[15] 001111: Baju Merah

1570 Kata
Aku menyantap menu di tempat itu dengan wajah datar. Tempat ini bukan hal baru, mengingat Kak Rahman sering mengajakku makan di sini setiap kali aku berlibur ke kota ini. Namun, berbeda bagi Ismail, Latifah, dan Zahra. Mereka tampak bahagia, seakan mendapatkan surga dunia. “Kalau begitu, mending mereka diajak makan saja. Obrolan sambil makan itu santai namun bisa berkesan,” komentar Kak Rahman seraya mengeluarkan beberapa lembaran merah dari dompetnya. “Tapi Kak-” “Hush, gak ada tapi. Kamu ajak mereka tempat makan enak. Setauku di salah satu AYCE di Antariksa ada promo buat anggota. Yang biasanya aku ajak kamu makan.” “Tapi-” “Gak ada tapi ‘kan kata kakak?” Aku menggerutu kesal mendengarnya. Dia memaksa dengan keras, pasti ada maksud tersendiri. “Sebenarnya kenapa kakak mau traktir mereka?” “Kalau bagi kakak ya, katamu mereka bertiga mau dengar versimu. Aku mau apresiasi mereka masih mendengarkanmu.” “Dua dari tiganya perempuan yang terlibat.” “Oh? Gak masalah sih. Sana pergi. Kakak mau urusan lagi setelah ini.” “Kamu kok dari tadi kek merenung gitu?” tanya Ismail di sampingku, “makananmu saja lagi, ini kami sudah babak kedua makan.” “Nggak, memikirkan motif kakakku saja. Dia tidak bisa ditebak,” jawabku datar. Aku mengembuskan napas berat. “Mahasiswa sih senang ditraktir. Kok kamu malah mikirin jauh-jauh sih?” tanya Ismail heran, menghentikan makannya sejenak. “Kebiasaan. Karakter di novel yang k*****a ada yang bilang kalau ‘manusia itu muka dan belakangnya tidak sesederhana yang terlihat’, jadi aku mencoba memikirkan apa yang kakakku sebenarnya inginkan,” jawabku datar. Aku mulai mengambil makananku dan menelannya, mencoba menerima pemberian ini. “Oh ya, soal novel itu, kok kamu suka banget sih baca novel itu. Bukannya itu novel gak bagus buat remaja katanya?” tanya Zahra setelah menelan makanannya. “Dia terlalu tajam mengkritisinya. Banyak hal-hal yang gak masuk akal tapi juga masuk akal,” komentarku datar. Zahra menaikkan alisnya. “Maksudnya?” “Kek misal satu karakternya ngomong kalau ‘sejarah itu ditulis oleh pemenang’, ‘kebohongan tidak akan menjadi kebohongan kala menjadi kebenaran’ dan semacamnya,” komentarku lagi. “Penulisnya sudah dicap lho. Aku heran kok bisa kamu masih punya salinan,” komentar Zahra lagi. Dia lalu menelan makanan berikutnya. Keluargaku tidak sesederhana terlihatnya kok, Zahra. Lebih baik jangan terlalu mengenalku. Bahkan keluarga ku punya dokumen-dokumen yang orang awam akan kaget jika tahu aku pegang. “Mungkin salinan bajakan?” tanya Latifah pelan. “Tidak. Ini salinan asli,” komentarku datar. “Kamu gak bawa novelnya?” tanya Ismail seraya menelan makanannya. “Bawa, tapi lagi malas, dan benda itu ‘kan berbahaya,” jawabku sekenanya, seraya menyorot ke pelanggan lain di sekitar, yang sepertinya sibuk dengan urusan mereka sendiri, “kita sedang makan,” lanjutku. Mereka berdua menganggukkan kepala dan percakapan seakan mati bersama itu. Kami semua makan dengan tenang, menikmati makanan yang ada di sana. Aku hanya mengambil sedikit, sementara teman-temanku itu sepertinya memuaskan nafsu mereka makan di tempat mahal ini. Ya tidak salah sih. “Itu sudah piring ke berapa?” tanyaku kepada Latifah yang baru kembali setelah mengambil sekumpulan makanan. “Ini yang kedua, hehe,” ucapnya malu. Aku melihat sedikit rona merah di wajahnya. Aku hanya menganggukkan kepala. “Zahra lho sudah ketiga,” komentar Ismail dengan santainya, seakan meremehkan Latifah. “Ismail sendiri sudah lima kali itu! Kamu gak kenyang!?” balas Zahra tidak terima. Dia sepertinya merasa tersinggung. Aku tidak terlalu paham dinamika perasaan, tetapi ini momen yang menarik. “Perutku ruang kosongnya banyak. Kapan lagi makan mewah?” tanya Ismail dengan senyumannya. Aku menggelengkan kepala sementara Ismail dan Zahra mulai berargumen. Aku melihat ke Latifah yang duduk di seberang. Dia menikmati makanan itu dengan bahagia. Aku menutup mataku, mencukupkan pandangan itu. Entahlah, ada sedikit semu di wajahku melihatnya bahagia, namun aku abaikan. Aku adalah mentor, dan tugasku adalah mengajarkan ilmu kepada mentee. “Baiklah. Kita di sini untuk menyelesaikan cerita versiku, ‘kan?” tanyaku. Mereka menganggukkan kepala seraya terus melanjutkan makan mereka. Aku pun menceritakan cerita dari sudut pandangku secara menyeluruh, tentunya terkait kontrak Latifah, aku mencoba menutupi, namun Latifah justru memberiku izin menceritakan. “Kamu gila memancing dia sih,” komentar Zahra setelah aku selesai bercerita. Aku hanya tersenyum datar. “Aku khawatir, kamu sungguh tidak apa-apa?” tanya Latifah pelan. “Ayolah, hanya sedikit pukulan,” jawabku santai, seakan mengabaikan rasa nyeri yang ada. Lagipula, sudah terjadi. “Aku agak kesal denganmu sih, Assar,” komentar Ismail, membuat kami berfokus padanya, “tapi aku mengerti sekarang. Pada akhirnya, kamu juga hanya mencoba berbuat baik dengan caramu ‘kan?” tanya Ismail. Aku menatap dia datar, sementara hatiku berkata dia ini punya masalah menilai orang. “Aku tidak berbuat baik. Aku hanya melakukan peranku,” jawabku datar. “Peran apa? Jadi guru buat para ciwi can-” Zahra langsung memotong percakapan dengan memukul wajah Ismail. “Ah maaf, tanganku bergerak sendiri,” komentar Zahra sarkastis. “Hey! Kamu niat kan!?” balas Ismail tidak terima. “Hentikan! Peranku adalah mengajarkan ilmu untuk memastikan kalian tidak tertinggal,” jawabku datar. Dua orang itu berhenti dengan acara ribut mereka. “Oi, Latifah,” komentar Ismail kepada wanita itu, “sebenarnya kalau kamu ngomong di kelas, aku yakin banyak cowok bakal baris mau bantu kamu,” lanjutnya. “Kamu melupakan fakta Latifah buruk dalam hal mempercayai orang,” komentarku datar. Ismail menoleh ke arahku. “Maksudmu? Aku tidak-” “Apakah masalah seserius itu akan sembarangan dia beritahukan pada orang? Aku rasa tidak,” balasku datar. Aku ingin menyindir Ismail lebih jauh, tapi mencoba menahan diri. Ismail merenungi kalimat itu. “Benar sih, apalagi masalah dia serius, dan meski terdengar bodoh, juga rumit. Urusan keluarga pula,” komentar Ismail pelan. “Namun, tetap saja aku keberatan dengan sikap apatis mu, Assar,” komentar Ismail. “Lalu apa yang mau kamu sarankan, peluk dia?” komentarku datar, “habis digampar aku yang ada oleh Zahra,” lanjutku datar. Zahra tampak tidak senang dengan kalimat yang ku pakai, sementara Latifah, dia memalingkan wajahnya. “Ah iya, aku heran kenapa kamu tidak langsung digebuk-” celetuk Ismail yang dihadiahi sebuah tepukan di wajahnya. “Bodoh, kamu pengen-” Aku memotong kalimat Zahra. “Mereka tidak tertarik untuk memulai keributan. Itu, atau terlalu takut untuk menunjukkan jiwa sok pahlawan mereka saat itu. Lagipula, siapapun yang merekam Zahra, sebenarnya bisa digugat dengan UU ITE terkait pengambilan tanpa izin,” komentarku datar. Ismail bergidik ngeri mendengar kalimat UU ITE dariku. UU paling kontroversial di negeri ini semenjak UU itu ada. Apalagi, UU ini adalah senjata bagi mereka di puncak pusaran. “Oh, dan soal itu, aku sebenarnya memikirkannya. Maksudku, nama baikku tercoreng, bukankah polisi akan senang kalau mendengar UU pencemaran nama baik?” tanyaku santai. Ismail, Zahra, dan Latifah semua menatap ke arahku dengan derajat terkejut yang berbeda, namun cukup tinggi. “Seriusan!?” tanya Ismail cepat. “Iya. Aku memikirkannya. Namun, aku malas jika ibuku tahu aku harus mengurus hukum, lagi,” jawabku datar dengan kata terakhir aku bisikkan ke diriku sendiri, “aku ingin kehidupan kuliah tertutup yang normal,” lanjutku lagi. “Sebenarnya, kamu siapa, Assar?” tanya Ismail dengan sorotan tajam. “Oh? Seorang mahasiswa baru sepertimu,” jawabku datar. Ismail menggelengkan kepalanya. “Jangan bercanda. Aku tanya dengan serius, apa-” “Ibunya pemilik salah satu rumah makan baru yang ramai itu. Kamu tahu, Rumah Makan Ibu Lisa,” komentar Zahra datar dan tidak terlalu keras, namun menjawab pertanyaan Ismail. Ismail melihat ke arah Zahra tidak percaya. “Serius? Kamu gak bercanda ‘kan?” tanya Ismail tidak percaya. “Zahra tidak bohong,” ucap Latifah pelan. Ismail menatap ke arahku, meminta kepastian. “Ah, seharusnya kalian tidak bocorkan,” komentarku santai, “tapi benar. Aku anak ketiga di sana,” jawabku datar. “Anak ketiga?” tanya Ismail. “Kamu penasaran banget sih dengan siapa aku. Cukup sampai situ saja deh. Jelas aku punya kakak kalau dari jawabanku ‘kan?” tanyaku santai. Ismail melihat keenggananku, memutuskan mundur dari membahas hal tersebut. “Aku rasa aku bisa memahamimu sedikit, Assar. Jujur saja, kamu ternyata berbeda dari yang terlihat,” komentarnya. “Banyak kok di kampus itu yang aku yakin mereka anak orang kaya, hanya tidak menampilkannya,” balasku. Pelayan memberitahukan waktu kami tinggal sedikit, dan memberi kesempatan pesan terakhir, yang kami tolak karena sudah cukup makan. Lebih tepatnya, mereka sebenarnya menahan kekenyangan mereka. “Aku rasa sudah cukup menjelaskan untuk perkara aku dan Latifah. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Aku rasa Zahra jelas cukup percaya, mengingat dia saksi, sementara kamu, Ismail,” ucapku seraya menoleh ke arahnya, “bagaimana?” “Aku ... percaya dengan sisimu. Lagipula, Latifah memberikan afirmasi kebenaran dari semua kalimatmu, dan dia adalah yang dianggap korban dalam kasus ini,” komentar Ismail. “Sebenarnya, aku berpikir orang-orang ikut campur karena Latifah memang cantik,” komentar Zahra yang membuat kami menoleh ke arahnya. “Latifah, kamu tidak mengikuti informasi di kampus ‘kan?” tanya Zahra datar. Latifah menganggukkan kepala. “Kamu masuk dalam daftar cantik kampus. Bahkan, banyak komentar dari kampus lain. Mungkin itu kenapa kasus ini menjadi ramai,” komentar Zahra datar. “Dan tentu mereka berpikir aku jahat melukai bunga cantik, begitukah?” tanyaku datar. Zahra memberikan sebuah anggukan persetujuan.  “Ah konyol mereka,” komentarku malas. Seorang pelayan memberikan informasi waktu kami akan habis dalam 10 menit, dan kami pun mencukupi pembicaraan di restoran itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN