[9] 001001: Merajut Rasa

1023 Kata
“Jujur, aku terkejut waktu dengar kamu ngajak aku bikin Studio jadi bendahara. Tak kira Rahman lagi dalam fantasi waktu itu. Jujur gak percaya,” komentar seorang wanita. “Sama, pas kamu bilang temanmu carikan sekretaris dan berlatar hukum aku juga gak percaya. Padahal aku lagi putus asa cari kerjaan,” balas suara wanita yang lain. “Saya sebenarnya justru bingung kenapa ditawarkan begitu,” tambah suara seorang pria. “Halah, kalian ini,” komentar Kak Rahman sementara aku dan kakakku mengambil tempat duduk kami. Kehadiran kami seakan memecah percakapan di antara beberapa pria dan wanita di ruangan itu. Ada dua wajah yang familiar di mataku: dua asisten sewaktu Pengantar Teknologi Komputer. “Ini siapa, Rahman?” tanya wanita dengan pakaian serba pink bertanya kepada kakakku. “Oh? Dia adikku. Dia di sini akan ikut tapi mungkin bisa dikatakan setara intern lah, dan hanya kalau dia gak kuliah saja seperti Rasyid dan Mutiara. Mungkin kalau sudah pengalaman bisa ikut juga di tim utama kelak. Sar, kamu kenalan dulu sana!” perintah kakakku. “Perkenalkan, nama saya Assar. Saya saat ini kuliah di semester 1,” ucapku se-cryptic mungkin dan seformal mungkin. Dua asisten itu sepertinya tidak mengenaliku saat ini. “Baiklah. Sekarang gantian kenalan ya,” ucap Kak Rahman kepada teman-temannya dan mereka semua saling memperkenalkan diri. Kak Rahman memperkenalkan diri terakhir dan setelah itu mereka membicarakan ide bisnis mereka. Aku tidak terlalu banyak mengerti percakapan mereka, dan jujur, melelahkan. Meskipun demikian, aku juga berkontribusi sedikit terkait diskusi mereka dengan keterbatasan pengetahuanku. Aku benci terlihat bodoh, sehingga aku memilih lebih banyak diam. Kalau begini, kenapa tidak aku tolak saja ya? [Assar]: Izin tidak hadir. Kakak datang ke kota. Harus dampingi dia urusan di kota. Oh ya, alasan kabur dari senior. Setidaknya aku tidak berbohong kali ini. “Baiklah, sepertinya cukup ya untuk hari ini. Senin kita mulai kerja di sini dari jam 8 pagi ya semuanya!” ucap Kak Rahman yang menyadarkanku dari seluruh kejenuhanku. “Sudah selesai?” gumamku pelan. Tidak ada yang mendengar sepertinya. “Assar! Ayo!” ucap Kak Rahman mengajakku pulang. “Kamu terlihat jenuh tadi sepanjang penjelasan. Ada apa sebenarnya, Assar?” tanya kakakku kala kami mengendarai sepeda motor kembali ke apartemen. “Tidak apa. Nggak konek saja. Level pembicaraan kalian jauh melebihi kemampuanku, Kak,” jawabku. Kak Rahman melontarkan pertanyaan yang mengejutkanku. “Kamu hadir untuk lari dari kegiatan nyeleneh himpunan kan?” tanya Kak Rahman kepadaku. Aku tidak menjawab. “Yup! Benar sepertinya ya. Santai saja, aku dukung kok kalau kamu gak ikut,” jawab Kak Rahman lagi seraya menepuk pundakku. “Kakak gak bercanda, ‘kan?” tanyaku hati-hati. “Ya iyalah. Gak perlu ikut. Kamu punya caramu sendiri,” jawab kakakku dengan santai. “Oh ya, kakak mulai besok tidak lagi di unitmu. Kakak sewa unit sendiri. Pernah ‘kan kakak bilang ke keluarga kalau kakak gak ingin jadi beban kalau sudah kerja? Ya ini yang ingin kakak tunjukkan. Kakak tidak ingin menyulitkan siapapun,” komentar kakakku setelah kami tiba. “Bagaimana kakak ke tempat kerja?” tanyaku kepada kakakku. “Jalan kaki,” jawabnya enteng. Aku memicingkan mata. Dia malas olahraga, dan aku ragu dia akan tiba-tiba rajin. “Kalau malas tinggal pesan ojek toh?” lanjutnya lagi. “Oke,” jawabku sekenanya. “Temanku yang sedang Tugas Akhir dengan Prof Ayyubi itu katanya bisa asal di bayar. Sebenarnya aku gak enak tawarin ke dia, tapi dia kemarin mau cari part-time karena ekonomi keluarga. Kasihan sih,” komentar kakakku kala kami turun dari motor. “Begini saja. Aku yang bayar ke dia, tapi tanya dulu temanmu dia mau gak kalau cowok dan non. Takutnya nanti gak cocok lagi. Di angkatanku yang cewek gak ada yang benar-benar jago kecuali satu, tapi dia sudah sibuk kerja dan gak punya waktu buat tutor,” jelas kakakku lagi. Latifah tidak pernah meminta batasan sih.... “Seharusnya tidak masalah. Namun karena kakak membicarakannya... aku tanyakan dulu,” komentarku pasrah. Aku malas memulai percakapan. [Assar]: Aku ada orang yang bisa bantu tutor kamu. Cowok, non. “Aku numpang ya Ahad ini. Senin sudah ilang kok,” ucap Kak Rahman. Aku hanya menganggukkan kepala. Aku juga menyempatkan diri, sebencinya aku dengan wanita bernama Zahra itu. [Assar]: Zahra, Latifah ada masalah keluarga ya? Kak Rahman meninggalkan apartemen untuk urusan pribadinya, katanya. Entahlah, aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikir kakakku itu. Dia bukanlah tertua, namun sikapnya memang selalu aneh sendiri di keluarga. Sebuah pesan masuk ke ponselku, membubarkanku dengan segala pikiran yang berkecamuk. Nama Latifah muncul di depan ponselku. [Latifah]: Aku sebenarnya ragu sih... apa nggak ada mungkin yang muslim? Atau gak bisa kalau cewek sekalian? [Assar]: Tidak ada. [Latifah]: Aku tidak tahu, Sar.... [Assar]: Semua tergantung kamu, Latifah. Aku tidak bisa menentukan apapun untukmu. [Latifah]: Aku kabari begitu aku membuat keputusan. Aku menghembuskan napas berat. “Terserah lah. Ribet memang manusia. Dikasih bantuan masih saja berpikir dua kali,” komentarku kesal. Aku menutup mataku, sebelum dentingan lain masuk. [Zahra]: Apaan? Latifah baik-baik saja kok. [Assar]: Aku bertanya serius. Latifah cerita semuanya. [Zahra]: Kamu bohong! Mana mungkin Latifah percaya dengan orang sepertimu! Kalian saja belum sepekan kenalan! Aku ingin tersenyum membaca ironi dalam pesan Zahra. Latifah sendiri mengatakan dia tidak mengerti kenapa dia percaya, tapi dia tetap saja memberikan informasi itu. [Assar]: Jawab dengan jujur. [Zahra]: Dia cerita sejauh apa? [Assar]: Oh, langsung kooperatif? [Zahra]: Aku biasanya membantah langsung, tapi mengingat kamu ini orang yang apatis tinggi, aku yakin setidaknya pembicaraanmu selalu ada keseriusan. [Assar]: Oh, saya tersanjung. [Zahra]: Langsung ke poinnya! [Assar]: Tentang materai. Kamu tahu ‘kan materai yang mana? [Zahra]: Serius!? [Assar]: Mungkin karena dia tidak tahu kemana dia bisa berpegang? Lagipula, dia harus menjaga prestasinya di sini. [Zahra]: ... aku merasa gagal sebagai teman. [Assar]: Aku tidak bisa menilai. [Zahra]: Semua di materai itu benar. Tidak ada kebohongan. [Assar]: Baiklah. Tetap saja, kalimat Zahra tidak memberikanku sedikit pun jaminan. Seharusnya, aku menjadi tenang dengan semua ini, tapi kenapa aku masih merasa ada yang janggal?  “Atau mungkin perkara lain? Entahlah,” komentarku mencoba menyederhanakan rasa janggal dalam diriku. Jam menunjukkan angka 11 malam, dan Kak Rahman sepertinya tidak akan datang dalam waktu dekat. Aku memutuskan untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN