Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu mereka bertiga berjalan menuju rumah sakit yang sedang merawat Lara dan selama perjalanan Rajan masih larut dalam pikirannya dengan tatapannya kosong bahkan Barbara dan Daizen tidak ingin mengganggu teman dari putrinya yang benar-benar sedang terpukul dengan masalah ini. “Aku juga tidak tau mengapa aku terus-terusan menyalahkan diriku, tetapi aku juga masih tak bisa diam saja membiarkan masalah ini? Jujur di kepalaku rasanya aku masih terus berandai-andai bahwa seandainya aku lebih bisa melindungi Lara mungkin kami tak harus sedih seperti ini melainkan aku dan Lara sedang menikmati waktu bahagia kami dan sayangnya itu hanya mimpi saja,” batin Rajan sendu. “Bukan hal yang mudah untuk tetap tegar di saat seperti ini dan bukan saat yan

