secepatnya. Mengajar bukanlah sesuatu yang aku sukai. Aku hanya diajarkan, dan aku menerapkan apa yang diajarkan. “Bisakah aku... mendengar alasanmu?” tanya Latifah terbata. Dari wajahnya yang sendu, aku tahu dia berharap setidaknya aku berkenan untuk mengajarkan dirinya. “Biar aku perjelas terlebih dahulu, aku tidak ada masalah denganmu sebagai individu, maupun dengan orang menyebalkan di sampingmu.” Sorotan tajam aku terima dari Zahra, namun dia paham aku sedang membuat poin dan dia tidak memberikan komentar. “Aku belum menunjukkan sedikit pun kemampuan nyataku di hadapanmu, dan kamu sudah ingin menjadikan aku sebagai gurumu? Itu membuatku heran sebenarnya, lalu-” Latifah langsung menyela kalimat itu, “Aku tahu kemampuanmu!” balas wanita itu yang membuatku sedikit terkejut. Setidaknya, aku bisa segera menyembunyikan seluruh reaksi terkejut itu sebelum terlalu nampak di wajahku. “Aku meminta sebuah penjelasan, mengingat aku tidak satu kali pun menunjukkan aku punya keahlian dalam pemrograman,” bantahku sesantai mungkin. Zahra pun melihat ke arah Latifah, seakan meminta penjelasan pula. Apa yang disembunyikan oleh Latifah sebenarnya? “Kalau aku katakan sekarang, mungkin rumormu akan beredar luas, Assar,” balas Latifah lemah. Aku menaikkan sebelah alisku, seakan menantang kalimat yang dia sembunyikan. Apa maksudnya, Latifah? “Apa maksudmu, Latifah?” tanya Zahra juga dengan reaksi sama herannya denganku. Latifah memberikan bisikan pelan kepada temannya, dan aku tidak bisa mendengarnya. Lucu sekali, aku seperti orang ketiga di sini. “Latifah benar,” komentar Zahra kepadaku. Aku menatapnya heran. Secepat itu dia berubah pikiran? “Bagaimana kalau kita mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk membicarakan ini?” tanya Zahra menawarkan. “Terserah. Jika kalian tidak sadar, sedari tadi kita juga sudah sempat jadi pusat perhatian. Aku sudah lelah dengan para pengintai yang terus menguntit percakapan kita,” komentarku datar, lalu menatap dua wanita itu, “kalian tidak punya fan club kan?” tanyaku setengah bercanda. “Fan club?” tanya mereka heran. “Lupakan,” komentarku seraya berdiri, mengisyaratkan waktunya untuk berpindah ke tempat lain dan menyelesaikan pembicaraan kami. Ya, perpustakaan kampus. Aku mendesah malas. Dari semua tempat, kenapa harus ke sini. “Taman lingkaran ini enak,” komentar Zahra. Latifah menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan. “Aku kecewa kalian justru ke daerah perpustakaan dari semua tempat,” komentarku datar. “Kamu semalas itukah?” tanya Zahra. “Hanya tidak suka ke perpustakaannya saja kok,” jawabku datar. Zahra dan Latifah tidak menyambung dengan pertanyaan atau komentar lain sebelum kami bertiga duduk di beberapa kursi yang mengelilingi sebuah meja di depan perpustakaan. “Baiklah. Ini setidaknya jauh lebih sepi, dan orang-orang tampak sibuk dengan internet mereka, bisa kita lanjutkan,” komentarku setelah menganalisis sekelilingku. “Pak Bayu memanggilku di hari senin kemarin, kamu masih ingat ‘kan?” tanya Latifah kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak punya waktu untuk peduli. Kelas selesai, dan dia meninggalkan tugas konyolnya untuk pekan ini. Aku tidak melihat dirimu keluar kelas, maupun- “Oh. Iya, Pak Bayu memintamu bertemu di ruangan beliau,” komentarku mengingat akhir perkuliahan senin kemarin. “... kehidupan. Saya akhiri kelas hari ini. Komting temui saya di ruang dosen. Selamat siang!” ucap beliau menutup kelas setelah kuliah panjang, tanpa memberi kami kesempatan untuk bertanya terkait tugas beliau. Aku mendesis mengingatnya. Padahal, ada banyak pertanyaan terkait tugas konyol itu siap aku lontarkan. Hanya saja, setelah sampai di sini, dan penjelasan Kak Rahman, mungkin tidak sekonyol yang aku duga senin itu. “Kamu tampak marah,” komentar Zahra, “terlalu terlihat di wajahmu.” “Aku kesal dia tidak memberikan kesempatan bertanya,” komentarku balik dengan jujur, “oke, apa hubungannya denganku?” tanyaku kepada Latifah. Latifah menghembuskan napas berat. “Jadi, beliau menunjukkan nilai dari hasil kuis kepadaku. Dengan kata lain, privilege yang kata Pak Bayu hanya dimiliki setiap komting kelas beliau. Nilaimu tertinggi, dan Pak Bayu memberikan komentar bahwasanya jawabanmu sangat... natural. Beliau berkata seakan kamu sudah punya terlalu banyak pengalaman dan sepertinya akan bosan dengan kelas beliau,” jelas Latifah. Aku menatap tajam, seakan ingin menguji kebenaran kalimat itu. “Bagaimana aku tahu itu bukan dustamu untuk meyakinkanku?” tanyaku balik. Latifah tampak terkejut, dan sedikit terluka mendengarnya. “Aku kira kamu percaya dengan Latifah!” balas Zahra tak terima. “Aku hanya bersedia membantu sebisaku. Sebut saja dia membuatku lengah kala dia menceritakan semua masalahnya dulu. Kali ini, aku serius dan tidak akan dipermainkan lagi,” balasku tajam. Zahra menatapku seakan menatap orang yang asing. Latifah tampak retak, tidak tahu ingin berkata apa. “Kenapa denganmu yang tampak tidak percaya siapapun ini, Assar?” tanya Zahra heran. “Aku punya alasanku,” jawabku sekenanya, “sekarang, bagaimana aku bisa memastikan itu kebenarannya?” “Kenapa kamu tidak tanya saja-” Zahra dipotong oleh Latifah yang menutup mulutnya. Wanita itu menggeleng pelan. “Jangan. Aku seharusnya mempersiapkan bukti itu,” ucap Latifah lemah. “Bukti itu?” tanyaku heran. “Nilai kuis. Aku memegangnya, dan akan aku berikan sebelum kelas besok,” jawab Latifah. Oh, jadi nilai kuis konyol itu sudah keluar ya? “Baiklah. Aku akan tentukan kamu berbohong atau tidak besok kalau begitu. Setelah aku menerima kertas itu, baru kita bicara lagi tentang negosiasi ini,” komentarku tidak goyah dari persepsiku. “Kamu masih tidak percaya!?” sanggah Zahra dengan tatapan tidak terima. “Tuhan dan data,” jawabku datar, “seorang anak teknik harus berpegang pada dua itu. Maka dari itu penting untuk memiliki dokumentasi dari pekerjaan,” komentarku lagi. Zahra masih menatap tajam kepadaku. Jika tatapan bisa membunuh, aku yakin dia merasa aku akan terbunuh oleh tatapannya. “Kalau aku bawakan bukti itu, bagaimana?” tanya Zahra lagi. “Zah!?” balas Latifah terkejut. “Oh by all means, silahkan saja. Aku hanya mau bernegosiasi setelah bukti ada di depan mata,” komentarku tajam. Zahra berdiri, sementara Latifah mencoba menghalaunya. Mereka sempat cekcok, tapi aku tidak peduli dan akhirnya Zahra pergi meninggalkan Latifah. “Dia akan mengambil buktinya di rumah tanteku,” jawab Latifah pelan. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sebenarnya, sebagian kecil diriku sepenuhnya percaya denganmu semenjak kamu datang menawarkan kelompok. Bahkan, aku akan berteriak aku akan membantumu kala kamu meminta pertolonganku pula. Namun, itu sama saja aku mengirimkan diriku menuju suatu komitmen yang mungkin saja melukaiku lagi, seperti persahabatan-persahabatanku dahulu. “Sar, apakah aku tidak bisa dipercaya?” tanya Latifah pelan. “Kalau orang biasa, mereka tentu akan percaya saja,” jawabku datar, “hanya saja, aku bukan orang biasa.” “Ah iya, kamu ahli dalam bidang IT ini,” balas Latifah diikuti dengan kekehan pelan. Aku menggelengkan kepala. “Bukan itu. Aku memang sulit untuk percaya saja,” jawabku datar, namun penuh kejujuran dalam satu kalimat. “Namun kamu memilih membantuku sebelumnya, mencarikan mentor bukanlah perkara mudah... aku berterima kasih untuk itu,” jawab Latifah menahan haru. Aku menggelengkan kepalaku. “Aku sudah memberikan janji akan mempertimbangkan ‘kan? Aku tidak bisa mundur dari itu,” balasku jujur. “Tapi, kamu bisa saja bilang tidak ada dan selesai semuanya, ‘kan?” tanya Latifah lagi. Aku terkekeh kecil, ironinya, sudah ku lakukan. “Bukannya sudah ku lakukan? Aku tidak bisa membantu, tapi sekarang kamu menyeretku,” jawabku sekenanya. “Kamu bisa saja pergi meninggalkan kami di sana setelah menolak, apalagi kala aku menangis... kamu tidak melakukannya,” balas Latifah. “Etika umum,” jawabku sekenanya. Latifah hanya menganggukkan kepalanya, tidak membalas jawabanku dengan pasti. Aku tangkap itu sebagai persetujuan, namun sebagian kecil hatiku mengatakan dia sedang membantahku dalam diamnya. “Katakan, jika bukti itu ada di depan matamu, apakah kamu akan berubah pikiran?” tanya Latifah pelan. Aku mengembuskan napas berat. “Perkuliahan memang membosankan, tapi mengajar itu bukan preferensiku,” komentarku jujur. “Bukankah menjadi sebuah tantangan baru?” tanya Latifah lagi, mencoba membujukku. “Aku hanya masuk ke tantangan yang aku tahu bisa bermanfaat bagiku. Aku tidak melihat aku diuntungkan dari hal ini sebagai individu,” komentarku datar. Wajah Latifah menatap tajam ke arah lantai, seakan tidak bisa membantah kalimatku. “Apakah pertemuan kita ini tidak bermanfaat bagimu?” tanya Latifah pelan. Dia tampak kehilangan seluruh rasa percaya dirinya. “Aku rasa bermanfaat bagimu. Bagiku, ini hanya satu dari sekian cara membuang waktu tidak terpakai,” jawabku sekenanya. “Begitu ya...,” balas Latifah pelan. Aku melihat dia menahan titik air yang mungkin akan jatuh lagi, namun aku tidak peduli. Kami diam cukup lama, tidak ada percakapan di antara kami. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku, tentang bagaimana besok aku hadapi. Masih ada perkara angka Nol yang tidak sepenuhnya tuntas. Aku mau mencoba mencari jawaban pastinya. “Latifah!” teriakan Zahra membuatku berhenti merenungkan terkait masalah perkuliahan. Aku melihat Latifah menyambut Zahra, dan Zahra meletakkan bukti kuisku di hadapan mejaku. Sebuah huruf A tergores di sana. “Ini milikmu, dan satu-satunya yang memiliki nilai A,” komentar Zahra dengan sedikit tajam. Aku melihat tulisan tanganku, memastikan benar aku yang menulisnya. Aku juga melihat tinta yang dipakai untuk nilai A Pak Bayu, benar-benar tinta yang tidak umum. Warna merah dengan goresan khusus dan tanda tangan beliau. “Ya, ini milikku,” ucapku diikuti dengan hembusan napas berat. “Baiklah. Aku percaya kali ini,” ucapku lagi. Aku menatap tajam kepada dua wanita itu. “Aku akan tanya Zahra kali ini. Melihat sikapmu yang jelas tidak suka dengan keberadaanku, apa kamu yakin membiarkan aku menjadi mentor bagi Latifah?” tanyaku dengan datar. “Aku sebenarnya masih tidak suka denganmu, Assar, tapi aku juga mempertimbangkan situasi Latifah. Kalau ada yang lain, aku akan segera mencampakkanmu dari izin mendekati Latifah. Hanya saja, sejauh ini hanya kamu yang Latifah percayakan,” Zahra menjelaskan panjang lebar. “Langsung ke poinnya saja,” ucapku mulai muak. “Tidak sabaran, ish. Iya iya,” balas Zahra kesal, “baiklah. Aku kali ini bersedia, tapi aku juga ikut belajar kalau begitu, supaya kamu tidak punya ide macam-macam dengan Latifah.” “Oh?” tanyaku seraya memiringkan kepalanya. Sepertinya dia tipe wanita yang tidak terlalu percaya dengan pria pada umumnya. Seakan semuanya pria yang salah, oh ya, pria selalu salah. Terserah. “Aku tidak peduli. Berarti, kalian berdua jadi mentee ku ya mulai hari ini. Mau belajar kapan?” tanyaku lagi. “Kamis pagi bagaimana?” tanya Latifah, “shift kami malam, bukan siang.” “Baiklah. Aku juga tidak ada agenda wajib itu. Jam 10 bagaimana?” tanyaku lagi. “Tidak kesiangan?” tanya Zahra, berpikir. “Tidak apa. Jam 10,” jawab Latifah. Zahra ikut mengangguk, tampak pasrah. “Kalau begitu kita punya kesepakatan. Aku lebih suka semua dicatat, setidaknya ada bukti kemudian hari,” komentarku seraya membuat catatan dan meminta email mereka. Mereka memberikan email kampus mereka. “Aku minta konfirmasi kalian, setiap hari rabu. Cek email kalian. Kalau kalian tidak bisa datang, bilang tidak supaya waktuku tidak tersia-siakan. Kalian juga bisa cek aku bisa atau tidak di sana,” komentarku lagi. “Aku pulang dulu, Assalamu’alaikum,” ucapku mengakhiri pembicaraan dan langsung beranjak pergi. Tidak ada dari mereka yang menghentikanku, dan hanya menjawab salamku sebelum membiarkanku pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN